Tingkat Bunuh Diri di Indonesia dan Fenomena di Bali: Sebuah Analisis

Ilustrasi seorang yang mengalami depresi akibat masalah berat yang dihadapinya sehingga mengambil jalan pintas gantung diri. (barometerbali/freepik/asiandelight/rah)

BUNUH diri menjadi salah satu gangguan ketertiban masyarakat yang menempati peringkat keempat dengan jumlah kasus terbanyak pada tahun 2024. Berdasarkan data dari aplikasi DORS SOPS Polri, sejak Januari hingga 19 Agustus 2024, terdapat 849 kasus bunuh diri yang tercatat. Permasalahan ekonomi menjadi faktor dominan di balik tindakan ini, dengan 31,91% kasus berkaitan dengan kesulitan finansial.

Statistik Kasus Bunuh Diri di Indonesia

Dalam laporan yang sama, Polri menangani 21 jenis gangguan ketertiban masyarakat, dengan total 8.393 kasus. Adapun rincian beberapa gangguan terbesar adalah:

1. Penemuan mayat – 3.184 kasus

2. Kebakaran – 1.781 kasus

3. Orang hilang – 1.019 kasus

4. Bunuh diri – 849 kasus

Dari seluruh kasus bunuh diri yang dilaporkan, 137 kasus tidak diketahui penyebabnya. Selain itu, perumahan atau pemukiman menjadi lokasi utama bunuh diri, dengan 643 kejadian, diikuti oleh perkebunan, ladang, dan perairan laut.

Tahun 2024 mencatat 852 korban bunuh diri, dengan mayoritas berusia 26–45 tahun (263 kasus). Menariknya, jumlah pelaku di bawah 17 tahun lebih tinggi dibanding kelompok usia 17–25 tahun. Dari sisi latar belakang pendidikan, lulusan SMA/sederajat mendominasi dengan 137 kasus (16,07%), meskipun sebanyak 67,84% kasus tidak memiliki data pendidikan yang jelas.

Berita Terkait:  Kodam IX/Udayana Peringati Hari Bela Negara ke-77, Teguhkan Semangat Bela Negara

Fenomena Bunuh Diri di Bali

Bali menjadi salah satu daerah dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri, pada tahun 2023, Bali mencatat 135 kasus bunuh diri, dengan tingkat 3,07 per 100.000 penduduk. Hingga November 2024, tercatat 95 kasus bunuh diri, menunjukkan sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:

1. Tekanan Ekonomi
Ketergantungan ekonomi Bali pada sektor pariwisata membuat masyarakat rentan terhadap krisis ekonomi. Pandemi Covid-19 memperburuk kondisi ini dengan banyaknya kehilangan pekerjaan.

2. Faktor Budaya dan Sosial
Dalam budaya Bali, konsep “malu” memiliki peran besar. Kegagalan ekonomi, utang, atau konflik keluarga bisa menjadi tekanan sosial yang berat, mendorong seseorang untuk memilih jalan bunuh diri.

3. Gangguan Kesehatan Mental
Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental masih rendah, ditambah dengan minimnya akses layanan kesehatan jiwa yang memadai, membuat banyak penderita depresi tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.

Berita Terkait:  Vio Sari: Jangan Biarkan Pelaku Kekerasan Terhadap Jurnalis Lolos dari Jeratan Hukum

4. Tradisi dan Spiritualitas
Dalam beberapa kasus, unsur kepercayaan spiritual atau adat dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mengakhiri hidup, meskipun ajaran Hindu di Bali pada dasarnya tidak membenarkan tindakan bunuh diri.

5. Kurangnya Dukungan Sosial
Modernisasi dan perubahan sosial menyebabkan melemahnya sistem dukungan komunitas tradisional, membuat individu merasa semakin terisolasi.

Selain itu secara umum di Indonesia, putus cinta dilaporkan sebagai salah satu faktor yang dapat memicu perilaku bunuh diri, terutama di kalangan remaja. Berdasarkan data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPAI), sekitar 80% korban bunuh diri di Indonesia adalah remaja, dengan putus cinta menjadi faktor penyebab tertinggi, diikuti oleh masalah ekonomi, keharmonisan keluarga, dan permasalahan di lingkungan sekolah.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa 4,2% siswa di Indonesia pernah berpikir untuk bunuh diri, 6,9% mahasiswa memiliki niatan untuk bunuh diri, dan 3% lainnya pernah melakukan percobaan bunuh diri.

Depresi pada remaja dapat disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah putus cinta.

Meskipun data spesifik mengenai persentase kasus bunuh diri yang disebabkan oleh putus cinta di seluruh populasi Indonesia sulit diperoleh, informasi yang ada menunjukkan bahwa faktor ini memiliki peran signifikan, terutama di yang ada menunjukkan bahwa faktor ini memiliki peran signifikan, terutama di kalangan remaja.

Berita Terkait:  Kuasa Hukum BRN: Pengeroyokan di Pasuruan Tak Lepas dari Dugaan Penadahan Mobil Rental

Penting untuk diingat bahwa data mengenai penyebab bunuh diri sering kali tidak lengkap atau kurang dilaporkan, sehingga angka sebenarnya mungkin lebih tinggi dari yang tercatat.

Langkah Pencegahan

Pencegahan bunuh diri memerlukan pendekatan holistik dan berkelanjutan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

Meningkatkan akses layanan kesehatan mental dengan menyediakan lebih banyak tenaga profesional dan fasilitas psikologis yang mudah dijangkau.

Memperkuat peran komunitas dan keluarga dalam memberikan dukungan sosial kepada individu yang mengalami tekanan mental.

Kampanye kesadaran untuk menghapus stigma terhadap gangguan kesehatan mental dan mengajak masyarakat lebih terbuka dalam membicarakan perasaan mereka.

Bunuh diri bukanlah solusi dari masalah yang dihadapi. Dengan upaya bersama, baik dari pemerintah, komunitas, maupun individu, diharapkan angka bunuh diri dapat ditekan, dan mereka yang mengalami kesulitan dapat menemukan jalan keluar yang lebih baik. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI