Barometer Bali | Denpasar – Di tengah persoalan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Denpasar, muncul sebuah solusi inovatif berbasis masyarakat dalam mengatasi sampah organik, khususnya sampah organik basah. Solusi tersebut datang dari tangan kreatif, Ana Rohanah Salamah pemilik Integrasi Maggot Unggas dan Tanaman (Kebun Imut) yang berlokasi di Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan.
Inovasi ini pun menarik perhatian Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, yang secara langsung mengunjungi Inovasi Kebun Imut untuk melihat proses pengelolaan sampah berbasis maggot tersebut pada Kamis (23/4) bersama Dinas terkait.
Dalam kunjungannya, Antari Jaya Negara mengapresiasi upaya yang dilakukan Ana dalam membantu mengurangi volume sampah organik di Kota Denpasar.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ana Rohanah Salamah karena telah berkontribusi membantu pemerintah dalam mengurangi sampah dengan sistem maggot ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, kunjungan tersebut juga bertujuan untuk melihat secara langsung kebutuhan sarana dan prasarana yang diperlukan agar pengelolaan maggot ini dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Selain sebagai tempat pengolahan sampah, Kebun Imut juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat tentang cara mengelola sampah yang baik dan ramah lingkungan.
Sementara itu, Ana Rohanah Salamah selaku pemilik Kebun Imut atau Rumah Imut menyampaikan rasa terima kasih dan mendapat anugrah besar dalam hidupnya atas perhatian dan kunjungan Ketua TP PKK Kota Denpasar ke tempatnya. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan sampah organik berbasis maggot menjadi salah satu solusi efektif dalam mengatasi permasalahan limbah organik.
Ana memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam yang mampu mengurai limbah organik hingga 70 persen, atau sekitar 50 hingga 100 kilogram per hari. Menurutnya, maggot merupakan makhluk yang sangat efektif dalam mempercepat proses penguraian sampah.
“Saya mengelola sampah organik berbasis maggot ini secara spontan. Melihat ciptaan Tuhan yang luar biasa, justru maggot ini mampu mengolah sampah organik dengan sangat baik,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ketika pengelolaan maggot dilakukan secara sistematis dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai, maka berapa pun volume sampah organik dapat dikelola dengan baik. Prosesnya dimulai dari pencacahan atau pembuburan sampah menggunakan mesin, sehingga memudahkan maggot dalam mengurai limbah tersebut.
Dalam siklusnya, larva maggot pada minggu pertama masih mengonsumsi sampah dalam jumlah kecil. Namun, memasuki minggu kedua, kemampuannya meningkat pesat, bahkan mampu menghabiskan sampah hingga dua kali lipat dari berat tubuhnya setiap hari. Hal inilah yang membuat proses penguraian sampah menjadi sangat cepat dan efisien.
Selain mengurangi sampah, maggot yang telah tumbuh juga memiliki nilai ekonomis karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak miliknya. Bisa diberikan baik dalam kondisi segar, kering, maupun diolah lebih lanjut. Sementara sisa penguraian sampah oleh maggot dimanfaatkan menjadi kompos atau kasgot yang berguna untuk berkebun.
Perjalanannya dalam mengelola sampah dimulai sejak tahun 2015. Meski sempat mengalami kendala dan berhenti, dalam dua tahun terakhir ia kembali mengembangkan metode ini hingga berjalan optimal.
Kini, Kebun Imut yang dikembangkan di lahan seluas dua are di Jalan Raya Pemogan, Gang Sholeh, menjadi tempat integrasi pengelolaan maggot, peternakan unggas, serta budidaya tanaman. Selain itu, hasil pengolahan sampah juga dimanfaatkan menjadi eco enzyme serta pengolahan minyak jelantah menjadi sabun.
Dalam pengelohan sampah Ana mengaku juga berkolaborasi dengan Go green deen, Bali Waste Management Training Center
Tps3r Kubu Lestari dan Komunitas Aksi Masyarakat Peduli Lingkungan. Dimana dalam Komunitas Aksi Masyarakat Peduli Lingkungan dia sebagai Ketua
Ana Rohanah Salamah berharap metode yang dikembangkannya dapat menjadi solusi alternatif yang dapat diterapkan secara lebih luas dalam upaya mengatasi permasalahan sampah organik di Kota Denpasar, sekaligus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. (Ayu/rah)










