Penjaga Nalar di Tengah Riuh Bali
(In Memoriam I Wayan Suyadnya)
Oleh: Nyoman Parta
KABAR itu datang tiba-tiba, dan terasa sulit dipercaya. I Wayan Suyadnya, Pemimpin Redaksi Media Bali sekaligus Komisioner KPID Provinsi Bali, telah berpulang pada 20 Maret 2026 di RS Bali Mandara, setelah berjuang melawan penyakit jantung yang dideritanya.
Saya pertama kali mendengar kabar tentang sakitnya dari Agung Bawantara, yang sangat dekat dengannya. Tanpa banyak berpikir, saya segera berupaya melakukan apa pun yang bisa saya lakukan. Saya berkoordinasi dengan pihak RS Bali Mandara, memastikan ia mendapatkan penanganan terbaik. Itulah ikhtiar saya sebagai sahabat. Namun pada akhirnya, kita semua harus menerima bahwa ada batas yang tidak bisa dilampaui oleh manusia.
Saya mengenal Suyadnya lebih dari tiga dekade lalu. Saat itu kami masih sama-sama muda. Saya adalah aktivis mahasiswa Hindu dan GMNI di Bandung, pada masa sebelum Reformasi 1998. Sementara itu, ia telah menjadi wartawan Bali Post yang bertugas di Biro Jakarta.
Saya kerap bolak-balik Bandung–Jakarta setiap akhir pekan. Setiap kali ke Jakarta, saya selalu menyempatkan diri mampir ke kantornya, biasanya setelah sembahyang di Pura Rawamangun atau Cinere.
Kami sering bertemu, berdiskusi, berdebat, dan bertukar pikiran dengan intens. Ia bukan tipe orang yang sekadar mendengar untuk menjawab, melainkan mendengar untuk memahami. Perdebatan kami kerap tajam, tetapi selalu sehat.
Dalam salah satu perbincangan, Suyadnya pernah mengatakan bahwa suatu saat saya akan mengikuti jejak Oka Mahendra, politisi Bali yang sangat populer pada masanya. Entah itu doa atau kebetulan, kini saya duduk di Komisi III DPR RI.
Hubungan itu terus berlanjut ketika kami sama-sama kembali ke Bali. Ia menempuh jalannya sebagai jurnalis dengan ketekunan dan integritas yang tinggi. Sementara saya melanjutkan langkah sebagai aktivis yang kemudian berkiprah di dunia politik, memperjuangkan kepentingan wong cilik.
Dalam posisi yang berbeda, kami tetap bertemu dalam satu hal: kecintaan pada Bali.
Suyadnya adalah jurnalis yang sangat profesional. Ketika ia menjadikan saya sebagai narasumber, ia menuliskan pandangan saya dengan jernih dan utuh, bahkan ketika ia tidak sepakat. Di tengah dunia yang kerap terjebak dalam keberpihakan sempit, ia memilih setia pada kejujuran intelektual.
Ia berani menyampaikan pikirannya. Ia tidak takut berbeda. Namun yang membuatnya istimewa adalah caranya berbeda—tanpa merendahkan, tanpa meniadakan pandangan lain. Ia menjaga ruang dialog tetap hidup.
Dalam beberapa tahun terakhir, saya mengikuti dengan saksama catatan-catatan yang ia tulis, terutama refleksi tentang paradoks kehidupan di Bali. Tulisan-tulisannya tidak pernah meledak-ledak. Justru karena itu, ia masuk perlahan dan menetap di dalam pikiran.
Ia mengkritik banyak hal: fenomena sosial, budaya, hingga cara kita memaknai tradisi. Namun kritiknya tidak pernah kasar. Ia tidak berdiri di luar sebagai hakim. Ia mengkritik semua pihak, termasuk dirinya sendiri.
Salah satu tulisan yang paling membekas bagi saya adalah refleksinya tentang banjir yang terjadi bertepatan dengan Hari Pagerwesi, yang ia tuangkan dalam bukunya Banjir Pagerwesi. Ia menulis tentang rangkaian Saraswati, Pagerwesi, dan Tumpek Landep—tentang ilmu pengetahuan, pagar moral, dan ketajaman pikiran manusia yang menjelma menjadi teknologi.
Ia mengingatkan bahwa pikiran yang tajam tanpa pagar justru bisa melukai.
Ketika banjir datang tepat di hari Pagerwesi, ia membacanya bukan sekadar sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai teguran. Bahwa manusia Bali, yang hidup dalam kesadaran kosmis, tidak pernah benar-benar terpisah dari alam. Ketika keseimbangan dilanggar, alam akan berbicara dengan caranya sendiri.
Tulisan itu tidak menggurui. Ia mengajak kita berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan bertanya: ke mana arah pikiran kita sebenarnya?
Di situlah kekuatan Suyadnya sebagai penulis. Ia tidak memaksakan kesimpulan, tetapi membuka ruang kontemplasi.
Hari ini, ketika saya menerima kabar dari anaknya bahwa ia telah berpulang, saya merasakan kehilangan yang sangat dalam.
Saya kehilangan seorang sahabat. Seorang kawan berdebat, lawan metungkas yang dewasa dan arif. Seorang teman berpikir yang berjalan di jalannya sendiri, namun tetap berada dalam satu tujuan: mencintai Bali dengan cara yang jujur. Kami mungkin sering berbeda pandangan, tetapi justru di situlah kami saling menguatkan.
Kini, suara itu telah pergi.
Namun saya percaya, pikiran-pikiran yang ia tinggalkan tidak akan hilang. Ia akan tetap hidup dalam tulisan-tulisannya, dalam percakapan yang pernah kami lakukan, dan dalam cara kita melihat Bali ke depan.
Saya masih ingat, saat saya mengunjunginya di rumah sakit, ia bercerita tentang keinginannya menulis tiga jilid buku lagi tentang Bali. Sayang, ia pergi sebelum rencana itu terwujud.
Satu hal yang paling saya ingat adalah betapa dalam cintanya pada Bali—yang selalu bertaut dengan kegelisahannya terhadap masa depan pulau ini.
Suatu ketika ia bertanya kepada saya: sampai kapan kita menunggu “momen sempurna”? Kita terus kehilangan tanah, air, dan waktu. Waktu tidak menunggu.
Pulau ini membutuhkan tindakan sekarang—bukan untuk menjadi pahlawan di depan kamera, tetapi untuk menjadi leluhur bijak yang mewariskan bumi yang masih bernyawa.
Sebelum jatuh sakit, ia bersama Agung Bawantara beberapa kali datang ke rumah aspirasi. Ia hadir saat ayah saya meninggal, saat anak saya menikah, bahkan pernah datang dari Lombok membawa empat botol brem buatan ibunya. Hal-hal kecil seperti itulah yang justru membuatnya begitu dekat.
Selamat jalan, Bli Suyadnya. Terima kasih atas kejujuran, keberanian, dan kejernihan yang telah engkau rawat sepanjang hidupmu. Bali kehilangan satu suara penting hari ini.
Dan saya, kehilangan seorang sahabat berpikir dan berdebat. (*)










