Barometer Bali | Denpasar – Dua puluh lima tahun penyelenggaraan Tri Hita Karana (THK) Awards diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pelestarian kearifan lokal Bali. Tak sekadar memberikan penghargaan kepada pelaku industri pariwisata, THK Awards kini diarahkan menjadi sebuah movement atau gerakan nyata untuk menjaga keberlanjutan Pulau Dewata.
Ketua THK Awards, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, mengatakan momentum perayaan jubileum perak atau 25 tahun THK Awards ditandai dengan pemberian Lifetime Achievement THK Awards kepada 14 hotel penerima penghargaan tertinggi tersebut. Kini, hotel-hotel itu diharapkan menjadi penggerak pelestarian Bali melalui penerapan nilai-nilai Tri Hita Karana.
“Saat perayaan jubileum perak, 25 tahun, pihak yayasan memberi Lifetime Achievement THK Awards. Kini, 14 hotel penerima awards tertinggi tersebut mulai bergerak menyelamatkan Pulau Dewata,” ujar Wisnu Wardana saat melepas Tim VI asesor THK Awards untuk melakukan asesmen di Puri Santrian, Sanur, Selasa (20/10/2026).
Puri Santrian Hotel merupakan salah satu penerima Lifetime Achievement Awards pada 2025. Pada 2026, hotel tersebut kembali menjalani penilaian sebagai bentuk evaluasi atas komitmennya dalam mengimplementasikan nilai-nilai Tri Hita Karana.
Menurut Wisnu Wardana, penyelenggaraan THK Awards harus memberikan dampak lebih luas daripada sekadar pengakuan terhadap hotel yang dinilai berhasil menerapkan prinsip keberlanjutan.
Lebih dari itu, THK Awards diharapkan mampu menggerakkan industri pariwisata untuk menjaga warisan leluhur Bali.
“THK Awards 2026 tidak sebatas pemberian penghargaan (awards), tetapi bergerak (movement) menuju penyelamatan kearifan lokal Tri Hita Karana sebagai warisan leluhur Bali yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Dalam konteks pembangunan pariwisata nasional, prinsip keberlanjutan dan penghormatan terhadap kearifan lokal sejalan dengan semangat Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Wisnu juga menekankan pentingnya menjadikan etika sebagai landasan pengembangan pariwisata Bali. Pengakuan internasional yang diterima dari UN Tourism diharapkan semakin memperkuat komitmen pariwisata Bali terhadap prinsip Global Code of Ethics for Tourism atau Kode Etik Pariwisata Dunia.
Dengan demikian, Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tetapi juga sebagai destinasi yang menjunjung tinggi nilai budaya, keberlanjutan, dan etika dalam penyelenggaraan pariwisata.
Sementara itu, General Affair Puri Santrian Hotel, AA Gde Agung Widiana, menyatakan kesiapan pihaknya menerima kunjungan tim asesor THK Awards.
“Program bagus ini harus kita dukung untuk menciptakan Bali lestari, aman dan nyaman untuk siapa saja, terutama wisatawan yang hendak menginap di hotel,” katanya melalui sambungan telepon.
Tim VI asesor THK Awards terdiri atas tiga perempuan yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing. Tim tersebut dikoordinasikan oleh Ns. Ni Putu Resiki, S.Kep., S.H., M.Si., yang sekaligus bertugas menilai aspek palemahan atau hubungan manusia dengan lingkungan.
Penilaian aspek pawongan atau hubungan antarmanusia dilakukan oleh Prof. Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, M.Hum., M.Sn., sedangkan aspek parhyangan atau hubungan manusia dengan Tuhan dinilai oleh Cokorda Istri Ratih Iryani. (red)










