Barometer Bali | Tabanan – Di kawasan sakral Tanah Lot, berdiri sebuah ruang sejarah yang mulai mencuri perhatian publik: Majapahit Museum and Culture Park atau Museum Majapahit Bali. Museum ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi penanda penting keterhubungan Bali melalui Kerajaan Bedahulu dengan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, Kerajaan Majapahit.
Didirikan pada 1293 M oleh Raden Wijaya, Majapahit mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14 di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dengan dukungan Mahapatih legendaris Gajah Mada. Melalui Sumpah Palapa, Majapahit menyatukan sebagian besar wilayah Nusantara dan meletakkan fondasi politik serta peradaban yang kuat.
Memasuki akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16, kerajaan ini mengalami kemunduran dan runtuh sekitar 1527, dalam fase yang dikenal sebagai Sandyakalaning Majapahit. Namun, warisan budayanya tidak hilang. Bali menjadi salah satu wilayah utama yang menjaga kesinambungan nilai-nilai tersebut.
AR dan 20 Zona Diorama 3D
Mengusung konsep Majapahit History Adventure, museum ini menghadirkan pengalaman berbeda melalui 20 zona diorama 3D imersif berbasis teknologi digital yang mengadopsi Augmented Reality (AR).
Manajer Museum Majapahit Bali Tanah Lot, Kadek Yuliantara, menjelaskan bahwa teknologi AR membuat sejarah terasa lebih hidup.
“Majapahit History Adventure mengajak pengunjung menelusuri perjalanan peradaban Nusantara, dari Bali purba hingga kejayaan Majapahit. Dengan teknologi AR, sejarah kini hadir lebih interaktif, imersif, dan menyenangkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan 12 pilihan bahasa, museum ini dirancang ramah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk untuk kunjungan edukatif sekolah dan kegiatan korporasi.
“Kami ingin generasi milenial hingga wisatawan asing memperoleh wawasan kebangsaan melalui pengalaman yang tidak membosankan. Ini bukan sekadar melihat artefak, tetapi mengalami sejarah,” tambahnya.
Pusat Edukasi dan Penguatan Identitas
Museum Majapahit Bali memosisikan diri sebagai destinasi wisata khusus dan unik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, edukasi sejarah, serta pariwisata budaya. Visi besarnya adalah memperkuat identitas kebangsaan dan pemahaman atas sejarah panjang serta kebesaran Majapahit.
Guru SMKN 1 Tabanan, Wayan Sudarsana, yang memandu siswanya berkunjung, mengaku museum ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda.
“Anak-anak lebih mudah memahami sejarah karena disajikan secara visual dan interaktif. Mereka tidak hanya membaca buku, tetapi melihat langsung bagaimana perjalanan Majapahit dan pengaruhnya di Bali,” ungkapnya.
Ia menilai, pendekatan berbasis teknologi seperti AR efektif meningkatkan minat belajar sejarah di kalangan pelajar.
Diresmikan Bupati Tabanan
Museum ini diresmikan oleh Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya, pada Sabtu, 15 November 2025. Dalam sambutannya, Sanjaya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas hadirnya museum tersebut.
“Museum Majapahit memiliki makna strategis sebagai pusat edukasi, penelitian, serta penguatan identitas kebangsaan dan Nusantara. Ini adalah kado istimewa bagi HUT Kota Singasana ke-532,” tegasnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi mewujudkan museum tersebut sebagai ruang pembelajaran sejarah yang modern dan berdaya saing.
Museum Majapahit Bali buka setiap hari pukul 08.00–17.00 Wita. Mengunjunginya bukan sekadar wisata, melainkan perjalanan memahami jati diri Bali—bahwa di balik indahnya Tanah Lot, tersimpan sejarah besar yang membentuk Bali hingga hari ini. (rah)










