Barometer Bali | Buleleng — Sebagai wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) sekaligus doa bersama bagi keharmonisan alam semesta, tiga dermawan asal Ubud, Gianyar, menggelar Upacara Pamahayu Jagat Segara Kertih di Pura Beji Segara Rupek, kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Desa Sumberklampok, Buleleng, Senin (16/2/2026).
Rangkaian upacara meliputi pacaruan, persembahyangan bersama, hingga mulang pakelem kerbau yang dipuput oleh Tri Sadaka. Kegiatan sakral ini dihadiri sejumlah pejabat dari Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Jembrana, serta umat Hindu dari berbagai daerah di Bali.
Upacara dipuput oleh tiga sulinggih (Tri Sadaka), yakni Ida Pedanda Gede Putra Dandi dari Griya Gede Tangguwisia, Buleleng; Ida Sri Begawan Sri Rastra Jaya Dharma Putra dari Griya Agung Panji Yoga Dharma Santi, Buleleng; serta Sri Begawan Rsi Buda Waisnawa Acharya Nanda dari Griya Giri Adi Bali Dwipa, Buleleng.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambrama wacana dari ketua panitia, dilanjutkan dengan pacaruan, persembahyangan bersama, serta prosesi mulang pakelem di perairan Segara Rupek.
“Upacara dipuput oleh tiga sulinggih atau Tri Sadaka. Tadi sudah dilaksanakan pecaruan dan persembahyangan bersama. Untuk pakelem menggunakan hewan kerbau (kebo), kambing, babi, itik, dan ayam. Pakelem akan dilakukan di Perairan Segara Rupek menggunakan kapal dari Pelabuhan Gilimanuk,” jelas Ngurah Mangku Panca selaku Ketua Panitia Upacara Pamahayu Jagat Segara Kertih di Pura Beji Segara Rupek.
Sementara itu, salah satu pemerakarsa sekaligus penyandang dana upacara, Jero Istri Ni Nyoman Agustini, mengungkapkan bahwa dirinya bersama keluarga mendapat pawisik terkait berbagai musibah atau wabah yang terjadi belakangan ini, sehingga tergerak melaksanakan serangkaian upacara, salah satunya Pamahayu Jagat Segara Kertih.
Upacara ini digelar di lima titik, salah satunya di ujung barat Pulau Bali yang diyakini berada di Pura Beji Segara Rupek, Desa Sumberklampok, Buleleng.
“Ini yang ketiga kami lakukan, di mana sebelumnya sudah di sisi kangin (timur), yaitu di Pantai Pura Griya Gili Selang, Seraya Kangin, Karangasem, dan di sisi kelod (selatan) di Pura Segara, Pelabuhan Benoa, Denpasar. Semua kegiatan kami lakukan dengan biaya sendiri,” bebernya.
Jero Agustini menambahkan, dalam pawisik tersebut disebutkan perlunya pekelem kerbau sebagai upaya meng-ajeg-kan kembali jagat Bali dan menangkal musibah maupun wabah.
“Jadi dengan upacaya ini kami berharap jikapun ada wabah atau musibah bisa diminimalisir, bukan untuk menyetop atau menghentikan nggih. Jika sudah kehendaknya terjadi pasti terjadi, namun tidak berdampak buruk bagi Bali,” imbuhnya.
Pendanaan kegiatan sepenuhnya berasal dari dana pribadi hasil urunan tiga dermawan, yakni Jero Istri Ni Nyoman Agustini, Jero Mangku Istri Ni Wayan Kondri, dan Jero Mangku Tapakan Pudak, yang seluruhnya berasal dari Ubud, Kabupaten Gianyar. Meski demikian, panitia tetap mempersilakan umat sedharma yang ingin memberikan dana punia guna mendukung kelancaran pelaksanaan upacara. (dika)










