Tren Mengonsumsi Aneka Pangan Kukusan agar Puasa Lancar dan Tubuh Bugar

BARO FEB F 36
Tren makan aneka pangan kukusan agar puasa tetap lancar. (barometerbali/dok.© picture-alliance/Bildagentur)

Barometerbali.com | Denpasar – Umbi-umbian kukus dan makanan kukusan lain saat ini tengah jadi tren makanan di berbagai kalangan, banyak disukai anak muda baik di masa puasa Ramadan maupun bulan lainnya.

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa puasa bermanfaat kesehatan.

Salah satunya adalah penelitian yang dimuat dalam Nutrition Reviews (Oxford Academic): An umbrella review and meta-analysis of meta-analyses of the impact of Ramadan fasting on the metabolic syndrome components pada 2025 lalu.

Penelitian ini menyebutkan puasa Ramadan memberikan efek positif terhadap risiko sindrom metabolik (obesitas, dislipidemia, tekanan darah).

Namun, ini tak berarti kamu bisa bebas makan apa saja saat berbuka.

Banyak orang kerap berbuka dengan gorengan, makanan manis, dan makanan tinggi kalori.

Pernahkah tergoda untuk berbuka puasa dengan aneka hidangan serba kukus?

Umbi-umbian kukus dan makanan kukusan lain saat ini memang tengah jadi tren makanan di berbagai kalangan.

Makanan yang diklaim sehat ini kini makin banyak disukai anak muda baik di masa puasa atau bulan lainnya.

“Peminatnya lumayan banyak, dan yang minat sekarang bukan cuma yang berumur, yang muda-muda juga banyak sekarang yang mulai belajar makan sehat,” kata Idwan Satria, pemilik katering Sweet Delight Kitchen and Pastry yang juga menjual opsi makanan kukusan.

Jenis makanan kukus yang dijual Idwan dan istrinya bervariasi, antara lain jagung manis, ubi ungu, pisang, telur ayam, singkong, dengan harga mulai dari Rp12.000 untuk dua buah.

“Kami ikuti kemauan pelanggan, satu per satu, mulailah kelihatan ada yang suka pedas, ada yang enggak suka pedas, dan ada yang sedang program makan sehat. Kami putuskan berjualan makanan sehat juga yaitu aneka kukusan, salad buah, salad sayur. Akhirnya pelanggan suka dan alhamdulillah banyak yang order.”

Berita Terkait:  Hati-hati! Terlihat Sehat, Ternyata Menjebak: 8 Makanan Ini Justru Buruk bagi Kesehatan

Berbuka dengan Makanan Kukusan

Makanan serba kukus ini pun laris dibeli karena dianggap sebagai makanan sehat bahkan hingga viral belakangan ini.

Keviralannya juga menjadi salah satu perubahan nyata masyarakat Indonesia lebih sadar akan kesehatan.

“Tren di kalangan anak muda saat ini adalah self-care dan dengan banyaknya media sosial yang beredar dengan pengaruh dari idola yang berbadan ideal dan berolahraga rutin serta mengonsumsi makanan diet yang lebih banyak dikukus, tidak menggunakan minyak, membatasi konsumsi gula dan lemak,” kata Ika Setyani, ahli gizi dan humas ASDI (Asosiasi Dietitian Indonesia) Jakarta, kepada DW Indonesia.

Lalu apakah makanan kukusan viral ini bisa menjadi alternatif yang baik untuk berbuka puasa?

Ika setuju bahwa aneka hidangan yang dikukus ini baik disantap saat bulan puasa, baik sahur atau berbuka.

Dia mengungkapkan setelah berpuasa seharian, tubuh manusia mengalami dehidrasi ringan, penurunan gula darah, dan kekosongan lambung sehingga yang disarankan adalah makanan yang dapat mengembalikan tenaga dengan cepat, menghidrasi tubuh, tidak membebani lambung, dan bergizi seimbang.

“Baiknya hindari konsumsi langsung minuman yang mengandung gula yang terlalu tinggi, makanan yang mengandung lemak tinggi, makanan pedas berlebihan,” katanya.

Ika juga memberikan beberapa alasan mengapa makanan kukusan cocok disantap saat bulan puasa.

Alasan pertama, makanan yang dikukus tidak mengandung lemak tambahan sehingga lebih mudah dicerna, dan mengurangi risiko perut begah, mual ataupun asam lambung naik.

Berita Terkait:  Waspada! 15 Jenis Makanan Ini Berisiko Mengandung Mikroplastik Tertinggi

“Alasan kedua, makanan kukusan seperti jagung, ubi, singkong, mengandung serat sehingga dapat melambatkan penyerapan glukosa. Hal ini menyebabkan pelepasan energi jadi lebih stabil.”

“Namun, saat sahur selain makanan kukusan yang mengandung karbohidrat (ubi, singkong, jagung), tambahkan juga protein agar kenyangnya lebih lama.”

Makanan Kukusan Bisa Jadi Tidak Sehat Jika…

Teknik mengukus disebut-sebut sebagai salah satu cara memasak makanan yang paling baik.

Mengukus adalah cara memasak dengan menggunakan uap air panas tanpa kontak langsung dengan air.

Makanan yang dikukus bentuknya tidak berubah dan rasanya lebih alami karena kandungan zat gizi tidak banyak yang terbuang.

Sedangkan merebus merupakan teknik memasak dengan memasukan air ke bahan makanan.

Air yang masuk akan mengambil sari dan gizi dari bahan makan dan zat gizi yang larut dalam air.

Namun, Ika menyebut bahwa mengonsumsi makanan kukus juga harus memperhatikan porsi, komposisi, dan jenis makanan itu sendiri agar benar-benar memenuhi kebutuhan gizi harian.

Menjelaskan lebih lanjut, Septi Rizkiana, ahli gizi dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi mengatakan bahwa keseimbangan nilai gizi dalam hidangan kukusan yang dimakan juga harus jadi perhatian.

“Sekarang ini kebanyakan yang jual kurang padat gizi dan biasanya hanya karbohidrat. Dalam sekali makan jangan cuma ubi, singkong, jagung, pisang, tapi harus ada seimbang ada protein, sayur juga,” katanya kepada DW Indonesia.

Beberapa alternatif protein misalnya telur rebus, ayam kukus, tahu, tempe, dan sayuran seperti brokoli, atau bahkan sayuran mentah seperti mentimun atau selada.

Porsi dan kelengkapan nilai gizi ini jugalah yang disarankan Septi untuk menikmati makanan kukusan saat sahur ataupun berbuka puasa.

Berita Terkait:  Bikin Nagih! 7 Jajanan Buka Puasa Terlaris yang Selalu Diburu, Mana Favoritmu?

Selain itu, hidangan kukusan ini juga jadi tak sehat jika diberikan berbagai tambahan tertentu.

Dia mencontohkan, hidangan kukusan tak akan punya efek maksimal jika disantap bersama gorengan, topping yang terlalu manis atau yang berkalori tinggi, dimakan berkali-kali dalam satu hari, sampai dikonsumsi berlebihan.

“Misalnya yang dikukus itu kentang, tapi dimakannya pakai tambahan keju saus yang banyak, atau siomay. Siomay itu dikukus lho, tapi kamu makannya pakai bumbu kacang, saus sambal, kecap, dan makannya sering dalam porsi besar, ya jadinya sama saja bohong,” ucapnya.

Apa yang Harus Diperhatikan?

Seperti makanan lain, makanan kukusan juga tak bisa dinikmati oleh orang-orang dengan kondisi atau masalah kesehatan tertentu.

Menyantap aneka kukusan juga ada aturan mainnya.

Misalnya, orang dengan kondisi memiliki medis seperti penyakit ginjal tidak disarankan mengonsumsi makanan kukus terutama sayur kukus dan karbohidrat kukus lainnya.

Dibanding dikukus, mereka disarankan untuk makan aneka rebusan untuk mengurangi kadar kalium dalam makanan.

“Untuk pasien DM (diabetes melitus) hati-hati double karbohidrat saat beli makanan kukusan, khususnya yang isinya ada kentang kukus, jagung, dan ubi saja,” ujar Septi.

Selain itu, Ika dan Septi mengungkapkan juga bahwa konsumsi makanan kukusan khususnya umbi-umbian kukus juga tak boleh berlebihan.

Ada beberapa efek yang mungkin timbul jika kelebihan konsumsi umbi kukus, misalnya perut kembung, lonjakan gula darah, sampai peningkatan berat badan.

“Kalo orang yang lagi diet, dia mau defkal (defisit kalori), dia juga harus tahu maksimal makan (umbi kukus) berapa banyak,” ucap Septi. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI