Barometer Bali | Gianyar – Terletak di dataran tinggi Kecamatan Tegallalang, Desa Manuaba menyimpan kekayaan budaya, sejarah, dan keindahan alam yang autentik. Desa ini mencerminkan harmoni antara warisan leluhur, struktur sosial masyarakat adat Bali, dan lingkungan yang masih alami.
Salah satu ikon spiritual desa ini adalah Pura Griya Sakti Manuaba, tempat suci penuh nilai sejarah dan spiritual yang menjadi pusat kehidupan religius warga. Keberadaan pura ini menegaskan keterikatan masyarakat Manuaba terhadap ajaran Hindu Bali dan tradisi leluhur.
Struktur sosial masyarakat Manuaba masih menjunjung tinggi sistem banjar dan adat, dengan semangat gotong royong yang kuat. Sistem irigasi tradisional (subak) yang tertata rapi menjadi bukti keteraturan dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Dari sisi ekonomi kreatif, Manuaba dikenal sebagai sentra kerajinan murda, simbol mahkota khas rumah adat Bali. Para pengrajin lokal juga memproduksi ukiran kayu bernilai seni tinggi, digunakan untuk rumah dan tempat suci. Ukiran-ukiran ini memiliki corak khas yang detail dan mengandung filosofi mendalam.
Secara alami, tanah Desa Manuaba sangat subur, dikelilingi hutan dan sawah yang menjadi bagian dari legenda lokal tentang “air kehidupan” yang mengalir dari kawasan suci menuju lahan pertanian. Suasana desa yang sejuk dan tenang menjadikannya ideal sebagai kawasan agrowisata dan ekowisata.
Tak jauh dari pusat desa, berdiri destinasi baru bernama Toya Ubud, terletak di Desa Kenderan yang masih dalam wilayah Tegallalang. Berkonsep ecopark dan waterfall, Toya Ubud menawarkan pengalaman wisata berbasis alam, budaya, dan spiritualitas. Lokasi ini dekat dengan Air Terjun Manuaba, serta dialiri sungai alami yang menambah kesejukan kawasan.
Pemilik Toya Ubud sekaligus pendiri Toya Devasya Group, I Ketut Mardjana, menyebut kawasan seluas 4 hektare ini sebagai “The Land of Inspiration”, tempat healing dan refleksi. Di lokasi ini, pengunjung bisa menikmati berbagai fasilitas seperti spot meditasi dan yoga, patung-patung bertema budaya, tenda glamping premium “The Keong”, restoran Bali, Tionghoa, hingga western, kolam renang, serta ruang pertemuan.
“Di sini nanti akan ada pusat edukasi budaya—seperti membuat sesajen dan patung—serta konsep healing dan spiritual yang akan menyegarkan pengunjung,” ujar Mardjana dalam media gathering di Di Hong Restaurant Toya Ubud.
Putrinya, Putu Ayu Saraswati, menambahkan bahwa Toya Ubud juga memperkenalkan aktivitas scent-making, yakni peracikan wewangian sesuai kepribadian pengunjung, yang menjadi daya tarik tambahan dalam konsep healing dan inspirasi.
Dengan segala potensi yang dimiliki—dari warisan budaya, kreativitas masyarakat, kesuburan alam, hingga udara yang segar dan sumber air murni—Desa Manuaba dan kawasan sekitarnya memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan ekologi di Bali. (red)











