Waspada! 15 Jenis Makanan Ini Berisiko Mengandung Mikroplastik Tertinggi

BARO FEB F 48
Ilustrasi seafood, salah satu jenis makanan yang berisiko mengandung mikroplastik. (barometerbali/dok.msn.com)

Barometerbali.com | Denpasar – Dalam beberapa dekade terakhir, mikroplastik (partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter) telah berubah dari fenomena lingkungan menjadi masalah kesehatan yang makin dipelajari secara global.

Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik tidak hanya berada di laut, tanah, atau udara, tetapi juga telah menyusup ke dalam makanan yang kamu konsumsi setiap hari melalui berbagai jalur, dari kontaminasi air dan tanah hingga kemasan dan proses produksi makanan itu sendiri.

Saat partikel-partikel kecil itu masuk ke rantai makanan, hewan dan tumbuhan tidak bisa memilih apa yang mereka telan atau serap, sehingga mikroplastik pun dapat terakumulasi di dalam tubuh organisme tersebut, dan akhirnya berpotensi masuk ke tubuh kamu saat kamu makan.

Faktor ini membuka perdebatan ilmiah tentang bagaimana paparan mikroplastik memengaruhi kesehatan manusia dalam jangka panjang, serta apa saja makanan yang paling berisiko terkontaminasi.

Meski masih banyak hal yang belum dipahami sepenuhnya, tetapi bukti yang ada sudah cukup kuat untuk menunjukkan bahwa konsumsi makanan tertentu lebih mungkin menyumbang paparan mikroplastik yang signifikan dibanding yang lain.

Berikut ini makanan dengan risiko mikroplastik tertinggi, mungkin beberapa di antaranya termasuk makanan favoritmu.

1. Seafood (ikan dan kerang)

Mikroplastik di laut kemudian masuk ke tubuh ikan, kerang, udang, dan organisme laut kecil karena partikel plastik yang tersebar di perairan global.

Banyak studi telah menemukan mikroplastik dalam tubuh hewan laut yang kemudian dimakan manusia.

Kontaminasi ini berasal dari berbagai jalur: partikel plastik yang terurai di air, serat dari tekstil yang terbawa limbah air, serta akumulasi di plankton yang kemudian dimakan hewan laut yang lebih besar.

Sebuah tinjauan menyimpulkan bahwa produk laut seperti ikan, udang, kerang, dan moluska sering terkontaminasi mikroplastik, termasuk partikel serat kecil.

Artinya, setiap makanan laut yang dimakan dapat menyumbang partikel plastik kecil yang langsung mencapai usus.

Hal ini yang menjadi alasan banyak penelitian fokus pada kategori makanan ini sebagai salah satu sumber paparan mikroplastik utama.

2. Garam dapur/garam laut

Cara lain mikroplastik masuk ke dalam makanan sehari-hari adalah lewat garam laut.

Proses pengambilan garam dari laut sering kali mengikutsertakan microplastik yang ada dalam air laut.

Dan, karena garam umumnya tidak diproses lagi setelah penguapan air laut, partikel plastik tersebut tetap ada dalam produk akhir.

Beberapa studi menunjukkan mikroplastik hadir di berbagai merek garam laut di seluruh dunia.

Karena garam digunakan hampir di setiap masakan, paparan dari garam dapat menjadi sumber mikroplastik yang konsisten dalam pola makan harian.

Mekanisme kontaminasinya: mikroplastik di laut yang diciptakan oleh sampah plastik dan limbah urban tidak dapat sepenuhnya dieliminasi dalam proses pembuatan garam.

Sebaliknya, garam yang diambil dari akuifer atau deposit bawah tanah mungkin memiliki profil kontaminasi yang berbeda tergantung kondisi geologisnya.

3. Air kemasan (botol plastik)

Studi menunjukkan, air kemasan dalam botol plastik mengandung ribuan hingga ratusan ribu partikel mikroplastik per liter air dari hasil pengukuran, terutama jika kemasan mengalami panas atau tekanan.

Ini menunjukkan bahwa kemasan plastik itu sendiri bisa menjadi sumber kontaminasi makanan/minuman kamu.

Berita Terkait:  Harus Diwaspadai Dapur Jadi Sarang Mikroplastik, Begini Cara Cegah Masuk ke Tubuh

Karena konsumsi air kemasan sangat umum, paparan mikroplastik dari air botolan bisa berkontribusi secara signifikan terhadap total mikroplastik yang kamu makan atau minum setiap tahunnya.

Walaupun beberapa faktor seperti suhu penyimpanan dan jenis plastik memengaruhi jumlah partikel yang dilepaskan, tetapi yang ada saat ini menunjukkan bahwa air kemasan plastik bukan sumber yang “bebas mikroplastik”.

4. Kantong teh

Kantong teh yang berbahan plastik dapat melepaskan jutaan hingga miliaran partikel mikroplastik dan nanoplastik ke dalam minuman saat diseduh air panas.

Bukti dari beberapa studi menguatkan temuan ini.

Salah satu penelitian menemukan bahwa jenis polipropilena dalam kantong teh tertentu bisa melepaskan jumlah partikel yang sangat besar saat diseduh, yang kemudian langsung masuk dalam minuman yang diminum.

Karena teh adalah minuman yang sangat umum, paparan mikroplastik melalui kantong teh bisa menjadi perhatian yang relevan dalam pola makan harian orang dewasa.

5. Beras

Beras dapat mengandung mikroplastik. Kontaminasi ini biasanya berasal dari lingkungan pertanian, seperti tanah dan air irigasi yang sudah tercemar plastik, serta dari proses pascapanen seperti pengolahan, transportasi, dan pengemasan.

Studi sistematis menemukan adanya variasi bentuk, warna, dan jenis polimer mikroplastik dalam sampel beras dari berbagai negara, menandakan bahwa beras bisa menjadi salah satu jalur paparan mikroplastik bagi manusia.

Selain itu, penelitian tentang tanaman padi menunjukkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik bisa masuk ke sistem akar dan jaringan tanaman, sehingga berpotensi terakumulasi dalam butir beras.

Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konsumsi beras sehari-hari bisa menjadi sumber paparan mikroplastik, meskipun tingkat risikonya terhadap kesehatan manusia masih terus diteliti.

6. Buah dan sayur

Sejumlah studi telah mendeteksi mikroplastik dalam sayuran dan buah.

Ini diukur baik di permukaan maupun di jaringan tanaman itu sendiri, terutama jika ditanam di tanah atau irigasi yang terkontaminasi partikel plastik.

Contoh yang dicatat termasuk tomat, apel, kentang, dan mentimun, yang mana jumlah mikroplastik yang diperkirakan dikonsumsi melalui porsi buah atau sayur tertentu dapat mencapai ratus ribu partikel per orang per tahun.

Mikroplastik bisa masuk ke tanaman melalui air dan tanah, terutama melalui serat plastik kecil yang ada di kompos, mulsa plastik/andam plastik, atau limbah pertanian yang kemudian diserap bersama air dan nutrien.

7. Produk olahan (protein hewani dan nabati)

Studi yang menguji berbagai produk protein (daging, tahu, nuget, dll.) menemukan mikroplastik dalam hampir semua sampel yang diuji, baik dari sumber darat maupun laut.

Jumlahnya bervariasi antar produk, tetapi paparan terjadi bahkan dalam makanan olahan.

Studi ini menunjukkan bahwa kontaminasi mikroplastik tidak hanya karena lingkungan biologis alami, tetapi juga terkait dengan proses pengolahan makanan modern yang sering menggunakan kemasan dan mesin plastik dalam rantai pasokan.

8. Kerang bivalvia (tiram, kerang hijau, kerang dara)

Kerang bivalvia menempati posisi unik dalam diskusi mikroplastik karena cara makannya.

Mereka adalah filter feeders. Artinya, kerang menyaring air laut dalam jumlah besar untuk memperoleh makanan.

Proses ini membuat mereka sangat efisien dalam mengakumulasi mikroplastik yang tersuspensi di air laut.

Berita Terkait:  Prof Sucipta Soroti Wacana Perang Dunia III: Risiko Ada, Tapi Bukan Keniscayaan Sejarah

Beberapa studi menunjukkan bahwa kerang dapat mengandung mikroplastik dalam jumlah yang lebih tinggi dibanding ikan, terutama karena seluruh tubuhnya, termasuk saluran pencernaan, dikonsumsi manusia.

Penelitian menemukan berbagai jenis mikroplastik dalam kerang, mulai dari serat sintetis hingga fragmen polimer seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP). Jenis-jenis ini umum ditemukan dalam limbah plastik domestik dan industri.

Karena kerang merupakan sumber protein dan ramah lingkungan, temuan ini memunculkan kekhawatiran pada masyarakat, karena menjadi jalur paparan mikroplastik yang relatif signifikan, terutama pada populasi pesisir dengan konsumsi kerang yang tinggi.

9. Ikan kecil yang dimakan utuh (sarden, teri, anchovy)

Ikan kecil sering dipromosikan sebagai pilihan makanan laut yang lebih berkelanjutan dan bernutrisi.

Namun, dari perspektif mikroplastik, ikan kecil punya karakteristik yang meningkatkan risiko paparan: mereka biasanya dimakan utuh, termasuk saluran pencernaan, tempat mikroplastik paling sering ditemukan.

Studi observasional pada ikan pelagis kecil menunjukkan bahwa mikroplastik sering ditemukan di lambung dan usus ikan-ikan ini, terutama di wilayah perairan dengan kepadatan limbah plastik tinggi.

Karena tidak ada proses pembuangan organ dalam sebelum konsumsi, mikroplastik tersebut berpotensi langsung masuk ke tubuh manusia.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa risiko mikroplastik dari ikan kecil perlu dilihat dalam konteks total gizi dan manfaat kesehatannya.

Ikan kecil tetap merupakan sumber omega-3, kalsium, dan protein yang baik, sehingga pendekatan terbaik adalah moderasi, bukan eliminasi total.

10. Makanan laut olahan (surimi, bakso ikan, fish cake)

Makanan laut olahan seperti surimi, bakso ikan, atau fish cake melalui proses mekanis dan industri yang panjang, mulai dari pencucian, penggilingan, pencampuran, hingga pengemasan.

Setiap tahap ini membuka peluang tambahan untuk kontaminasi mikroplastik, baik dari air proses, peralatan, maupun kemasan plastik.

Sebuah studi melaporkan bahwa produk makanan olahan cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibanding bahan mentahnya.

Bukan karena sumber biologisnya saja, tetapi karena kontak berulang dengan permukaan dan material berbasis plastik selama produksi.

Ini menjelaskan mengapa paparan mikroplastik tidak hanya bergantung pada jenis bahan pangan, tetapi juga pada tingkat pemrosesannya.

Makin panjang rantai pengolahan, makin besar potensi akumulasi partikel plastik mikro.

11. Daging dan unggas (ayam, sapi, babi)

Studi terbaru juga mendeteksi mikroplastik dalam daging dan unggas, yang diduga berasal dari pakan ternak, air minum, serta kontaminasi selama proses pemotongan dan pengemasan.

Penelitian yang menguji sampel daging ayam dan sapi menemukan partikel mikroplastik berukuran kecil, terutama serat sintetis.

Serat ini kemungkinan besar berasal dari lingkungan kandang, debu udara, atau pakaian kerja berbahan sintetis di fasilitas pemrosesan.

Walaupun jumlah mikroplastik dalam daging umumnya lebih rendah dibanding makanan laut, tetapi konsumsi daging yang rutin dan dalam porsi besar tetap menjadikannya salah satu kontributor paparan mikroplastik yang perlu diperhitungkan secara kumulatif.

12. Produk susu (susu, keju, yoghurt)

Produk susu juga tidak sepenuhnya bebas dari mikroplastik.

Studi yang menganalisis susu cair dan produk olahannya menemukan partikel mikroplastik dalam jumlah kecil, yang diduga berasal dari proses pemerahan, penyimpanan, serta pengemasan.

Berita Terkait:  Waspada! 10 Kebiasaan saat Puasa Ini Tidak Baik untuk Kesehatanmu

Kemasan plastik dan selang industri yang digunakan dalam sistem pengolahan susu modern menjadi salah satu sumber potensial pelepasan mikroplastik.

Selain itu, debu udara di fasilitas produksi juga dapat berkontribusi terhadap kontaminasi silang.

Meskipun konsentrasi mikroplastik pada produk susu relatif rendah, tetapi konsumsi harian dan luasnya penggunaan produk ini membuatnya relevan dalam perhitungan total paparan mikroplastik seumur hidup.

13. Madu

Beberapa penelitian menemukan mikroplastik dalam madu dari berbagai wilayah dunia.

Kontaminasi ini diyakini berasal dari partikel plastik di udara yang kemudian mengendap pada bunga dan terbawa kembali ke sarang lebah.

Sebuah studi menunjukkan bahwa mikroplastik di atmosfer dapat berpindah jarak jauh dan masuk ke rantai makanan terestrial, termasuk produk lebah seperti madu.

Temuan ini memperluas pemahaman bahwa mikroplastik bukan hanya masalah laut, tetapi juga udara.

14. Gula dan pemanis

Penelitian awal mendeteksi mikroplastik dalam gula dan pemanis, terutama yang diproduksi dan dikemas secara massal.

Sumber kontaminasi diduga berasal dari lingkungan pabrik, debu udara, serta kemasan plastik.

Walaupun data mengenai gula masih lebih terbatas dibanding makanan laut atau air minum, tetapi keberadaannya tetap perlu diperhatikan karena gula digunakan secara luas dalam makanan dan minuman olahan.

15. Makanan ultraproses dalam kemasan plastik

Terakhir adalah makanan ultraproses yang dikemas dalam plastik, seperti camilan, mi instan, dan makanan siap saji.

Penelitian menunjukkan bahwa kemasan plastik dapat melepaskan mikroplastik, terutama saat terkena panas atau gesekan.

Studi eksperimental menunjukkan bahwa pemanasan makanan dalam wadah plastik, termasuk microwave, dapat meningkatkan pelepasan partikel mikroplastik dan nanoplastik ke dalam makanan.

Karena konsumsi makanan ultraproses terus meningkat secara global, kategori ini dipandang sebagai salah satu jalur paparan mikroplastik yang paling dapat dimodifikasi melalui perubahan kebiasaan konsumsi.

Cara meminimalkan paparan mikroplastik lewat makanan dan kehidupan sehari-hari

Berikut ini beberapa cara untuk meminimalkan paparan mikroplastik lewat makanan dan kehidupan sehari-hari:

  • Kurangi konsumsi air dalam botol plastik:ganti dengan filter air dan botol stainless steel atau kaca.
  • Hindari kantong teh plastik:pilih teh daun lepas yang diseduh dengan infuser logam atau kaca.
  • Kurangi makanan ultraproses dan kemasan plastik:makanan segar dan dikemas tanpa plastik cenderung kurang terkontaminasi.
  • Cuci buah dan sayur dengan baik:meski tidak menghilangkan partikel dalam jaringan, tetapi ini membantu mengurangi kontaminasi permukaan.
  • Gunakan peralatan dapur tanpa plastik:seperti papan kayu atau logam, botol kaca, dan wadah bebas BPA.

Mikroplastik telah menjadi bahan yang hampir tak terhindarkan dalam makanan modern.

Bukti dari berbagai kajian ilmiah internasional menunjukkan keberadaan mikroplastik dalam seafood, garam, air minum kemasan, beras, buah, sayuran, dan bahkan produk protein olahan.

Paparan ini mencerminkan luasnya penetrasi plastik ke dalam lingkungan dan rantai makanan manusia.

Walaupun masih banyak yang harus dipelajari tentang dampak kesehatan jangka panjang dari mikroplastik dalam tubuh manusia, tetapi tindakan sederhana yang mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu menurunkan jumlah plastik kecil yang kamu konsumsi. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI