Tak Lagi Jual Biji Mentah, Petani Desa Pengejaran Mulai Olah Kopi Sangrai Mandiri

IMG-20260821-WA0014_HexB2ZOo2U
Foto: Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Bangli — Ketergantungan petani kopi pada penjualan biji mentah (green bean) bermarjin rendah mulai dikikis oleh warga Desa Pengejaran, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sumber Wana, kelompok tani setempat kini melangkah mandiri mengolah hasil panen mereka menjadi produk kopi sangrai dan kopi bubuk berkualitas premium.

Lompatan rantai produksi ini didukung oleh penyaluran serta pendampingan teknologi satu unit mesin penyangrai (roasting) kopi modern dari tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).

Ketua Tim PkM Undiksha, Prof. Dr. I Gede Astra Wesnawa, M.Si., mengungkapkan bahwa selama ini nilai tambah terbesar dari industri kopi justru dinikmati oleh pihak luar karena keterbatasan fasilitas pengolahan di tingkat petani.

Berita Terkait:  Pemkab Tabanan Dukung HIPMI Perkuat Kontribusi Pengusaha Muda Wujudkan Tabanan Era Baru

“Selama ini petani kita hanya berhenti di tahap panen dan jemur lalu menjual biji mentah. Padahal lonjakan nilai ekonomi terbesar ada di proses roasting dan pengemasan. Kami ingin memutus rantai itu agar keuntungannya tinggal di desa dan dirasakan langsung oleh warga Pengejaran,” kata Wesnawa di Desa Pengejaran, Bangli, Kamis (20/8/2026).

Mesin roasting berkapasitas 5 kilogram per proses tersebut dibekali instrumen pengontrol presisi, seperti thermo drum digital, thermo beans digital, speed control, serta sistem pendingin (cooling blower). Kehadiran teknologi ini memungkinkan petani mengatur tingkat kematangan biji kopi sesuai preferensi pasar.

Berita Terkait:  Koster Dukung dan Siap Hadiri Karya Tawur Agung Manca Wali Krama Pura Ulun Danu Batur, Gede Darmawa: Terima Kasih

Perbekel (Kepala Desa) Pengejaran, I Wayan Arta, menyebutkan bahwa ketersediaan mesin penyangrai mandiri menjadi momentum penting bagi kemandirian ekonomi desanya.

“Sebelumnya kami tidak punya pilihan selain melepas green bean dengan harga tengkulak atau pembeli besar. Sekarang, secara bertahap LPHD Sumber Wana bisa menyangrai sendiri dengan standar mutu yang terukur. Kami optimistis bisa membangun merek kopi khas Desa Pengejaran yang punya daya saing tinggi,” tutur Arta.

Berita Terkait:  Delegasi Aliansi Pasifik Kunjungi Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Bahas Pariwisata Tangguh Bencana

Selain penyerahan fisik mesin, para pengurus LPHD Sumber Wana juga dibekali pelatihan teknis yang mencakup pengoperasian alat, manajemen suhu penyangraian, hingga perawatan rutin agar produksi dapat berjalan berkelanjutan.

Program hilirisasi ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Kewilayahan Tahun 2026. Inisiatif ini diproyeksikan menjadikan Desa Pengejaran tak sekadar sentra penghasil bahan baku, tetapi juga pusat olahan kopi mandiri di kawasan Kintamani. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI