Barometer Bali | Denpasar – Bandesa Adat Kesiman Jero Mangku Ketut Wisna (JMW) mengungkapkan bahwa keberadaan Pura Dalem Mutering Jagad/Jagat tidak dapat dipisahkan dari sejarah Raja Bali Kuna terakhir, Sri Astasura Ratna Bumi Banten atau yang dikenal sebagai Dalem Watu Ireng atau Dalem Batu Ireng.
Menurutnya, Dalem Watu Ireng semula berkedudukan di Bedahulu, Gianyar disebut juga sebagai Dalem Bedahulu atau Sri Gajah Waktra yang merupakan pertapa ulung sehingga diberikan gelar Sri Tapolung. Namun, setelah pusat kerajaan tersebut runtuh akibat ekspansi kekuasaan Majapahit sekitar Tahun Icaka 1265 (1343 masehi), Dalem Watu Ireng bersama para pengikut setianya bergeser ke wilayah Bali selatan.
“Dalem Watu Ireng adalah Sri Astasura Ratna Bumi Banten, Raja Bali Kuna terakhir. Setelah Bedahulu runtuh karena ekspansi Majapahit, beliau berpindah ke Bali selatan bersama para abdi setianya. Jejak para pengiring itu hingga kini masih dapat dikenali melalui wilayah Manik Aji dan Pendem di Kesiman,” ungkap JMW saat diwawancarai di Denpasar, Minggu (7/6/2026)
Ida Dalem Watu Ireng dikenal sebagai sosok pemimpin yang memiliki kesaktian dan kesucian spiritual tinggi. Beliau dipercaya melaksanakan yadnya moksa di kawasan Sungai Ayung hingga mencapai penyatuan dengan alam semesta.
Di lokasi tersebut terdapat Batu Sima yang menjadi simbol penghormatan terhadap peristiwa suci tersebut. Hingga kini, kawasan Sungai Ayung atau We Ayu—yang berarti “air yang indah”—masih dianggap sebagai kawasan yang memiliki nilai spiritual tinggi karena menjadi sumber kehidupan sekaligus tempat penyucian diri bagi umat Hindu.
Keberadaan Batu Sima menjadi penanda sejarah perjalanan spiritual Ida Dalem Watu Ireng sekaligus menjadi dasar berdirinya Pura Dalem Mutering Jagad sebagai tempat suci untuk mengenang jasa serta kesuciannya.
Ia menjelaskan, setelah Dalem Watu Ireng mencapai moksa di kawasan Bali selatan, pemerintahan Majapahit kemudian membentuk Kerajaan Kertalangu. Pada masa itu, sistem pemujaan yang telah ada sebelumnya dikembangkan dan dikenal dengan nama Mutering Jagad.
“Karena beliau telah moksa di wilayah Bali selatan, kemudian didirikan Kerajaan Kertalangu oleh Majapahit. Tradisi pemujaan yang sudah ada sebelumnya dikembangkan menjadi Pura Mutering Jagad sebagai pusat spiritual masyarakat saat itu,” katanya.
Tempat moksa tersebut kemudian dikenal sebagai kawasan Kusima atau Kesiman, yang hingga kini menjadi lokasi berdirinya pura tersebut.
JMW menambahkan, pembukaan kawasan hutan lebat atau badeng untuk membangun pusat pemerintahan menjadi cikal bakal lahirnya wilayah Badung pada masa lampau yang memiliki cakupan kekuasaan dari Plaga hingga Uluwatu.
“Perabasan hutan badeng inilah yang kemudian menjadi asal-usul Badung nguni atau Badung kuno, dengan wilayah yang membentang dari Plaga sampai Uluwatu,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan adanya catatan sejarah yang menerangkan bahwa raja Bali pertama keturunan Majapahit pernah menghadiri atau nodia upacara karya melaspas Pura Mutering Jagad sekitar tahun 1350 Masehi. Momentum tersebut menegaskan kedudukan Pura Mutering Jagad sebagai Pura Dalem bagi kawasan Bali selatan.
“Ada sumber yang menyebutkan raja Bali pertama dari keturunan Majapahit datang untuk nodia atau menyaksikan pelaksanaan karya melaspas Pura Mutering Jagad pada tahun 1350 Masehi. Hal itu menunjukkan bahwa pura ini memiliki posisi penting sebagai Pura Dalem di Bali selatan,” ungkapnya seraya menyebutkan pujawali atau piodalan di pura ini jatuh pada Wraspati (Kamis) Wage Sungsang, bertepatan dengan rahina Sugihan Jawa.
“Ida Dalem Samprangan datang ke Pura Mutering Jagad pas saat Sugihan Jawa yang sekarang menjadi tegak pujawali ring Pura Mutering Jagad,” imbuh JMW.
Lebih lanjut, JMW menjelaskan bahwa Kerajaan Kertalangu (lokasinya diperkirakan di bekas bangunan Balitex, Kesiman, Denpasar Timur, pinggir Sungai Ayung, sekarang dibangun Monumen Kertalangu, red), dipimpin oleh keturunan Majapahit, yakni Ida Kuda Anyampiani, putra Ronggolawe yang dilanjutkan Kyai Pinatih Mantra yang kemudian menurunkan trah Arya Wang Bang Pinatih (AWBP). Dari pusat pemerintahan tersebut, wilayah Bali selatan dipimpin di bawah naungan Dalem Samprangan.
“Kerajaan Kertalangu dipimpin langsung oleh Kyayi Pinatih Mantra, putra Ronggolawe dari Majapahit, yang memerintah wilayah Bali selatan di bawah kekuasaan Dalem Samprangan. Hal ini menunjukkan eratnya keterkaitan sejarah Majapahit dengan perkembangan pemerintahan dan spiritualitas di kawasan Kesiman serta Bali selatan. Pura Dalem Mutering Jagad diempon oleh 32 banjar adat yang ada di wilayah Kesiman Kertalangu,” tutup JMW yang juga warih keturunan Arya Wang Bang Pinatih. (red)










