Barometer Bali | Klungkung – Dalam upaya memperluas wawasan dan meningkatkan kualitas produk lokal Wakil Bupati Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra mengunjungi Sentra Kerajinan Tenun di Desa Wisata Kerajinan Tenun Gamplong, Kabupaten Sleman, Jumat (22/5).
Kunjungan Wabup Tjok Surya didampingi Sekda Anak Agung Gede Lesmana dan Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kabupaten Klungkung, Tjokorda Gde Romy Tanaya yang disambut hangat para pengelola desa wisata ini bertujuan untuk melakukan studi banding, bertukar inovasi serta mempelajari strategi pengembangan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal.
Tiba dilokasi Wabup Tjok Surya sangat menyambut baik setelah melihat langsung proses pembuatan kain tenun tradisional yang masih mempertahankan alat tenun bukan mesin (ATBM), apalagi mulai dari pemintalan benang hingga menjadi kain siap pakai dikerjakan oleh para lansia. “Kedepannya peran generasi muda untuk mengembangkan potensi kerajinan ini diharapkan mampu dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Selain itu, Wabup Tjok Surya juga melihat ada kemiripan potensi yang besar antara Klungkung dan Sleman, khususnya dalam industri tenun tradisional. “Klungkung terkenal dengan Tenun Ikat Endek dan Songketnya, sementara Sleman memiliki Tenun Gamplong. Jadi ini sungguh luar biasa, dari hasil kunjungan ini agar segera diimplementasikan untuk menggeliatkan kembali sentra-sentra tenun di Klungkung, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin sekaligus mendongkrak sektor pariwisata daerah,” harapnya.
Sementara itu Ketua Sentra Kerajinan Tenun Gamplong, Giyono sangat menyambut baik kunjungan Pemkab Klungkung ini. Pihaknya memaparkan secara singkat kerajinan tenun ini sudah berdiri sejak tahun 1930. Kerajinan ini lahir dari kreativitas para perajin lokal di Sleman untuk memanfaatkan limbah sisa potongan kain perca dari konveksi atau penjahit.
Selanjutnya kain-kain perca tersebut dikumpulkan, dipotong memanjang, lalu ditenun kembali menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Pada saat ini, tenun Gamplong tidak lagi hanya menjadi keset kaki, tetapi mulai dikembangkan menjadi berbagai produk fungsional dan estetis seperti tas, asbak, taplak meja, tirai, hingga komponen dekorasi interior rumah (home decor). Selain itu, produk yang dihasilkan ini juga sukses menembus pasar ekspor ke negara-negara seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang pada akhir tahun 1990-an hingga medio 2000-an. “Jadi saya sangat menyambut baik kunjungan ini semoga kedepan apa yang menjadi harapan untuk berkolaborasi meningkatkan produktivitas tenun baik di Klungkung dan Sleman berjalan dengan sebaik-baiknya,” ucapnya. (rah)










