UNHI Gelar FGD Akhir Kajian Strategi Pengembangan Ekonomi Berbasis Kearifan Lokal

Screenshot_20251106_162758_InCollage - Collage Maker
Peneliti utama, I Putu Fery Karyada, S.Pd., M.A., (kiri) dan suasana FGD Akhir Kajian Strategi Pengembangan Ekonomi Bali Berbasis Nilai Kearifan Lokal, Kamis (6/11/2025) di Aula Indraprastha, Rektorat UNHI. (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Denpasar – Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar menggelar Focus Group Discussion (FGD) Akhir Kajian Strategi Pengembangan Ekonomi Bali Berbasis Nilai Kearifan Lokal, Kamis (6/11/2025) di Aula Indraprastha, Rektorat UNHI.

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat arah pembangunan ekonomi Bali yang berakar pada nilai budaya, spiritualitas, dan filosofi hidup masyarakat Bali menuju Bali Era Baru 2025–2125.

Rektor UNHI Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal merupakan wujud nyata implementasi nilai-nilai luhur budaya Bali dalam konteks modern.

“Kajian ini menjadi tonggak penting bagi Bali untuk menegaskan identitas ekonominya sendiri,” ungkap Prof. Damriyasa.

Ia menekankan kemajuan teknologi dan globalisasi jangan sampai menggerus nilai kearifan lokal dan budaya Bali yang adiluhung.

“Kita tidak boleh kehilangan arah di tengah derasnya arus globalisasi. Ekonomi Bali harus tumbuh tanpa meninggalkan akar budayanya,” tegasnya.

FGD ini merupakan tahap akhir dari rangkaian kajian strategis yang dilakukan untuk memvalidasi dan menyempurnakan rancangan model ekonomi berbasis kearifan lokal yang mampu diimplementasikan secara sistematis dan operasional di tingkat kebijakan maupun praksis sosial-ekonomi.

Berita Terkait:  Wabup Klungkung Hadiri Wisuda Sekolah Lansia Wreda Dharma Sesana Desa Aan

Peneliti utama, I Putu Fery Karyada, S.Pd., M.A., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa kajian ini berangkat dari keprihatinan atas dominasi paradigma ekonomi kapitalistik yang sering mengabaikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekologis Bali.

“Kami berupaya merumuskan model ekonomi yang tidak semata mengejar pertumbuhan, tetapi menempatkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas sebagai fondasi sebagaimana ajaran Tri Hita Karana dan Sad Kerthi,” ujar Fery.

“Model ini diharapkan menjadi pedoman dalam kebijakan ekonomi daerah yang adil, berkelanjutan, dan selaras dengan visi Ekonomi Kerthi Bali yang dicetuskan Gubernur Bali Wayan Koster,” sambungnya.

Dalam sesi pertama, Direktur Perencanaan Ekonomi Makro dan Pengembangan Model Pembangunan Bappenas Ibnu Yahya, S.E., M.E.Pol memaparkan materi bertajuk Arah Kebijakan Nasional tentang Transformasi Ekonomi Kerthi Bali. Ia menekankan pentingnya integrasi konsep ekonomi lokal Bali ke dalam kerangka pembangunan nasional.

Berita Terkait:  LSPR Institute Sabet Dua Penghargaan Bergengsi pada Anugerah Diktisaintek 2025

“Transformasi Ekonomi Kerthi Bali perlu dijalankan secara kolaboratif antara pusat dan daerah,” cetusnya.

“Pemerintah mendorong strategi integratif, penguatan instrumen pengukuran, serta metode evaluasi yang transparan untuk memastikan implementasi konsep ini berdampak nyata pada kesejahteraan masyarakat,” tambah Yahya.

Sementara itu, Prof. Dr. Anantawikrama Tungga Atmadja, S.E., Ak., M.Si. dari Universitas Pendidikan Ganesha membahas Dimensi Sosiologis Implementasi Ekonomi Kerthi Bali, yang menyoroti pentingnya legitimasi sosial, pola relasi adat, serta kontrol sosial dalam menjaga keberlanjutan sistem ekonomi berbasis nilai lokal.

“Keberhasilan Ekonomi Kerthi Bali bergantung pada dukungan masyarakat adat sebagai subjek utama. Tanpa legitimasi sosial dan penguatan struktur kelembagaan adat, ekonomi berbasis nilai lokal akan kehilangan ruhnya,” papar Prof Anantawikrama.

Perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Ekonomi Provinsi Bali, Ni Nyoman Yuliana Citra, mengungkapkan rasa syukurnya dapat berpartisipasi dalam kegiatan FGD tersebut.

“Saya sangat senang bisa mengikuti FGD ini karena memberikan banyak hal positif. Sebagai masyarakat Bali, kita perlu mengembangkan sistem ekonomi yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai yang saya peroleh dari kegiatan ini nantinya dapat diimplementasikan dan disinergikan dengan kurikulum di sekolah, khususnya dalam mengajak anak-anak untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang berwawasan lingkungan, melestarikan budaya Bali, dan berpijak pada kearifan lokal. Saya berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat Bali, dan juga masyarakat Indonesia pada umumnya,” tutur Yuliana.

Berita Terkait:  Wisuda Siswa Lansia, Wayan Diar: Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia

FGD yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri perwakilan Bappeda Provinsi Bali, BRIDA, sejumlah OPD terkait, serta akademisi dari Universitas Udayana, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Warmadewa, Universitas Mahasaraswati, dan UNHI Denpasar.

Hasil akhir kegiatan ini akan dituangkan dalam laporan kajian dan policy paper sebagai dasar penyusunan peta jalan (roadmap) implementasi Ekonomi Kerthi Bali berbasis nilai kearifan lokal, yang berorientasi pada kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat Bali secara sakala (nyata) niskala (spiritual). (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI