BERITA duka datang dari dunia seni Indonesia. Telah berpulang, maestro seni musik tradisional Bali, seniman I Gusti Kompiang Raka wafat di Rumah Sakit Husada, Jakarta, pada 19 Februari 2026.
Kompiang Raka adalah seorang maestro seni musik tradisional (gamelan) dan tari Bali. Ia merupakan satu-satunya musisi tradisional yang telah melakukan kolaborasi dengan berbagai musisi dan seniman dari berbagai genre, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Pengaruh Bali yang kuat telah ditancapkannya dalam berbagai karya kolaborasi monumental. Ia dijuluki sebagai Bapak Kolaborasi Indonesia dengan memberikan pengaruh Indonesia dalam setiap karyanya, ia berhasil menjadikan musik tradisional diterima di berbagai kalangan.
Kompiang Raka lahir Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar, Bali pada 28 April 1947. Dedikasinya pada bidang seni dan budaya tidak hanya terwujud pada pergulatannya dengan dunia musik, namun juga pada dunia tari. Ia membangun sekolah tari Bali Saraswati yang saat ini memiliki cabang di beberapa kota di Indonesia. Melalui Saraswati ia telah berhasil menumbuhkan kecintaan masyarakat untuk mempelajari kesenian tradisi sejak dini. Kurikulum sekolah tari Saraswati yang disusunnya menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah seni maupun sanggar-sanggar sejenis di berbagai tempat, termasuk di luar negeri.
Terlahir dari keluarga seniman, sejak usia 7 tahun Kompiang Raka telah tertarik dengan tarian, gamelan dan mulai ikut-ikutan latihan menabuh dan menari. Pada usia 9 tahun, telah terpilih menjadi salah satu Sekeha Gong di mana seluruh anggotanya adalah orang-orang dewasa, kemudian terpilih menjadi anggota tim kesenian sekolah yang pada waktu itu dibina dan dilatih oleh dua orang seniman terkenal, Tjokorda Agung Oka dan I Made Kerdek. Pada tahun 1967 ia hijrah ke Jakarta dan mulai aktif dalam kegiatan kesenian Bali dan ikut bergabung pada yayasan Yasa Sedana pimpinan Bapak Sampurno SH.
Pada April 1968, Kompiang Raka mendirikan Yayasan Saraswati di Jakarta, yang kemudian menjadi Yayasan Tari Bali Saraswati. Kompiang Raka juga tercatat pernah memimpin Gedung Kesenian Jakarta, sebagai Direktur Artistik. Ia juga sempat menjadi karyawan TIM sekitar tahun 1969. Pada tahun 1970, bersama dengan LKB Saraswati mengikuti sebuah festival kesenian di Adelaide, Australia.
Pada 1979, bersama dengan Guruh Soekarno Putra mencipta dan mengadakan pagelaran di Jakarta maupun di luar Jakarta. DKJ menugaskannya untuk mengikuti workshop teater anak-anak Asia di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun
Mengenyam pendidikan Stage and Art Management di Rotterdam, Belanda dan pernah menjadi bagian dari kontingen Indonesia dalam World Song Festival di Budokan Tokyo bersama Guruh Soekarno Putra.
Karya tarinya Kecak Sanghyang pernah dipentaskan dalam Festival Asia Collection di Kumamoto Jepang tahun 1989. Selanjutnya tahun 1992 terlibat dalam pementasan teater “Macbeth” dari Sanggar Putih Denpasar di Gedung Kesenian Jakarta. Pada tahun 1992 juga ikut dalam pementasan tari pada KTT Non Blok.
Pada tahun 1994, bersama Trisutji Kamal ia ikut serta pada Tour musik Ensembel di Spanyol, Afrika dan Mesir.
Pada tahun 1997, untuk kedua kalinya ia ikut Tour musik bersama Ensembel Trisutji Kamal ke Vatikan, Italia, Marseille dan Paris, Prancis dan dilanjutkan ke Yunani pada tahun 1998. Pernah memimpin rombongan Wayang Orang dalam Festival musik teater ke delapan kota besar di Belanda pada tahun 1999. Ikut dalam tour musik ke Thailand dan Prancis bersama ensembel Trisutji Kamal pada tahun yang sama.
Pada 2001, pernah membawa LKB Saraswati ke Los Angeles, Amerika Serikat dalam sebuah misi kesenian. Ikut serta dalam World Choir Olympic di Busan, Korea Selatan pada 2002 bersama Elfa Secioria. Pada tahun 2004 ikut serta dalam sebuah lawatan bersama Elfa Music Choir di Jerman.
Kompiang Raka pernah menjadi pengamat Festival dan Tokyo Arts Market di Jepang pada tahun 2005, pada tahun yang sama, bersama dengan rombongan LKB Saraswati dan Nusantara Symphony Orchestra. Ikut serta dalam Festival musik Symphony Asia di Jepang. Pada tahun 2006, Ikut serta dalam World Olympic Choir bersama Elfas Musik Studio yang di selenggarakan di Cina.
Sederet penghargaan baik nasional maupun internasional telah diraihnya, antara lain Ikon Prestasi Indonesia tahun 2017 dari Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila, Anugerah Kebudayaan tahun 2014 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Penghargaan Akademi Jakarta tahun 2013, Penghargaan Dharma Kusuma dari Gubernur Bali tahun 2005, Penghargaan World Song Festival, Budokan Tokyo, World Olympic Choir Champion dan lain-lain.
Selamat jalan Pak Kompiang Raka nyujur Sunialoka. Dumogi amoring Acintya.
Penulis: Komang Suarsana










