Barometer Bali | Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster memimpin Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Perekonomian Bali bersama seluruh bupati dan wali kota se-Bali di Ruang Rapat Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Senin (8/6/2026). Rapat yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 13.00 Wita tersebut menjadi forum strategis untuk menyatukan langkah pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam mewujudkan target pembangunan ekonomi Bali tahun 2026.
Dalam arahannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Bali harus dilakukan secara terintegrasi, terpadu, dan berbasis potensi unggulan masing-masing daerah. Menurutnya, seluruh wilayah di Bali harus bergerak dalam satu arah kebijakan pembangunan dengan prinsip “satu pulau, satu pola, dan satu tata kelola” sesuai Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.
“Pembangunan ekonomi Bali tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Seluruh kabupaten dan kota harus bersinergi dalam satu sistem pembangunan yang terintegrasi agar mampu memberikan manfaat yang merata bagi masyarakat Bali,” tegas Koster.
Rapat koordinasi tersebut secara khusus membahas upaya pencapaian target pembangunan ekonomi Bali tahun 2026 yang cukup ambisius, yakni meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 6,10 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Bali melalui sejumlah indikator utama pembangunan.
Pemerintah Provinsi Bali menargetkan pendapatan masyarakat meningkat menjadi di atas Rp72 juta per tahun, angka kemiskinan turun menjadi di bawah 3,42 persen, tingkat pengangguran terbuka ditekan hingga di bawah 1,45 persen, tingkat kesenjangan pendapatan atau gini ratio berada di bawah 0,333, serta prevalensi stunting turun hingga di bawah 8 persen.
Menurut Koster, target-target tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh pemerintah daerah mampu mengoptimalkan sektor-sektor unggulan yang menjadi kekuatan masing-masing wilayah. Karena itu, pembangunan ekonomi Bali harus diselenggarakan berdasarkan karakteristik daerah dengan tetap menjaga keterpaduan dalam kerangka pembangunan Bali secara keseluruhan.
Pada sesi awal rapat, seluruh bupati dan wali kota secara bergiliran memaparkan target pembangunan ekonomi daerah masing-masing beserta strategi yang akan dijalankan untuk mendukung pencapaian target Bali secara agregat. Paparan tersebut mencakup sektor pertanian, pariwisata, perikanan, industri kreatif, UMKM, perdagangan, hingga penguatan infrastruktur pendukung pertumbuhan ekonomi.
Setelah mendengarkan paparan dari seluruh kepala daerah, Gubernur Koster memberikan arahan mengenai kebijakan pembangunan ekonomi Bali yang harus menjadi fokus bersama. Ia menekankan pentingnya penguatan sektor-sektor unggulan yang selama ini menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi Bali, sekaligus mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah.
Selain mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Koster menegaskan bahwa pembangunan Bali harus tetap berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, pemerataan kesejahteraan, serta penguatan daya saing daerah secara berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi harus berdampak langsung pada peningkatan pendapatan masyarakat, penurunan kemiskinan, pengurangan pengangguran, penurunan kesenjangan, dan percepatan penanganan stunting. Itulah ukuran keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya,” jelasnya.
Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali bersama seluruh pemerintah kabupaten/kota memperkuat komitmen untuk bergerak dalam satu visi dan satu langkah guna mewujudkan Bali yang maju, mandiri, sejahtera, serta tetap berlandaskan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sesuai arah pembangunan Bali Era Baru. (red)











