Ratusan Mangrove Mati di Benoa, Aktivis Lingkungan Mengadu ke Menteri LH

Screenshot_20260305_184437_InCollage - Collage Maker
Perwakilan Gerakan Bersih-Bersih Bali, IGNA Agus Norman Sasono, secara langsung menyerahkan laporan penelitian dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana kepada Menteri Hanif Faisol Nurofiq. (barometerbali/red)

Barometer Bali | Denpasar – Kasus kematian ratusan pohon mangrove di kawasan Benoa kembali menjadi sorotan. Sejumlah aktivis lingkungan melaporkan persoalan tersebut langsung kepada Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq saat kunjungan kerja di Denpasar, Kamis (5/3/2026).

Warga yang berasal dari tiga organisasi lingkungan yakni Gerakan Bersih-Bersih Bali, Gasos Bali, dan Belati Bali mendatangi Menteri LH saat agenda peninjauan percontohan pengelolaan sampah berbasis sumber di Kota Denpasar. Dalam kesempatan itu, mereka menyerahkan dokumen hasil penelitian yang menunjukkan penyebab kematian mangrove.

Berita Terkait:  Beach Clean Up di Pantai Kelan Berhasil Kumpulkan 2,25 Ton Sampah

Perwakilan Gerakan Bersih-Bersih Bali, IGNA Agus Norman Sasono, secara langsung menyerahkan laporan penelitian dari Rumah Sakit Pertanian Universitas Udayana kepada Menteri Hanif Faisol Nurofiq.

Hasil kajian tersebut menyimpulkan bahwa kematian mangrove diduga kuat akibat paparan hidrokarbon yang didominasi oleh bahan bakar minyak jenis solar.
Norman mengatakan laporan tersebut langsung mendapat perhatian dari Menteri Lingkungan Hidup. Bahkan, kementerian disebut berencana menurunkan tim untuk melakukan pendalaman di lapangan.

“Kami sudah serahkan dokumen analisis dari dosen-dosen Universitas Udayana yang melakukan penelitian itu. Pak Menteri langsung memberi atensi dan kemungkinan akan turun langsung ke lokasi karena kebetulan sedang berada di Bali,” ujar Norman saat dikonfirmasi.

Berita Terkait:  Peringati HPN, PJI Bojonegoro Buktikan Pers Hadir untuk Lingkungan

Ia berharap pemerintah dapat melakukan langkah advokasi dan penanganan serius terhadap kerusakan mangrove tersebut. Menurutnya, ekosistem mangrove memiliki peran penting bagi keberlanjutan lingkungan pesisir sehingga kerusakannya harus ditindaklanjuti secara serius.

“Kami berharap ada advokasi lanjutan karena setiap kerusakan mangrove harus dipertanggungjawabkan. Mangrove itu menanamnya sulit dan tumbuhnya juga tidak mudah, jadi tidak cukup hanya ditanam kembali, tetapi juga perlu pemulihan lingkungan jika sudah tercemar,” tegasnya.

Berita Terkait:  Parta Sidak Kematian Ratusan Mangrove di Benoa, Desak Investigasi Dugaan Kebocoran Pipa BBM

Selain melapor ke Kementerian Lingkungan Hidup, kasus ini juga telah diadukan ke Polda Bali. Norman mengungkapkan pihaknya sudah mendapat informasi dari penyidik bahwa laporan tersebut sedang diproses.

Dalam laporan itu, mereka menyebut PT Pertamina Patra Niaga Jatim Bali Nusra sebagai pihak yang diduga bertanggung jawab atas kematian ratusan mangrove di kawasan Benoa. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI