Koster Ingatkan Ancaman Sampradaya Asing, Penguatan Desa Adat Jadi Benteng Budaya Bali

Screenshot_20260403_151728_InCollage - Collage Maker
Gubernur Bali Wayan Koster saat membuka Seminar Nasional Mawali Ring Uluning Kertha bertema strategi penguatan Dresta Bali dalam mencegah intervensi ideologi transnasional yang digelar oleh Forum Gerakan Adat Se-Nusantara Provinsi Bali di Gedung Ksirarnawa, Jumat (3/4/2026). (barometerbali/red)

Barometer Bali | Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya kewaspadaan kolektif terhadap masuknya pengaruh sampradaya asing berideologi transnasional yang berpotensi menggerus kekuatan budaya lokal Bali. Namun, langkah penguatan budaya harus dilakukan secara terukur, sistematis, dan tetap menjaga stabilitas sosial serta ekonomi daerah.

Penegasan tersebut disampaikan saat membuka Seminar Nasional Mawali Ring Uluning Kertha bertema strategi penguatan Dresta Bali dalam mencegah intervensi ideologi transnasional yang digelar oleh Forum Gerakan Adat Se-Nusantara Provinsi Bali di Gedung Ksirarnawa, Jumat (3/4).

Berita Terkait:  Gubernur Koster Serahkan Bantuan Korban Banjir Banjar Rp1,26 Miliar

Menurut Koster, Bali tidak memiliki sumber daya tambang seperti daerah lain. Kekuatan utama Pulau Dewata justru terletak pada budaya sebagai fondasi sektor pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat. Karena itu, menjaga budaya sama artinya menjaga masa depan Bali. 🌺

“Kalau budaya Bali rusak, maka pariwisata ikut terdampak dan ekonomi masyarakat juga akan terganggu,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa desa adat merupakan pilar utama penjaga identitas budaya Bali yang diwariskan secara historis dan sosiologis oleh para leluhur. Penguatan desa adat telah diperkuat melalui regulasi daerah, termasuk perlindungan bahasa, aksara, dan busana adat Bali sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan budaya.

Berita Terkait:  Koster Apresiasi RS Kasih Ibu Berhasil Sembuhkan Pasien Autoimun Bule Norwegia, Tingkatkan Citra Pariwisata di Mata Dunia

Koster juga mengingatkan bahwa Bali sebagai destinasi dunia menghadapi berbagai kepentingan eksternal yang terus masuk seiring arus globalisasi dan digitalisasi. Karena itu, penguatan Dresta Bali tidak boleh dilakukan secara konfrontatif, melainkan melalui pendekatan bijak, edukatif, dan berkelanjutan.

“Pendekatannya harus arif dan terukur. Kita harus tegas menjaga budaya, tetapi jangan sampai menimbulkan konflik horizontal yang justru merugikan Bali,” ujarnya.

Berita Terkait:  Pemkot Denpasar Gelar Bimtek Penyusunan LPPD, Perkuat Akurasi Data dan Kinerja Pemerintahan

Ia berharap seminar yang digelar FORGAS Bali dapat memperkuat pemahaman masyarakat—terutama generasi muda—agar tetap kokoh menjalankan ajaran Hindu Bali berlandaskan tattwa, susila, dan acara sesuai Dresta Bali yang hidup dan berkembang dalam sistem desa adat.

Menurutnya, penguatan peran tokoh adat dan kelembagaan desa adat menjadi kunci penting dalam menjaga ketahanan budaya Bali menghadapi tekanan ideologi luar di tengah dinamika global saat ini. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI