Barometer Bali | Denpasar – Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa arak Bali memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi inklusif berbasis budaya lokal. Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri audisi Lomba Mixologi Arak Bali yang digelar DPC PDI Perjuangan dari Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem, Buleleng, dan Klungkung di Aula Kantor DPD PDI Perjuangan Bali, Senin (18/5/2026).
Ajang yang diikuti 38 generasi muda tersebut tidak hanya menjadi kompetisi meracik minuman berbahan dasar arak Bali, tetapi juga ruang lahirnya inovasi kreatif yang menghubungkan tradisi, pariwisata, dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Menurut Koster, arak Bali tidak boleh lagi dipandang sekadar minuman tradisional, melainkan harus didorong menjadi produk unggulan daerah yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah UMKM, dan memperkuat identitas budaya Bali di pasar global.
“Arak Bali bukan sekadar minuman tradisional, melainkan identitas budaya yang harus dilestarikan sekaligus dikembangkan. Lewat mixologi, generasi muda Bali membuktikan bahwa tradisi bisa berjalan beriringan dengan inovasi, standarisasi kualitas, dan nilai ekonomi yang inklusif,” ujar Koster.
Ia juga menegaskan komitmen untuk terus memperkuat legalisasi, sertifikasi keamanan pangan, hingga pembinaan industri arak agar mampu bersaing secara profesional di tingkat nasional maupun internasional.
Antusiasme peserta terlihat di seluruh wilayah audisi. Kabupaten Klungkung menjadi daerah dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 14 orang. Dari seluruh peserta, Dewa Ayu Sri Wahyuni tampil mencuri perhatian sebagai satu-satunya perempuan yang ikut berkompetisi. Dengan racikan arak Bali yang dipadukan teknik presisi dan presentasi kreatif, ia berhasil keluar sebagai juara pertama audisi Klungkung.
Sementara itu di Denpasar, I Kadek Ryan Budi Ardika meraih posisi pertama lewat racikan arak murni berpadu sari jeruk keprok dan jahe merah. Kabupaten Karangasem didominasi peserta dari LPK Monarch Bali Candidasa, sedangkan Ketut Rino Suyastrawan menjadi juara pertama dari Kabupaten Buleleng melalui inovasi racikan bernuansa rempah khas daerahnya.
Sebanyak 12 peserta terbaik dari empat wilayah kini dipersiapkan menuju babak final Juni 2026.
Sebelum tampil di panggung utama, para finalis akan mengikuti pendampingan teknis, masterclass bersama mixologist profesional, hingga sesi presentasi bisnis.
Melalui kompetisi ini, PDI Perjuangan Bali berharap tercipta ekosistem kreatif berbasis arak Bali yang mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap produk lokal. Arak Bali didorong bertransformasi menjadi komoditas ekonomi kreatif yang berstandar keamanan pangan, ramah pariwisata, sekaligus menjadi kebanggaan budaya Bali. (rah)










