Barometer Bali | Singaraja – Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mendorong langkah strategis untuk mempercepat pemerataan ekonomi antara Bali Utara dan Bali Selatan. Pasalnya, aktivitas ekonomi dan realisasi investasi di Pulau Dewata hingga 2026 masih didominasi kawasan Bali Selatan.
Upaya tersebut dibahas dalam Forum Diskusi Strategis BALINOMICS yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Kantor Bupati Buleleng, Kamis (5/11/2026).
Forum yang mempertemukan pemerintah daerah, instansi vertikal, akademisi, pelaku usaha, dan media tersebut menjadi wadah merumuskan strategi konkret untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Bali Utara.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa kinerja perekonomian Bali pada 2026 tetap menunjukkan tren kuat. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada pada batas atas kisaran 5,4–5,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Namun, menurutnya, potensi ekonomi Bali belum sepenuhnya optimal karena aktivitas ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah selatan.
Hal itu tercermin dari kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kawasan Sarbagita yang mencapai 58 persen terhadap total PDRB Bali. Sementara itu, realisasi investasi di kawasan tersebut mencapai Rp30,49 triliun atau memiliki pangsa 81,64 persen sepanjang 2026.
“Potensi ekonomi Bali belum sepenuhnya optimal karena aktivitas ekonomi masih sangat terkonsentrasi di Bali Selatan,” ungkap Achris.
Ia menegaskan, pemerataan ekonomi perlu didorong melalui penciptaan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Strategi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat daya saing produk lokal, tetapi juga membuka lapangan kerja yang lebih luas.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Kabupaten Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni, yang mewakili Bupati Buleleng saat membuka forum, menyebut pengembangan Bali Utara merupakan bagian penting dari strategi penguatan ekonomi Bali secara menyeluruh.
“Ke depan, pengembangan Bali Utara sangat esensial yang sejatinya merupakan bagian dari strategi penguatan ekonomi Bali secara keseluruhan, agar manfaat pembangunan dapat dirasakan di seluruh wilayah Bali,” ujarnya.
Ia juga menekankan tiga strategi utama untuk mempercepat pemerataan ekonomi, yakni penguatan konektivitas Bali Utara–Selatan, pengembangan pariwisata Bali Utara yang berkualitas dan berkelanjutan, serta peningkatan nilai tambah sektor kelautan, perikanan, dan pertanian melalui hilirisasi.
Di sisi lain, Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng berharap pengembangan ekonomi Bali Utara dapat dilakukan melalui pembangunan ekosistem pertumbuhan yang terintegrasi.
Dengan demikian, semakin banyak nilai tambah ekonomi yang dapat dinikmati dan dipertahankan di wilayah Bali Utara.
Perkuat Konektivitas dan Ekosistem Ekonomi
Melalui BALINOMICS, BI Bali merekomendasikan penguatan konektivitas fisik dan digital, pengembangan pariwisata berkualitas, serta penguatan rantai nilai komoditas lokal sebagai langkah taktis pemerataan ekonomi.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dinilai menjadi faktor penting dalam merealisasikan strategi tersebut.
BI berharap BALINOMICS dapat menjadi katalis penguatan sinergi antarpihak untuk mewujudkan perekonomian Bali yang lebih merata, produktif, dan berkelanjutan.
Pemerataan pembangunan Bali Utara dan Bali Selatan diharapkan tidak hanya mengurangi kesenjangan antarwilayah, tetapi juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Bali yang lebih inklusif dan berdaya tahan. (red)










