PURA Dalem Mutering Jagat merupakan salah satu pura bersejarah yang berada di wilayah Kesiman Kertalangu, Kota Denpasar Timur, Bali. Pura ini tidak hanya menjadi pusat pemujaan umat Hindu, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang mengenai perjalanan spiritual Ida Dalem Batu Ireng serta peran penting Arya Wang Bang Pinatih (AWBP) dalam membangun sistem pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat Bali pada masa pengaruh Majapahit.
Menurut tulisan Made Angga Dananjaya di budayabali.com, keberadaan Pura Dalem Mutering Jagat tidak dapat dipisahkan dari kisah Ida Dalem Batu Ireng, seorang raja Bali yang diyakini mencapai moksa di tepi Sungai Ayung. Tempat moksa tersebut kemudian dikenal sebagai kawasan Kusima atau Kesiman, yang hingga kini menjadi lokasi berdirinya pura tersebut.
Jejak Ida Dalem Batu Ireng di Tepi Sungai Ayung
Dalam tradisi lisan masyarakat Bali, Ida Dalem Batu Ireng dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki kesaktian dan kesucian spiritual tinggi. Beliau dipercaya melaksanakan yadnya moksa di kawasan Sungai Ayung hingga mencapai penyatuan dengan alam semesta.
Di lokasi tersebut terdapat Batu Sima yang menjadi simbol penghormatan terhadap peristiwa suci tersebut. Hingga kini, kawasan Sungai Ayung atau We Ayu—yang berarti “air yang indah”—masih dianggap sebagai kawasan yang memiliki nilai spiritual tinggi karena menjadi sumber kehidupan sekaligus tempat penyucian diri bagi umat Hindu.
Keberadaan Batu Sima menjadi penanda sejarah perjalanan spiritual Ida Dalem Batu Ireng sekaligus menjadi dasar berdirinya Pura Dalem Mutering Jagat sebagai tempat suci untuk mengenang jasa serta kesuciannya.
Peran Arya Wang Bang Pinatih
Sejarah Pura Dalem Mutering Jagat juga berkaitan erat dengan kedatangan Arya Wang Bang Pinatih, seorang bangsawan sekaligus utusan dari Kerajaan Majapahit yang datang ke Bali pada masa pemerintahan Dinasti Kepakisan.
Dalam berbagai sumber sejarah Bali disebutkan bahwa Arya Wang Bang Pinatih memiliki peran penting dalam meneruskan sistem Simakrama, yaitu tata kelola pemerintahan yang menekankan hubungan harmonis antara raja, rakyat, dan kehidupan adat.
Melihat kesucian lokasi peninggalan Ida Dalem Batu Ireng di Kusima, Arya Wang Bang Pinatih kemudian membangun Pura Dalem Mutering Jagat sebagai pusat pemujaan sekaligus simbol penghormatan terhadap leluhur dan kesinambungan pemerintahan Bali pasca masuknya pengaruh Majapahit.
Keberadaan pura ini menjadi bukti perpaduan nilai spiritual Bali kuno dengan sistem sosial dan pemerintahan yang dibawa dari Majapahit, sehingga melahirkan tatanan masyarakat Bali yang tetap bertahan hingga sekarang.
Hubungan dengan Pura Agung Petilan dan Tradisi Ngerebong
Pura Dalem Mutering Jagat memiliki hubungan historis dan spiritual dengan Pura Agung Petilan Kesiman yang dikenal sebagai pusat pelaksanaan upacara Ngerebong.
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Kesiman sejak dahulu merupakan pusat kegiatan keagamaan, pemerintahan, dan budaya masyarakat Bali. Berbagai ritual yang dilaksanakan hingga saat ini merupakan warisan yang terus dijaga secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Arsitektur Berkonsep Tri Mandala
Secara arsitektur, Pura Dalem Mutering Jagat dibangun menggunakan konsep Tri Mandala, yaitu pembagian kawasan pura menjadi tiga tingkatan kesucian.
Nista Mandala, halaman luar sebagai area aktivitas sosial dan persiapan upacara.
Madya Mandala, halaman tengah sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan.
Utama Mandala, area paling suci yang menjadi pusat pemujaan.
Pada Utama Mandala terdapat beberapa bangunan utama seperti Padmasana sebagai tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Meru sebagai simbol Gunung Mahameru, Bale Pesandekan untuk penyimpanan sarana upacara, serta Bale Panggungan yang digunakan untuk pertunjukan seni sakral.
Konsep tersebut mencerminkan filosofi keseimbangan antara alam, manusia, dan Tuhan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali.
Piodalan dan Tradisi Sugihan Jawa
Piodalan Pura Dalem Mutering Jagat dilaksanakan setiap Wraspati Wuku Sungsang, bertepatan dengan Sugihan Jawa.
Momentum ini memiliki makna khusus karena menjadi simbol penghormatan kepada leluhur serta pengingat hubungan sejarah dan budaya antara Bali dengan Jawa sejak masa Majapahit.
Rangkaian piodalan diisi dengan persembahyangan bersama, persembahan sesajen, serta tirta yatra ke berbagai tempat suci yang memperkuat ikatan spiritual masyarakat dengan Tuhan dan para leluhur.
Kisah Brahmana Keling dan Dalem Sidakarya
Pura Dalem Mutering Jagat juga memiliki keterkaitan dengan kisah Brahmana Keling yang datang dari Jawa Timur untuk membantu pelaksanaan upacara Eka Dasa Rudra di Besakih pada masa Dalem Waturenggong.
Karena penampilannya yang sederhana, Brahmana Keling tidak dikenali dan mendapat perlakuan tidak hormat dari lingkungan kerajaan. Merasa dihina, ia mengucapkan kutukan terhadap Bali sehingga pelaksanaan upacara mengalami berbagai hambatan.
Setelah raja menyadari kesalahannya dan memohon maaf, Brahmana Keling diberikan gelar Dalem Sidakarya, yang berarti sosok yang menyempurnakan atau menyelesaikan suatu karya suci.
Kisah ini menjadi pengingat pentingnya penghormatan terhadap setiap orang tanpa memandang penampilan serta pentingnya sikap rendah hati dalam kehidupan bermasyarakat.
Warisan Sejarah dan Spiritualitas Bali
Pura Dalem Mutering Jagat hingga kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai penjaga memori sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Bali.
Keberadaannya menjadi saksi perjalanan panjang Bali, mulai dari masa Ida Dalem Batu Ireng, masuknya pengaruh Majapahit melalui Arya Wang Bang Pinatih, hingga berkembangnya tradisi keagamaan yang masih lestari sampai sekarang.
Keindahan arsitektur pura, suasana sakral di tepian Sungai Ayung, serta nilai sejarah yang dikandungnya menjadikan Pura Dalem Mutering Jagat sebagai salah satu situs penting yang memperlihatkan perpaduan harmonis antara sejarah, budaya, dan ajaran Hindu di Pulau Bali.
Sementara itu Bandesa Adat Kesiman Jero Mangku Ketut Wisna (JMW) yang juga warih keturunan Arya Wang Bang Pinatih menyatakan terdapat 31 banjar adat di Desa Adat Kesiman yang menjadi pangempon Pura Luhur Dalem Mutering Jagat. (red)










