Barometer Bali | Denpasar – Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Front Demokrasi Perjuangan Rakyat (Frontier) Bali, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, dan Komite Kerja Advokasi Lingkungan Hidup (Kekal) Bali menggelar aksi simbolik di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Senin (6/7/2026).
Aksi tersebut menyoroti berbagai persoalan yang dinilai muncul akibat pertumbuhan sektor pariwisata yang tidak terkendali, mulai dari fenomena overtourism, alih fungsi lahan pertanian, hingga eksploitasi air tanah secara berlebihan.
Sekretaris Jenderal Frontier Bali, I Wayan Sathya Tirtayasa, mengatakan tata kelola pariwisata yang buruk telah memicu berbagai persoalan lingkungan di Pulau Dewata.
Menurutnya, meningkatnya jumlah wisatawan tanpa pengendalian yang memadai berdampak pada bertambahnya volume sampah, menyusutnya lahan pertanian produktif, serta meningkatnya eksploitasi air tanah.
“Kondisi ini semakin diperparah oleh lemahnya pengendalian tata ruang, belum adanya pembatasan jumlah wisatawan, serta ketergantungan ekonomi yang berlebihan pada sektor pariwisata,” ujarnya.
Sathya mengungkapkan, setiap tahun Bali diperkirakan kehilangan sekitar 1.125 hektare lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Selain itu, berdasarkan penelitian Cole, sebagian besar hotel di Bali masih bergantung pada pemanfaatan air tanah.
“Bahkan, sejumlah hotel memiliki lebih dari satu sumur bor, sementara hanya sebagian kecil yang sepenuhnya menggunakan pasokan dari perusahaan daerah air minum,” katanya.
Ia menilai penggunaan air tanah masih menjadi pilihan karena biaya yang lebih murah dibandingkan menggunakan layanan air perpipaan, sehingga pelaku usaha lebih memilih mengeksploitasi sumber daya air bawah tanah.
Berdasarkan data yang mereka himpun, hotel berbintang di Bali membutuhkan sedikitnya 800 liter air per kamar per hari, sedangkan hotel nonbintang sekitar 250 liter per kamar per hari.
Atas kondisi tersebut, massa aksi mendesak Gubernur Bali dan DPRD Bali segera memberlakukan moratorium pembangunan pariwisata sebagai langkah menghentikan krisis alih fungsi lahan dan ancaman krisis air bersih di Bali.
Adapun Aksi tersebut dimulai sekitar pukul 10.40 Wita itu diisi dengan orasi, pembentangan spanduk dan poster, serta pertunjukan teatrikal.
Aksi berakhir sekitar pukul 11.30 Wita. Mereka pun menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons dari pemerintah. (rian)








