Barometer Bali | Denpasar – Pemerintah Provinsi Bali optimistis pertumbuhan ekonomi Bali sepanjang tahun 2026 akan melaju kuat dan berpotensi mendekati angka 6 persen. Capaian positif ini didorong oleh kuatnya pemulihan sektor kepariwisataan serta penerapan tata kelola pemerintahan berbasis data (data-driven governance).
Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan dalam acara Temu Wirasa Stakeholder 2026 bertajuk “Data Pramana, Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan” yang digelar di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya, Lumintang, Denpasar, Jumat (23/10/2026).
Forum ini turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani, pakar manajemen Prof. Rhenald Kasali, serta jajaran pemangku kepentingan dan responden survei ekonomi Bali.
Dalam pemaparannya, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa struktur ekonomi Bali tergolong unik karena lebih dari 60 persen sangat bergantung pada dinamika kepariwisataan. Pada tahun 2025 saja, BPS mencatat kontribusi pariwisata Bali terhadap PDRB mencapai 66 persen.
“Kalau bicara ekonominya Bali itu mudah secara makro, karena 60 persen lebih bersumber dari pariwisata. Kuncinya simpel: jumlah kunjungan wisatawan asing maupun domestik itu naik atau turun,” ujar Koster di hadapan para undangan.
Koster membeberkan bahwa pergerakan wisatawan internasional secara harian dipantau ketat melalui dashboard realtime. Rata-rata kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) via udara saat ini berada di kisaran 22.000 hingga 25.000 orang per hari. Angka ini secara konsisten berada di atas capaian tahun 2025, di mana total kunjungan wisman memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah Bali dengan capaian 7.050.000 orang.
Meski sempat diuji oleh gangguan penerbangan global akibat dinamika geopolitik di Selat Hormuz dan kendala operasional Bandara Dubai pada Februari lalu, respons cepat pengalihan rute maskapai berhasil memulihkan kondisi pasar hanya dalam waktu dua bulan.
“Sampai Oktober ini, secara year-on-year jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali mengalami peningkatan lebih dari 1 persen dibanding 2025. Yang penting angkanya terus berada di atas rekor tahun lalu,” tambahnya.
Melalui matematika statistik dan pendekatan presisi, Koster menjelaskan perbedaan mendasar antara ekonomi Bali berbasis pariwisata dengan daerah kaya sumber daya alam (SDA). Meski daerah tambang mampu membukukan pertumbuhan fantastis, hasilnya sering kali terkonsentrasi pada pengusaha dan tidak merata. Sebaliknya, industri pariwisata menyebarkan dampak ekonomi langsung ke akar rumput (grassroot).
Geliat pariwisata Bali terbukti menghidupkan ekosistem usaha yang luas mulai dari perhotelan, transportasi, UMKM, hingga sektor pertanian sebagai penyedia bahan pangan. Hal ini berdampak langsung pada indikator kesejahteraan masyarakat: PDRB per kapita Bali tahun 2025 mencapai Rp72 juta, tingkat kemiskinan berhasil ditekan hingga 3,42 persen, dan angka pengangguran menjadi yang terendah secara nasional di angka 1,45 persen dengan Gini Ratio 0,34.
Melihat tren kuartal I hingga III tahun 2026 yang bergerak naik dari 5,58 persen ke 5,7 persen, Koster memproyeksikan laju ekonomi Bali hingga akhir tahun akan melampaui rata-rata nasional.
“Rata-rata pertumbuhan ekonomi kita dari kuartal 1 sampai 4 tahun 2026 minimum tidak akan lebih rendah dari tahun 2025. Bisa 5,9 persen, atau kalau bagus bisa mendekati 6 persen,” pungkasnya optimistis. (red)










