Konsolidasi Bawaslu, Suguna Pesankan Beberapa Hal Dalam Memelihara Semangat Berdemokrasi

IMG-20250612-WA0026
Rapat Konsolidasi Bawaslu Bali yang dilakukan secara daring, pada Rabu (11/6/2025) (barometerbali/rian)

Barometer Bali | Denpasar – Bawaslu provinsi Bali menyampaikan meski Pemilu dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 telah usai, semangat menjaga demokrasi tidak boleh berhenti.

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Bali, I Putu Agus Tirta Suguna menegaskan bahwa proses demokrasi bukan sekadar soal memilih, tetapi soal merawat kehidupan berbangsa secara bersama-sama. Hal ini disampaikan dalam rapat konsolidasi secara daring yang digelar Rabu (11/6/2025).

Pria asal Gianyar tersebut menegaskan bahwa pengawasan pemilu bukan hanya tugas lembaga pengawas semata, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Berita Terkait:  Saksikan Pagelaran Singgasana Seni Bung Karno, Gubernur Koster Harap Sinergitas Budaya dan Peningkatan Ekonomi Kerakyatan

“Pemilu boleh berakhir, tetapi spirit pengawasan harus terus dipupuk di masyarakat. Demokrasi adalah sistem hidup yang kita pelihara bersama, bukan hanya saat masa kampanye atau pencoblosan, tetapi setiap hari, dalam pikiran, dalam sikap, dan dalam tindakan kita sebagai warga negara,”ujar Suguna.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar usai kontestasi politik adalah menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan politik. Suguna mengingatkan agar perbedaan pilihan tidak dijadikan alasan untuk memecah belah sesama anak bangsa.

Berita Terkait:  Mencari Keadilan untuk Orang Tuanya, Ilmiatun Nafia Laporkan Dugaan Penahanan Tak Sesuai Prosedur ke Komnas HAM

“Perbedaan pandangan politik itu wajar dalam demokrasi. Tapi jangan sampai kita terjebak pada fanatisme yang membutakan, apalagi sampai merusak persaudaraan kita. Demokrasi yang sehat justru tumbuh dari sikap kritis terhadap proses, bukan saling menyerang sesama,” tegasnya.

Suguna juga meminta jajarannya untuk mengajak masyarakat terus kritis terhadap proses-proses demokrasi, aktif mengawasi, serta berani menyuarakan hal yang benar. Namun ia menekankan, sikap kritis harus disalurkan secara konstruktif, bukan destruktif.

Berita Terkait:  Pecah!! 10 Tahun Vakum, Dentuman Jegog Suar Agung Kembali Guncang Jepang

“Kita harus membangun kesadaran publik bahwa, musuh utama demokrasi bukan perbedaan, melainkan kebencian yang dipelihara karena perbedaan. Spirit demokrasi bukan soal siapa yang kita dukung, tapi bagaimana kita bersikap adil kepada siapa pun yang terpilih,”pungkasnya (rian)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI