Barometer Bali | Gianyar – Gubernur Bali Wayan Koster kembali menegaskan arah pembangunan Bali melalui penetapan enam Kawasan Rendah Emisi Kerthi Bhumi Satwika. Ubud, Kepulauan Nusa Penida, Nusa Dua, Kuta, Sanur, dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Denpasar menjadi bagian dari langkah menuju Bali yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Kebijakan ini bukan sekadar penetapan kawasan. Lebih jauh, Koster sedang mendorong perubahan cara pandang terhadap pembangunan Bali. Pertumbuhan ekonomi dan pariwisata tidak boleh berjalan dengan mengorbankan lingkungan yang selama ini menjadi kekuatan utama Pulau Dewata.
Bali memiliki modal besar berupa keindahan alam, kekayaan budaya, dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Namun, modal itu tidak akan bertahan selamanya jika persoalan sampah, tekanan terhadap ruang, kebutuhan energi, dan kerusakan ekosistem tidak ditangani secara serius.
Melalui Kerthi Bhumi Satwika, Koster meletakkan lima pilar perubahan: energi hijau, transportasi hijau, ekosistem hijau, industri pariwisata hijau, dan masyarakat hijau. Kelima pilar tersebut diharapkan menjadi dasar untuk membangun pariwisata yang tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan masyarakat.
Tentu, kebijakan ini tidak cukup berhenti pada keputusan gubernur. Ukuran keberhasilannya terletak pada pelaksanaan yang konsisten, target pengurangan emisi yang terukur, pengelolaan sampah yang lebih baik, perlindungan kawasan pesisir, serta keterlibatan nyata pelaku usaha dan masyarakat.
Di sinilah tantangan Bali sesungguhnya. Pemerintah harus memastikan setiap kawasan memiliki program yang jelas, anggaran yang memadai, dan evaluasi berkala. Tanpa itu, kawasan rendah emisi berisiko hanya menjadi label, bukan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi Koster, menjaga lingkungan bukan berarti menghambat pembangunan. Justru sebaliknya, lingkungan yang sehat merupakan fondasi agar pariwisata tetap bertahan dan ekonomi masyarakat terus tumbuh. Pariwisata yang merusak daya dukung alam pada akhirnya dapat menggerus kekuatan Bali yang dicintai dunia.
Kerthi Bhumi Satwika menjadi ujian penting bagi arah pembangunan Bali ke depan. Koster telah menetapkan pijakan dan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan.
Bali tidak cukup hanya menjadi destinasi yang ramai dikunjungi. Bali harus tetap menjadi rumah yang nyaman bagi masyarakatnya, lestari alamnya, dan terjaga budayanya. Sebab, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang apa yang dinikmati hari ini, tetapi juga tentang apa yang masih bisa diwariskan kepada generasi mendatang.










