Barometer Bali | Bandung – Aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan, kesamaan waktu erupsi tidak menunjukkan adanya hubungan sebab-akibat antargunung.
Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilawati, menjelaskan setiap gunung api memiliki dapur magma dan proses menuju erupsi yang berbeda.
“Kalau bahasa sederhananya, dapurnya itu masing-masing, sendiri-sendiri. Proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung lainnya juga berbeda-beda,” kata Rita kepada wartawan di Kompleks Badan Geologi, Bandung, Rabu (2/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul erupsi sejumlah gunung api pada 31 Agustus 2026, antara lain Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, serta Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur.
Aktivitas Gunung Sinabung meningkat dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga sejak 31 Agustus 2026 pukul 12.00 WIB. Kenaikan status dilakukan setelah gunung tersebut mengeluarkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak.
Sementara itu, erupsi Gunung Anak Krakatau memunculkan kekhawatiran masyarakat pesisir Banten dan Lampung terhadap potensi tsunami. PVMBG mengimbau masyarakat tetap tenang karena erupsi Anak Krakatau tidak serta-merta menimbulkan tsunami.
Gunung api yang berada di Selat Sunda itu masih berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Dalam erupsi pada 31 Agustus 2026, tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak.
Rita juga menjelaskan bahwa gempa tektonik tidak secara otomatis memicu erupsi gunung api. Dugaan keterkaitan keduanya harus dibuktikan melalui data pemantauan internal, seperti peningkatan kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, perubahan suhu, dan pelepasan gas vulkanik.
Menurutnya, posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan memiliki 127 gunung api aktif memungkinkan beberapa gunung mengalami erupsi pada hari yang sama. Kendati demikian, masing-masing gunung tetap mempunyai dinamika vulkanik yang berdiri sendiri.
“Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan pada 31 Agustus,” tegas Rita.
PVMBG mengimbau masyarakat di sekitar gunung api mengikuti rekomendasi resmi pemerintah, mematuhi batas zona bahaya, dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. (red)











