Barometer Bali | Badung – Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menggelar latihan skala penuh penanggulangan keadaan darurat dengan melibatkan 860 personel lintas instansi, pada Rabu (24/9/2026).
Latihan tersebut menjadi agenda wajib yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali untuk menguji kesiapan seluruh unsur dalam menghadapi berbagai kondisi darurat di kawasan bandar udara.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airport Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Nugroho Jati, mengatakan kegiatan kali ini merupakan latihan penanggulangan keadaan darurat pertama yang digelar setelah pandemi COVID-19 berakhir.
“Ini adalah PKD (Penanggulangan Keadaan Darurat) yang pertama pasca-pandemi COVID selesai. Sehingga, kita menggabungkan latihan secara bersama-sama dalam satu hari exercise,” kata Nugroho.
Menurutnya, terdapat tiga skenario utama yang diuji dalam latihan tersebut. Pertama, penanganan kebakaran gedung atau building fire accident and incident. Kedua, airport security exercise untuk menguji kesiapan menghadapi ancaman keamanan terhadap bandar udara sebagai objek vital. Ketiga, penanganan kecelakaan pesawat, baik yang terjadi di dalam maupun di luar kawasan bandara.
“Untuk hari ini skalanya pada level tahapan di dalam bandara,” ujarnya.
Latihan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang tergabung dalam komite keamanan dan keadaan darurat bandar udara. Di antaranya TNI-Polri, maskapai penerbangan, operator ground handling, Imigrasi, Bea Cukai, Kantor Karantina, Basarnas, rumah sakit, pemadam kebakaran daerah, AirNav Indonesia serta sejumlah unsur terkait lainnya.
Nugroho menyebut latihan dilaksanakan dalam beberapa tahapan. Sore hari difokuskan pada building fire exercise, kemudian dilanjutkan dengan airport security exercise. Sementara pada malam hari dilakukan simulasi penanganan kecelakaan pesawat.
“Memang dipilih waktu malam hari untuk menguji kesiapan operasi malam, mengingat operasional Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai adalah 24 jam,” jelasnya.
Dari keseluruhan latihan tersebut, total personel lintas instansi yang dilibatkan mencapai 860 orang. Jumlah tersebut menunjukkan skala latihan yang melibatkan berbagai unsur terkait penanganan kondisi darurat di bandara.
“Total personel lintas instansi 860 personel, gabungan. Karena ini latihan adalah skala penuh,” kata Nugroho.
Nugroho juga menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kategori bencana yang menjadi perhatian dalam kesiapsiagaan Bandara Ngurah Rai. Dari tujuh kategori bencana yang telah ditetapkan, terdapat beberapa potensi yang menjadi prioritas utama.
“Kalau untuk bencana, tergantung dari kondisi dan keadaan bencana. Kami menetapkan klasifikasi disaster yang berpotensi terjadi di Bali,” ungkapnya.
Adapun potensi yang menjadi prioritas di antaranya aktivitas vulkanik Gunung Agung dan kawasan sekitarnya, tsunami, serta debu vulkanik akibat aktivitas gunung berapi di sekitar Provinsi Bali.
Menurutnya, setiap jenis bencana membutuhkan pola penanganan yang berbeda, termasuk ketika menghadapi kondisi seperti pandemi yang memiliki karakteristik berbeda karena tidak memiliki batas waktu yang pasti dan melibatkan banyak pihak.
Meski latihan digelar di sejumlah titik kawasan bandara, Nugroho memastikan operasional penerbangan tetap berjalan normal.
“Untuk latihan ini, kita tetap menjaga operasional Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai tetap berjalan dengan baik, lancar, tidak terganggu,” tegasnya.
Pihak bandara sebelumnya telah menyampaikan informasi melalui Notice to Airmen (NOTAM) terkait adanya kegiatan latihan di sisi udara yang berpotensi menimbulkan keterlambatan penerbangan.
“Namun, untuk operasional bandar udara tidak ada penutupan, tidak ada pengurangan, semua tetap berjalan,” jelas Nugroho.
Tiga lokasi menjadi titik utama pelaksanaan simulasi. Pertama, area gedung di tengah kawasan terminal internasional dan domestik, dengan skenario kebakaran pada salah satu hotel yang disimulasikan dapat berdampak terhadap lingkungan sekitar.
Kedua, General Aviation Terminal (GAT) untuk penerbangan private jet di terminal domestik, dengan skenario adanya ancaman keamanan penerbangan.
Ketiga, kawasan sisi utara landasan, yang digunakan untuk simulasi kecelakaan pesawat disertai kebakaran sehingga membutuhkan operasi pemadaman dan pertolongan terhadap korban.
Nugroho mengatakan latihan tersebut juga tidak ditujukan untuk mengganggu kinerja penerbangan.
“Untuk on-time performance, kita berharap semua sesuai schedule, tidak ada yang delay dan terdampak akibat latihan ini,” katanya.
Ia menegaskan tema latihan tahun ini menitikberatkan pada penguatan sinergi antarlembaga.
“Tema untuk latihan tahun ini, kita perkuat fungsi sinergitas lintas sektor dengan sinergi dan kolaborasi. Ini penekanan yang lebih kuat,”pungkasnya. (rian)










