Tumpek Wayang, Pesan Ekologis dari Bali untuk Dunia

IMG-20260314-WA0034
Foto: Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si. (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Denpasar – Krisis iklim global yang semakin nyata membuat tradisi Bali kembali relevan sebagai kompas moral untuk menjaga bumi. Perayaan Tumpek Wayang dengan mitologi Sapuh Leger menghadirkan simbol kerentanan ekosistem sekaligus ajakan untuk merawat alam. Dari panggung wayang hingga ruang kebijakan publik, pesan “ruwat dan rawat” yang diwariskan leluhur kini menemukan makna baru dalam menghadapi ancaman antroposen.

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa mitologi pengejaran Rare Kumara oleh Batara Kala adalah representasi paling purba mengenai kerentanan ekosistem. “Rare Kumara merepresentasikan entitas biotik yang rapuh, sementara Batara Kala adalah personifikasi energi liar yang harus dijinakkan melalui komitmen moral dan manajemen risiko,” ujarnya dalam keterangannya saat dikonfirmasi di Denpasar, Sabtu (14/3/2026).

Berita Terkait:  Kaya Tradisi dan Spiritual, 7 Destinasi Wisata Budaya Bali yang Menarik Dikunjungi

Muliarta menjelaskan, tradisi ruwat dan rawat dalam Tumpek Wayang dapat dibaca sebagai mekanisme pemulihan ekologis. Prosesi memandikan instrumen wayang, katanya, bukan hanya simbol pembersihan fisik, tetapi juga metafora pembersihan polutan yang mencemari air, tanah, dan udara. “Etika keberlanjutan yang diajarkan Tumpek Wayang menolak pertumbuhan tanpa batas. Alam memiliki ritme regenerasi yang harus dihormati,” tambahnya.

Berita Terkait:  6 Tempat Wisata Populer dan Terbaik untuk Menyambut Nyepi di Bali

Ia menilai filosofi Tumpek Wayang sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan Sustainable Development Goals (SDGs). Transformasi nilai kearifan lokal ke dalam kebijakan publik, menurutnya, mendesak dilakukan di tengah ketidakpastian cuaca ekstrem. “Pengelolaan lingkungan berbasis nilai lokal memiliki tingkat penerimaan sosial yang lebih tinggi dibandingkan pendekatan teknokratis yang sering mengabaikan aspek kultural,” tegasnya.

Lebih jauh, Muliarta mengkritisi paradigma konservasi konvensional yang memisahkan kawasan lindung dari ruang manusia. Ia menekankan perlunya pendekatan holistik yang mengintegrasikan mosaik konservasi lintas lanskap dan laut. “Sapuh Leger menawarkan jalan tengah melalui redistribusi energi spiritual, menempatkan manusia kembali sebagai pelindung, bukan predator,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Tingkatkan Etika dan Profesionalisme: Pelatihan Table Manner Digelar di Venue Hotel Quest Vibe Dewi Sri-Bali

Ia menutup dengan seruan agar filosofi ruwat dan rawat dijadikan napas baru dalam pembangunan berkelanjutan. “Memuliakan alam melalui tradisi Tumpek Wayang adalah langkah nyata untuk memastikan Rare Kumara—simbol masa depan manusia—tidak habis ditelan keserakahan,” pungkasnya. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI