Barometer Bali | Tabanan – Duka mendalam menyelimuti Bali pasca-insiden berdarah yang terjadi di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tragedi yang berakar dari dugaan aksi pencurian ayam tersebut berujung maut dan merenggut satu nyawa.
Menanggapi peristiwa memprihatinkan ini, Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (DPK PERADAH) Tabanan, Gede Made Bayu Mertha Putra, menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam, sekaligus mengajak masyarakat untuk merenungi dampak sosial dari tragedi tersebut secara lebih jernih dan teduh.
Dua Sisi Realita yang Menjepit
Dalam keterangannya, Made Bayu Mertha Putra menggaris bawahi kompleksitas masalah yang melatarbelakangi peristiwa ini. Menurutnya, ada dua sudut pandang manusiawi yang saling berbenturan dan sama-sama berada dalam kondisi tertekan:
- Sisi Peternak: Rasa keresahan dan kejengkelan yang menumpuk akibat kerugian materiil karena ternak yang terus-menerus hilang.
- Sisi Pelaku: Tekanan ekonomi dan himpitan hidup yang memicu tindakan nekat demi menyambung hidup keluarga. “Di satu pihak ada kegelisahan peternak ayam yang merugi karena ternaknya sering hilang. Di pihak lain, ada orang yang hidupnya terjepit hingga terdorong mencuri demi bertahan hidup,” ujar Bayu Mertha Putra.
Ia menyoroti betapa tragisnya ketika konflik atas nilai materiil yang tidak seberapa justru berujung pada hilangnya nyawa dan menyisakan luka mendalam bagi kedua belah pihak.
“Siapa yang dirugikan? Semua pihak. Pihak terduga pelaku kehilangan nyawa, sedangkan pihak peternak mengalami kerugian materiil. Namun yang paling krusial dari semua ini adalah merosotnya nilai moral, tergerusnya cinta kasih, serta memudarnya pemahaman akan nilai Tri Hita Karana di tengah masyarakat,” lanjutnya.
Menjaga Hati, Mengembalikan Nurani
Melalui pernyataan resminya, Peradah DPK Tabanan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak larut dalam amarah maupun penghakiman yang memperkeruh suasana. Tragedi ini hendaknya dijadikan bahan evaluasi dan introspeksi bersama, bukan untuk saling menuding.
“Tindakan Asubha Karma sudah pasti menghasilkan penderitaan, maka dari itu mari kita bersama-sama memupuk kesadaran bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah,” pungkas Made Bayu Mertha Putra.
Di tengah duka yang ada, harapan besar disematkan agar kedamaian, rasa saling peduli, dan nilai-nilai keharmonisan dapat kembali bersemi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Tabanan. (rah)










