Pengrajin Kain Endek Klungkung Didorong Beralih ke Green Product untuk Bersaing di Era Digital

Ket foto: Pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Warmadewa bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor di Klungkung pada Selasa (2/7/2024). (Sumber: barometerbali/mlt)

Klungkung | barometerbali – Para pengrajin kain endek di Kabupaten Klungkung, Bali, didorong untuk mengembangkan Green Product (produk hijau atau ramah lingkungan) dalam rangka meningkatkan daya saing mereka di era digital. 

Dorongan ini disampaikan oleh Dr. Made Setini, S.Kom., M.M,., NPDM. Akademisi Universitas Warmadewa, dalam kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Pengembangan Kelompok Inovasi Kain Endek Dalam Mendorong Digitalisasi UMKM di Kabupaten Klungkung, Bali” yang diselenggarakan oleh Universitas Warmadewa bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor di Klungkung pada Selasa (2/7/2024).

Setini menjelaskan bahwa untuk mampu bersaing di era digital INOVASI harus dilakukan terutama terkait dengan  pengembangan produk dan pemasaran tetapi lebih awal adalah fokus ke produk, adanya  mengembangkan produk hijau membuat para pengrajin kain endek dapat menarik minat konsumen yang semakin sadar akan kelestarian lingkungan. 

“Konsumen zaman sekarang semakin peduli dengan lingkungan, dan mereka lebih memilih produk yang ramah lingkungan,” kata Setini.

Berita Terkait:  JNE Berikan Bonus Puluhan Juta untuk Skuad Cosmo JNE FC yang Berprestasi membela Timnas di ajang Asia

Setini menambahkan bahwa pengembangan produk hijau juga dapat meningkatkan nilai tambah bagi produk kain endek.

“Produk hijau memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk biasa,” jelasnya.  

Dikatakan pula bahwa adanya pengembangan produk tentu terlebih dahulu harus diawali dengan STP (segmentasi, targeting, dan posisi pasar) yang akan disasar. Segmentasi pasar milenial menjadi target utama dalam pemasaran karena generasi ini adalah generasi penerus untuk kain endek yang menjadi warisan budaya. 

Lanjut dikatakan oleh Setini adanya STP akan memudahkan dalam penggunaan digital yang dijadikan mediasi promosi, tetapi sebelum hal tersebut dilakukan tentunya yang menjadi dasar utama penciptaan produk yang berbeda atau produk yang diferensiasi, salah satunya adalah produk hijau, dimana salah satu cara untuk mengembangkan produk hijau adalah dengan menggunakan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan. Pewarna alami ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menghasilkan warna yang lebih indah dan tahan lama.

Setini juga menyarankan para pengrajin kain endek untuk menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, seperti sutra dan katun organik.

Berita Terkait:  Ribuan Pacalang Siap Amankan Nyepi 1948 Saka, Gubernur Koster Tekankan Peran Strategis Sipandu Beradat

“Bahan baku yang ramah lingkungan ini akan membuat produk kain endek lebih berkualitas dan lebih diminati oleh konsumen, ditambah lagi adanya adopsi digital, yaitu penggunaan media Whatsapp, IG, Facebook, dan E-commerce, adanya inovasi produk hijau tentu akan mendorong penciptaan brand image, dengan segmentasi pasarnya adalah generasi milenial  yang melek teknologi,” menurutnya.

Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si yang juga merupakan akademisi Universitas Warmadewa menyampaikan green product bukan sebatas menggunakan bahan-bahan dari alam, namun yang lebih penting industri atau usaha yang dikelola mampu memanfaatkan atau mengolah limbahnya. Pengolahan limbah oleh industri akan menghasilkan produksi bersih, sehingga mengurangi eksploitasi terhadap sumber daya alam.

“Pengelolaan limbah menjadi kewajiban bagi industri, sebagai bagian dari pengelolaan limbah berbasis sumber, sesuai dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali. Pengelolaan limbah oleh industri juga menjadi upaya dalam mengimplementasikan konsep zero waste,” tegas Muliarta.

Menurut Muliarta, apabila industri mampu mengimplementasikan green product maka akan memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Harga produk yang dihasilkan juga akan ditawar lebih tinggi karena memiliki nilai tambah dibandingkan produk sejenis lainnya.

Berita Terkait:  Cegah Tindak Kekerasan pada Perempuan dan Anak, Ny. Seniasih Giri Prasta Perkuat Sinergi Forum PUSPA

Sedangkan akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. I Putu Santikayasa, M.Sc menjelaskan tantangan dalam dunia industri khususnya fashion saat ini adalah mampu berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca yang menjadi pemicu pemanasan global. Apalagi fashion industry berkontribusi terhadap emisi karbon global mencapai 8%.

“Secara tidak sadar kita bertanggung jawab terhadap dari apa yg terjadi, makanya saatnya menggunakan bahan alam untuk mengurangi emisi. Belum lagi untuk membuat satu potong pakaian membutuhkan 2.700 l. Jadi sangat jelas fashion memberikan dampak pada lingkungan,” papar Santikayasa. 

Sementara Ketua Kelompok Pengrajin Kain Endek Tini Shop, Tini Purwanti berkomitmen untuk mengembangkan green product. Namun ia berharap adanya pendampingan, khususnya dalam pemasaran green product hingga ke konsumen.

“Kami berkomitmen untuk menggunakan bahan-bahan lokal dan melakukan pengelolaan limbah, namun kami sangat berharap bisa dibantu pemasaran produk dari pengrajin hingga ke konsumen bisa lebih optimal,” tandas Tini Purwanti. (213)

Editor: Sintya

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI