Warga Madura Banjarangkan Gelar Tradisi Kuno “Ngaro” di Tengah Malam

InCollage_20260927_191540168_oJTKinow2b
TRADISI NGARO - Warga keturunan Madura di Pura Kawitan Dadia Arya Dalem Madura, Dusun Selat, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, melaksanakan tradisi sakral “Ngaro” pada malam Purnama Kapat, Sabtu (26/9). (Barometer Bali/Red)

Barometer Bali | Klungkung – Warga keturunan Madura di Pura Kawitan Dadia Arya Dalem Madura, Dusun Selat, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, melaksanakan tradisi sakral “Ngaro” pada malam Purnama Kapat, Sabtu (26/9/2026).

Tradisi Ngaro merupakan warisan leluhur kuno asal tanah Madura, Jawa, yang dilestarikan oleh keturunan Raja Madura di wilayah Banjarangkan. Berdasarkan sejarah, tradisi ini berawal dari ritual penebusan dosa leluhur yang dilakukan oleh penguasa Madura, yakni Adipati Arya Kuda Pinolih. Upacara besar tersebut turut mengundang sejumlah raja di bawah naungan kekuasaan Kerajaan Majapahit, termasuk Raja Bali pada masa itu, Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan, yang hadir sebagai saksi.

Berita Terkait:  Nuanu Creative City Kembali Hadirkan Art & Bali 2026, Libatkan 23 Galeri dan Lebih dari 300 Seniman

Sejarah hubungan erat antara Bali dan Madura ini berlanjut dalam perjalanan pulang Raja Bali bersama Arya Kuda Pinolih menuju Bali. Di perairan laut Bali Selatan, keris milik Raja Bali terjatuh ke laut. Dengan sigap, Arya Kuda Pinolih menceburkan diri untuk mencarinya. Berkat bantuan seekor ikan barakuda (ikan kucul), keris tersebut akhirnya berhasil ditemukan di perairan sekitar Pantai Karang Intaran, Sanur. Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi tonggak awal pelaksanaan tradisi Ngaro.

Berita Terkait:  Pemahayu Jagat Segara Kertih Digelar di Tanah Lot, Doa Keselamatan untuk Bali dan Nusantara

Kelihan Pura Kawitan Dalem Madura Banjarangkan, I Wayan Juliawan, menjelaskan bahwa selain warga keturunan Madura di Intaran Sanur, warga Madura di Banjarangkan secara konsisten menjaga tradisi ini. Rangkaian upacara diawali dengan pembuatan banten dan persembahan sejak pukul 18.00 Wita hingga tengah malam.

Sebanyak 30 kepala keluarga (KK) warga Arya Madura Banjarangkan mengikuti prosesi dengan mengarak seluruh tapakan atau pretima dari pura dengan berjalan kaki menuju kawasan pantai. Mengingat kondisi abrasi di Pantai Tegal Besar, prosesi puncak persembahan sesajen dan banten dilaksanakan di Pantai Siut, Kabupaten Gianyar, tepat pukul 00.00 Wita yang dipuput oleh Jero Mangku setempat.

Berita Terkait:  Putri Koster Dorong Desainer Bali Angkat Tenun Tradisional ke Panggung Dunia

“Saat melaksanakan upacara, kami minim menggunakan gamelan maupun sinar lampu sebagai penerang. Setelah upacara selesai, persembahan berupa tumpeng dan banten lainnya akan dibagikan kepada warga Arya Madura maupun pemedek umum yang hadir,” ujar I Wayan Juliawan.

Secara filosofis, tradisi Ngaro bertujuan untuk memohon keselamatan, kerahayuan (kerahayuan jagat) bagi warga Arya Madura dan masyarakat luas, sekaligus sebagai wujud syukur serta penghormatan kepada para leluhur yang menjadi cikal bakal keberadaan warga Arya Madura di Pulau Bali. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI