Teknologi Biomi Menjadi Solusi Baru Atasi Pencemaran Kotoran Ternak di Tabanan

IMG-20260727-WA0025_6H2y1pOk6y
Foto: Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional bertajuk “Community-Based Balinese Cattle Waste Management at Amertha Sari II Farmer Group to Enhance Environmental Sustainability and Farm Productivity in Kesiut Village”. (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Tabanan – Masalah pencemaran lingkungan akibat kotoran ternak di Kabupaten Tabanan kini mulai menemukan titik terang. Pemanfaatan inovasi formula Biomi hadir sebagai solusi efektif untuk mengolah limbah kotoran sapi sekaligus menjaga sanitasi lingkungan pedesaan.

Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si, menjelaskan bahwa penerapan teknologi ini diharapkan mampu menekan polusi bau dan pencemaran yang selama ini menjadi tantangan bagi para peternak lokal. Melalui pendekatan berbasis komunitas, pemanfaatan Biomi juga sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah menjadi pupuk organik berkualitas.

“Penerapan teknologi Biomi ini dirancang untuk membantu peternak mengatasi persoalan higienitas kandang dan lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaan peternakan tidak lagi mengganggu kenyamanan warga,” ujar Nyoman Kaca saat dikonfirmasi di Denpasar pada Jumat (19/6).

Berita Terkait:  Rakor Percepatan Penurunan Stunting Perkuat Sinergi Lintas Sektor, Tabanan Optimistis Wujudkan Generasi Sehat Berkualitas

Keunggulan utama dari teknologi Biomi ini terletak pada kemampuannya mempercepat proses dekomposisi atau penguraian bahan organik pada kotoran ternak secara signifikan. Jika pengomposan konvensional membutuhkan waktu berbulan-bulan, sentuhan mikroorganisme dalam formula Biomi mampu memangkas waktu pematangan hingga menjadi jauh lebih singkat dan efisien.

Selain mempercepat waktu pembuatan pupuk, formulasi hayati ini bekerja aktif mengikat amonia. Kemampuan tersebut membuat aroma menyengat dari kotoran dan urin sapi berkurang drastis sejak awal pengaplikasian. Hasil akhir dari proses dekomposisi ini adalah pupuk organik kaya hara yang sangat stabil, bebas dari patogen berbahaya, dan siap diaplikasikan untuk meningkatkan kesuburan tanah pada lahan pertanian hortikultura.

Berita Terkait:  BAMA Gelar Sesi Kedua Pelatihan Mandarin, Fokus Percakapan di Bandara

Sosialisasi penanganan limbah ini telah dilakukan melalui serangkaian kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Internasional bertajuk “Community-Based Balinese Cattle Waste Management at Amertha Sari II Farmer Group to Enhance Environmental Sustainability and Farm Productivity in Kesiut Village”. Kegiatan edukasi dan praktik lapangan tersebut berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026.

Lokasi pelaksanaan program berpusat di Kelompok Tani Ternak Amertha Sari II, Banjar Kesiut Kangin, Desa Kesiut, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Kelompok ternak ini menjadi percontohan bagi penerapan sistem pengelolaan limbah berbasis komunitas yang berkelanjutan.

Berita Terkait:  Bunda Rai Apresiasi Semangat Duta Tabanan, Kobarkan Kecintaan Generasi Muda pada Seni Paduan Suara

Program berskala global tersebut lahir dari kolaborasi lintas negara. FPST Universitas Warmadewa menggandeng dua perguruan tinggi luar negeri, yaitu Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia dan Pampanga State Agricultural University (PSAU) Filipina. Keterlibatan mitra internasional ini membawa ragam perspektif dan keahlian baru dalam memetakan manajemen limbah peternakan yang ramah lingkungan sekaligus produktif bagi pertanian hortikultura di Bali. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI