Sipandu Beradat, Jawaban Bali atas Menjamurnya Ormas

InCollage_20250505_000728783
Petugas Sipandu Beradat (kiri) dan Gubernur Bali Wayan Koster (barometerbali/red)

Barometerbali.com | Denpasar – Ketika sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) baru mulai menjamur di Bali dengan beragam klaim sosial, budaya, hingga keamanan, Gubernur Bali Wayan Koster justru telah lebih dulu menghadirkan sebuah sistem pengamanan yang jauh lebih berakar dan legitimate, yaitu Sipandu Beradat.

Program ini bukan respons sesaat. Ia lahir dari kegelisahan mendalam atas melemahnya kontrol sosial dalam masyarakat, terutama di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang berpotensi mengikis kearifan lokal. Wayan Koster membaca gelagat zaman dan menjawabnya lewat pendekatan berbasis tradisi yang kokoh.

Melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020, Sipandu Beradat (Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat) resmi diberlakukan sebagai sistem pengamanan komunal yang menempatkan desa adat sebagai pusat kendali. Pacalang, Bendesa, dan Krama Adat diberi ruang dan kekuatan hukum untuk berkolaborasi menjaga wilayahnya bersama aparat formal seperti Satlinmas, Bhabinkamtibmas, hingga Babinsa.

Berita Terkait:  Truk Semen Terguling di Tanjakan Goa Gong Jimbaran

Program ini bukan sekadar mendapat restu lokal. Ia dikukuhkan secara nasional lewat peluncuran resmi oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Artinya, negara mengakui Sipandu Beradat sebagai bentuk nyata dari model keamanan berbasis komunitas yang sah dan efektif.

Hingga 2025, forum Sipandu Beradat telah terbentuk di 1.493 desa adat, tersebar merata di 57 kecamatan dan 9 kabupaten/kota se-Bali. Ini bukan hanya angka statistik, melainkan refleksi dari kuatnya sistem pengamanan yang berpijak pada adat, bukan dominasi kekuasaan luar.

Berita Terkait:  Bupati Adi Arnawa Terima Penghargaan Pembentukan Posbankum

Sementara ormas-ormas baru kerap kali muncul membawa agenda dan kepentingan yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai lokal Bali, Sipandu Beradat justru tumbuh dari akar masyarakat itu sendiri. Ia bukan bentukan elite luar, melainkan produk kesadaran kolektif yang difasilitasi oleh kepemimpinan Wayan Koster.

Inilah salah satu dari 44 tonggak peradaban Bali Era Baru yang dirancang Wayan Koster, menjadikan keamanan bukan milik institusi formal semata, tapi milik dan tanggung jawab bersama, yang dipimpin oleh desa adat sebagai pusat peradaban.

Berita Terkait:  Kooperasi.com dan Opang.id Jalan Baru Kebangkitan Koperasi Bali di Era Digital

Sipandu Beradat bukan hanya sistem keamanan. Ia adalah pernyataan sikap Bali, bahwa di tengah gempuran ormas-ormas baru dan potensi disintegrasi sosial, Bali tetap setia pada jati dirinya. Dan Wayan Koster melalui kebijakan ini telah menegaskan bahwa kekuatan Bali terletak bukan pada tameng luar, melainkan pada kekompakan dalam menjaga akar tradisi. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI