Apakah Berbahaya Makan Mi Instan Setiap Hari? Simak Faktanya

BARO MEI F 17
Ilustrasi semangkuk indomi (barometerbali/dok.freepik)

Barometerbali.com | Denpasar – Siapa yang tak suka mi instan?

Hampir setiap orang menyukai makanan satu ini.

Selain rasanya yang enak, mi instan menawarkan harga yang ramah di kantong.

Sebagian besar mi instan memiliki kandungan nutrisi yang rendah dan tinggi garam, lemak jenuh, serta kalori. Bumbu-bumbu dalam mi instan juga seringkali mengandung bahan pengawet, pewarna, dan perasa buatan.

Meskipun begitu, mi instan masih menjadi kesukaan banyak orang.

Tak jarang, segelintir orang kerap mengonsumsi mi instan hingga setiap harinya.

Lantas, amankah mengonsumsi mi instan setiap hari? Berikut rangkumannya.

1. Nutrisi dalam mi instan

Mi instan umumnya terbuat dari tepung terigu, minyak sawit, garam dengan dilengkapi bumbu penyedap rasa atau MSG.

Meskipun mi instan memiliki berbagai varian, kandungan nutrisi pada mi instan umumnya sama.

Melansir Healthline, mi instan cenderung rendah kalori, serat, dan protein dengan jumlah lemak, karbohidrat, natrium, dan zat gizi mikro yang lebih tinggi.

Satu porsi mi instan ataupun ramen termasuk di dalamnya mengandung 188 kalori, 27 gram karbohidrat, 7 gram lemak total, 3 gram lemak jenuh, 4 gram protein, 0,9 gram serat, dan 861 gram mg natrium.

Berita Terkait:  Salah Satu Manfaat Mengonsumsi Buttermilk Bisa Bantu Sehatkan Jantung

Jika kamu memakan dua porsi sekaligus, jumlah nutrisi tersebut akan naik dua kali lipat.

Tentunya, kamu bisa bayangkan berapa kandungan nutrisi mi instan yang masuk ke dalam tubuh.

2. Mi instan rendah serat dan protein

188 kalori yang terdapat dalam mi instan lebih rendah dibandingkan jenis pasta lainnya.

Mi instan cenderung rendah kalori, protein, dan serat karena bahan baku utamanya adalah tepung terigu yang telah diolah.

Proses pengolahan ini menghilangkan sebagian besar nutrisi alami, seperti serat dan protein yang biasanya terkandung dalam biji gandum utuh.

Mi instan juga seringkali mengandung banyak lemak jenuh dan sodium tambahan.

Walaupun ada variasi mi instan dengan bahan tambahan seperti sayuran atau bumbu alami, dalam makanan seimbang, disarankan untuk mengonsumsi sumber nutrisi lain yang lebih kaya protein, serat, dan vitamin daripada mi instan.

Berita Terkait:  Jarak Jeda Waktu yang Aman untuk Berolahraga Setelah Makan, Berapa Lama?

3. Mi instan megandung mikronutrien

Meski relatif rendah serat dan protein, mi instan mengandung beberapa mikronutrien termasuk zat besi, mangan, folat, dan vitamin B.

Melansir Healthline, di Indonesia sendiri sekitar setengah dari mi instan telah difortifikasi dengan vitamin dan mineral, termasuk zat besi.

Sebuah penelitian menemukan, mengonsumsi susu dan mi yang diperkaya zat besi dapat menurunkan risiko anemia.

Penelitian pada tahun 2011 membandingkan asupan gizi 6.440 konsumen mi instan dan konsumen non mi instan menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi mi instan memiliki asupan tiamin 31% lebih besar dan asupan riboflavin 16% lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi mi instan.

4. Kandungan MSG pada mi instan

Kebanyakan mi instan mengandung bahan MSG, bahan tambahan makanan untuk meningkatkan rasa pada makanan olahan.

Sudah menjadi rahasia umum jika kehadiran MSG ini menjadi kunci penting kenikmatannya.

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) mengakui MSG aman untuk dikonsumsi, potensi dampaknya terhadap kesehatan masih kontroversial.

MSG juga secara alami ditemukan dalam produk-produk seperti protein nabati terhidrolisis, ekstrak ragi, ekstrak kedelai, tomat dan keju.

Berita Terkait:  Diakui Ahli Gizi, Ini 6 Manfaat Telur Setengah Matang untuk Kesehatan 

Beberapa penelitian mengaitkan konsumsi MSG yang sangat tinggi dengan penambahan berat badan dan bahkan peningkatan tekanan darah, sakit kepala, dan mual.

5. Meningkatkan risiko penyakit jantung

Mi instan juga dapat meningkatkan risiko terkena sindrom metabolik, suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Mi instan juga dapat meningkatkan risiko terkena sindrom metabolik, suatu kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Healthline mencatat pada sebuah studi tahun 2014 mengamati pola makan 10.711 orang dewasa menemukan bahwa makan mi instan setidaknya dua kali seminggu meningkatkan risiko sindrom metabolik pada wanita.

Sementara, studi lain mengamati status vitamin D dan hubungannya dengan faktor pola makan dan gaya hidup pada 3.450 orang dewasa muda menemukan bahwa asupan mi instan dikaitkan dengan penurunan kadar vitamin D. Ini juga dikaitkan dengan obesitas, didukung minimnya pergerakan tubuh dan asupan minuman manis. (ari)

 

 

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI