Asa Penjual dan Pengrajin di Balik Redupnya Tren Batu Akik

Screenshot_20260812_224910_ChatGPT
Redho, pedagang sekaligus pengrajin batu akik di kawasan Pasar Turi, Surabaya tetap bertahan di balik redupnya tren tersebut. (barometerbali/ilustrasi)

Barometer Bali | Surabaya – Batu akik tak lagi “bersinar” seperti dulu. Bukan karena pesona batunya memudar, melainkan tren yang pernah membuat batu akik begitu diburu kini telah jauh meredup.

Kondisi itu sangat berbeda dibandingkan periode 2014–2015. Kala itu, demam batu akik melanda hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk Kota Surabaya. Batu dengan beragam warna, motif, dan jenis menjadi buruan, bahkan sebagian memiliki harga jual yang cukup tinggi.

Di ibu kota Provinsi Jawa Timur, sejumlah titik seperti kawasan Pasar Turi dan Jalan Kayoon pernah menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dan pengrajin batu akik. Di sekitar Pasar Turi, dekat kawasan pemadam kebakaran, para pedagang dengan meja-meja kayu berjejer menawarkan beragam koleksi batu dan cincin kepada pembeli.

Mereka bukan hanya menjual batu akik. Sebagian juga menjadi pengrajin yang memproduksi cincin dan berbagai perhiasan lainnya. Berbekal alat potong serta mesin gerinda untuk mengasah batu, mereka mengubah bongkahan batu menjadi perhiasan yang memiliki nilai jual.

Namun waktu berlalu. Demam batu akik yang pernah begitu tinggi perlahan mendingin. Pamornya tak lagi sekuat satu dekade lalu. Pembeli berkurang dan banyak pedagang akhirnya memilih meninggalkan usaha tersebut.

Berita Terkait:  Ribuan Crosser Ramaikan JAC ke-11, Semarakkan HUT Kota Negara ke-131

Bertahan Sejak 2013
Di tengah meredupnya tren tersebut, masih ada pedagang dan pengrajin yang memilih bertahan. Salah satunya Redho, pedagang sekaligus pengrajin batu akik di kawasan Pasar Turi, Surabaya.

Kepada media, Redho mengungkapkan bahwa sejak tren batu akik meredup, banyak rekannya memilih beralih profesi. Namun bagi dirinya, usaha yang telah dijalani sejak 2013 itu tetap menjadi sumber penghidupan utama meski pendapatannya tak lagi sebesar dahulu.

“Saya mulai jualan di sini sejak 2013,” ujar Redho sambil menata dagangannya.

Ia mengakui kondisi penjualan saat ini sangat berbeda dibandingkan ketika batu akik sedang booming.

“Kalau dulu bisa dibilang setiap hari ada pembeli, sekarang paling kadang-kadang saja,” katanya.

Meski demikian, Redho tetap bersyukur karena masih memiliki pelanggan setia yang datang mencari jenis batu tertentu. Kondisi pasar yang berubah juga membuatnya menyesuaikan modal dan jumlah stok.

“Kalau dulu modal bisa jutaan untuk stok batu, sekarang cukup ratusan ribu saja. Saya ambil seperlunya, sesuai permintaan,” jelasnya.

Harga Turun, Keuntungan Menipis
Persoalan yang dihadapi bukan hanya berkurangnya jumlah pembeli. Harga jual batu akik juga mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan masa kejayaannya.
Menurut Redho, pendapatan dari penjualan terkadang hanya cukup untuk mengganti modal dan menutup sebagian biaya operasional.

Berita Terkait:  Kwarcab Denpasar Kukuhkan 21 Pramuka Garuda Golongan Penggalang Tahun 2026

“Kadang hasil jual cuma cukup buat ganti modal. Untungnya tipis, tapi masih bisa bertahan,” katanya.

Perubahan harga bahkan terasa cukup drastis untuk jenis batu tertentu.

“Kalau dulu batu jenis tertentu bisa laku sampai ratusan ribu, sekarang paling sepuluh ribu juga orang sudah mikir-mikir,” ujarnya sambil tersenyum pahit.

Namun, kondisi tersebut tak membuat Redho meninggalkan pekerjaannya. Ia memilih tetap menjalankan usaha yang telah digelutinya selama bertahun-tahun.

“Ya, namanya usaha, tetap dijalani saja. Walaupun hasilnya sekarang tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, tapi daripada nganggur,” tambahnya.

Biaya Sewa Turun, Sedikit Ringankan Beban
Redho mengatakan tempat yang digunakannya untuk berdagang merupakan lokasi sewa. Di tengah lesunya usaha batu akik, penurunan biaya sewa setidaknya membantu meringankan beban pengeluaran.

“Iya, ini tempat sewa. Sekarang biaya sewanya malah turun dibanding beberapa tahun lalu,” katanya.

Menurutnya, biaya sewa yang lebih rendah cukup membantu mengurangi pengeluaran tetap setiap bulan.

“Kalau sewanya masih mahal seperti dulu, mungkin saya sudah berhenti jualan,” ucapnya.

Meski begitu, turunnya biaya sewa tidak serta-merta membuat pendapatannya meningkat. Semua tetap bergantung pada jumlah pembeli yang datang.

Berita Terkait:  Menuju Reuni 2027, Katrisma Gerakkan Ekonomi Lewat Expo 30 UMKM

“Pendapatan tetap tergantung pembeli. Kalau ramai, lumayan. Tapi kalau sepi, ya seadanya saja,” imbuhnya.

Andalkan Kualitas dan Pelanggan SetiaAsa 
Redho menilai perubahan tren menjadi faktor utama menurunnya pendapatan para pedagang batu akik. Masyarakat, menurutnya, kini memiliki pilihan dan ketertarikan yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu.

“Sekarang orang lebih tertarik ke hal-hal digital, gadget, atau aksesoris modern. Batu akik sudah jarang dilirik,” ungkapnya.

Di tengah perubahan zaman tersebut, Redho memilih strategi sederhana untuk mempertahankan usahanya: menjaga kualitas batu sekaligus merawat kepercayaan dan hubungan baik dengan pelanggan.

Pesanan khusus dari pelanggan lama menjadi salah satu penopang usahanya hingga sekarang. Ketika pelanggan mencari batu tertentu yang tidak tersedia, ia berusaha mencarikannya.

“Saya tetap jaga kepercayaan pembeli. Kadang ada yang pesan batu khusus, saya carikan. Itu yang bikin pelanggan masih datang,” tutur Redho.

Bagi Redho, masa kejayaan batu akik mungkin telah berlalu. Namun selama masih ada pelanggan yang mencari dan menghargai batu-batu tersebut, masih ada pula alasan baginya untuk membuka lapak, menata dagangan, dan mempertahankan usaha yang telah menjadi sumber penghidupannya sejak 2013. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI