Sejarah Puputan Badung Pertahankan Pluralrisme di Kota Denpasar

Foto: Anak Agung Ngurah Agung alias Turah Kingsan selaku Tokoh Puri Gerenceng Pemecutan dan K.H Heru Tugiono, tokoh FKUB Denpasar, Denpasar, Minggu (17/9/2023). (BB/212)

Denpasar | barometerbali – Anak Agung Ngurah Agung atau akrab disapa Turah Kingsan, salah satu tokoh Puri Grenceng Pemecutan menceritakan bagaiaman sejarah Puputan Badung di tahun 1906, selama 117 tahun konsep “Menyama Braya” telah mewujudkan kehidupan multikulturalisme dan pluralisme di Bali, khususnya di Kota Denpasar, sebagai suatu pandangan yang menyatakan adanya keberagaman dalam suatu masyarakat. Baik itu keragaman suku, budaya, agama, ras, etnis ataupun lainnya.

“Kejadian (Puputan Badung, red) yang terjadi pada 20 September 1906 tersebut, menceritakan bagaimana persatuan seluruh masyarakat dari berbagai lapisan di Bali berperang melawan Belanda, yang juga erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat di Kota Denpasar saat ini, di tengah keberagaman yang terjalin dengan harmonis menjadi bingkai dalam persatuan. Dengan begitu, perpecahan maupun permusuhan dapat kita hindari, terlebih jelang pemilu 2024,” ungkap Turah, Minggu (17/9/2023).

Berita Terkait:  Koster Upayakan Insentif Pecalang Se-Bali, Target 2027–2028

Turah juga menceritakan, pada saat itu pasukan Belanda telah tiba di Bali segera melakukan invasi militernya. Belanda, dengan peralatan perang modern membombardir daerah kekuasaan kerajaan Badung sejak pagi buta. Mereka pun melontarkan bom-bom lewat kapal perang belanda yang berjatuhan dari langit Denpasar.

Alhasil, istana, puri-puri, hingga rumah warga ikut terbakar. Oleh sebab itu, serdadu Belanda dengan cepat dapat memasuki wilayah kerajaan. Lantas, dalam kondisi terdesak, raja kemudian memutuskan untuk segara melawan. Sebab, untuk terus bertahan sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Artinya, puputan menjadi pilihan satu-satunya.

“Saat itu, di halaman depan puri nampak pemandangan sangat mengesankan. Mulai dari raja, permaisuri, para pangeran, pelayan, pendeta, kiai dan seluruh warga kerajaan memakai pakaian serba putih yang dilengkapi keris dan senjata-senjata kuno lainnya untuk melawan Belanda,” jelasnya.

Berita Terkait:  Kuasa Hukum Nilai Kasus Made Daging Dipaksakan, Polda Bali Dinilai Keliru Terapkan Pasal

Singkat cerita, peristiwa puputan pun hanya berlansung selama satu jam, yakni 11 hingga 12 siang. Selepas itu, keadaan menjadi sunyi sepi dengan timbunan mayat yang menggunung di lapangan.

Sementara itu, Tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Denpasar, KH Heru Tugiono menambahkan, bagaimana peristiwa Puputan Badung dalam perspektif pluralrisme di Bali, telah memabwa sikap saling menghormati para saudara-saudara muslim di Bali, mengajarkan mereka untuk saling menghormati dan menghargai antara manusia satu dengan manusia lainnya, menjadi pondasi utama dalam menjaga keberagaman di Bali.

“Saya yakin, kita semua menyadari bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi seluruh warga negara. Di Bali, meskipun memiliki perbedaan dalam berbagai hal, kita tetap satu dalam semangat kebangsaan. Kita adalah bangsa yang besar, yang memiliki keberagaman sebagai salah satu kekuatan kita,” ucap KH Heru.

Berita Terkait:  Pansus TRAP Telusuri Dugaan Pelanggaran Tata Ruang di Proyek KEK Kura Kura Bali

Menurutnya, saat ini banyak pihak-pihak ingin menghancurkan persatuan yang sudah lama terjalin di Bali, bagaimana mencoba memanfaatkan perbedaan yang ada untuk memecah belah keberagamaan di Bali saat ini. Untuk itu, pihaknya menegaskan untuk seluruh lapisan masyarakat di Bali tetap bersatu padu, menjaga persatuan dalam perbedaan.

“Saya mengajak kita semua untuk menjadi agen perubahan dalam membangun sikap tasamuh di sekitar kita. Mari kita mulai dari diri sendiri, dengan tidak membeda-bedakan orang lain berdasarkan suku, agama, atau budaya. Mari kita ajak orang lain untuk berdialog, untuk saling mengenal, dan untuk memahami perbedaan satu sama lain,” tutupnya. (BB/212)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI