Komposter Cepat Jadi Harapan Baru Atasi Sampah Organik di Bali

IMG-20250917-WA0032
Foto: Ketua TP PKK Provinsi Bali sekaligus Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Padas, Ibu Putri Suastini Koster saat mengunjungi Shiva Industries Indonesia di kawasan Bung Tomo, Denpasar, pada Selasa (16/9). (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Denpasar – Ketua TP PKK Provinsi Bali sekaligus Duta Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) Padas, Ibu Putri Suastini Koster, menegaskan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat dalam menangani sampah. Menurutnya, tidak ada lagi istilah membuang sampah, melainkan mengelola sampah agar kembali memberi manfaat bagi alam.

Pesan tersebut disampaikan saat mengunjungi Shiva Industries Indonesia di kawasan Bung Tomo, Denpasar, pada Selasa (16/9). Perusahaan ini dikenal sebagai produsen on-site rapid composter, yaitu mesin pengolah sampah organik yang mampu mengubah limbah dapur dan sampah organik lainnya menjadi kompos dalam waktu 24 jam.

Berita Terkait:  Mangrove Benoa Mati, BEM FH Unud Tekan Audit Lingkungan Terbuka

“Ini berita gembira di Denpasar. Mesin ini sangat membantu karena bisa mengolah sampah organik dalam jumlah besar, mulai dari 300 kilogram per hari. Sangat cocok untuk hotel, restoran, dan TPS3R. Jangan lagi dititipkan ke Suwung, semua bisa selesai di sini. Dari alam, kembali ke alam,” ujar Ibu Putri Koster saat meninjau mesin tersebut.

Ia menambahkan, Bali sudah terlalu lama salah dalam mengelola sampah. Selama 41 tahun, pola pikir masih bertumpu pada pembuangan, padahal solusi sebenarnya adalah pengelolaan sejak dari sumber. “Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Masyarakat sudah mulai sadar untuk bebas dari TPA di Bali,” tegasnya.

Berita Terkait:  Pemkab Bangli Gelar Aksi Bersih Sampah di Danau Batur, Libatkan Lebih dari 5.000 Peserta

Mesin komposter produksi Shiva Industries ini tersedia dalam berbagai kapasitas, mulai dari 300–500 kilogram hingga 1,5 ton sampah organik per hari. Harga satu unit mesin sekitar Rp400 juta. Menurut Ibu Putri Koster, jika setiap TPS3R memiliki satu mesin, maka masalah sampah organik bisa diselesaikan di tingkat komunitas atau desa.

Pendiri Shiva Industries Indonesia, Tobias Wilson, yang hadir bersama mitranya, Ketut Punia, menekankan bahwa teknologi ini dirancang untuk menjawab masalah mendesak di Bali. “Sampah organik mencapai 72 persen dari total sampah di Bali. Kami ingin membantu dengan teknologi yang murah dan ramah lingkungan. Prinsip kami, dari Bali untuk Bali. Kami juga berkomitmen untuk gerakan komunitas demi Bali bebas TPA,” ujarnya.

Berita Terkait:  Soroti Mangrove Mati, SMSI Bali Langsung Ajak Wagub Giri Prasta Tanam 1000 Bibit

Teknologi pengolahan ini menggunakan sistem digester aerobik yang tidak menghasilkan emisi serta membutuhkan perawatan minimal. Hasil olahan berupa kompos berkualitas premium dapat langsung digunakan untuk pertanian organik maupun penghijauan kota.

Dengan hadirnya inovasi ini, diharapkan Bali semakin cepat mewujudkan visi pengelolaan sampah berbasis sumber sekaligus mengurangi ketergantungan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini menjadi masalah kronis. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI