Barometer Bali| Denpasar – Bali Waste Cycle (BWC), startup asal Indonesia yang fokus pada pengelolaan dan daur ulang sampah plastik, semakin membuka peluang ekspansi bisnis. Inovasi pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi mengantarkan BWC menarik perhatian tiga investor internasional dalam ajang PepsiCo Greenhouse Program APAC 2026: The IMPACT Edition di Singapura, 13–16 Oktober 2026.
Dalam sesi diskusi investor pada program tersebut, BWC bahkan meraih jumlah voting tertinggi dibandingkan startup peserta lainnya. Pencapaian ini membuka peluang penjajakan kerja sama dan potensi pendanaan untuk memperluas bisnis daur ulang sampah plastik dan kemasan di Indonesia.
Program PepsiCo Greenhouse APAC menggunakan pendekatan matchmaking untuk mempertemukan startup terpilih dengan investor potensial. Melalui program ini, BWC berkesempatan memperluas jejaring bisnis sekaligus menjajaki peluang pengembangan usaha menuju skala komersial.
Tak hanya menarik minat investor, BWC juga terus mengembangkan inovasi agar sampah plastik dan kemasan tidak berhenti sebagai limbah, tetapi dapat diolah kembali menjadi produk yang memiliki fungsi dan nilai jual.
Bersama PepsiCo Indonesia, BWC menjalankan program pengumpulan, pemilahan, dan daur ulang kemasan, termasuk Multi-Layered Packaging (MLP) atau kemasan multilapis yang banyak digunakan untuk produk makanan ringan. Salah satu hasil pengolahannya berupa papan petunjuk jalan yang telah dipasang di Denpasar dan Gianyar, Bali.
Kolaborasi tersebut semakin diperkuat dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara PepsiCo dan BWC untuk menjajaki perluasan program pengelolaan sampah plastik di Indonesia. Meski demikian, implementasi dan kegiatan komersial lanjutan masih bergantung pada evaluasi, kesiapan operasional, potensi pasar, serta kesepakatan kedua belah pihak.
BWC Perluas Bisnis, Sampah Plastik Jadi Produk Komersial
Co-founder BWC, Putu Ivan Yunatana, saat diwawancarai Minggu (18/10/2026), menjelaskan bahwa BWC pada awalnya berfokus pada pengangkutan, pengumpulan, dan pemilahan material daur ulang melalui fasilitas Material Recovery Facility (MRF).
“Seiring perkembangan usaha, BWC memperluas kegiatan dengan mendorong pemanfaatan sampah plastik menjadi berbagai produk bernilai guna. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung penanganan persoalan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular,” ungkap Putu Ivan kepada media di Denpasar, Senin (19/10/2026).
Melalui dua entitas afiliasinya, BWC mendistribusikan material hasil pemilahan kepada PT Karfa Mulia Indonesia dan Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS).
Ivan, yang juga menjabat Direktur Utama PT Karfa Mulia Indonesia, menjelaskan bahwa material plastik tersebut dapat diproses menjadi bahan daur ulang untuk menghasilkan beragam produk komersial, seperti meja, kursi, gantungan baju, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga dan perkantoran. Produk-produk tersebut juga berpotensi dikembangkan sebagai cendera mata.
Sementara itu, melalui kerja sama dengan YKKS, material sampah kemasan hasil pemilahan BWC dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kaki palsu. Produk tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui donasi individu maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).
“Inovasi kaki palsu berbahan material hasil pemanfaatan sampah kemasan tersebut juga telah diperkenalkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dalam audiensi di Kementerian Lingkungan Hidup beberapa waktu lalu,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Putu Ivan Yunatana selaku Ketua Dewan Pembina YKKS memperkenalkan inovasi tersebut sebagai contoh pemanfaatan sampah untuk menghasilkan produk yang memberikan manfaat sosial.
Bidik Pasar Pariwisata dan Korporasi
Ke depan, BWC berencana mengembangkan berbagai program berbasis sampah plastik dan kemasan untuk memperluas pilihan produk daur ulang sekaligus membuka peluang pasar baru.
Sektor pariwisata dan korporasi menjadi salah satu pasar potensial yang dijajaki. Produk hasil daur ulang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, perkantoran, hingga pelaku industri pariwisata yang membutuhkan produk fungsional dengan pendekatan keberlanjutan.
Pengembangan pasar ini menjadi penting agar kegiatan pengumpulan dan pemilahan sampah memiliki rantai nilai yang berkelanjutan. Dengan demikian, material yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat kembali menjadi sumber daya ekonomi.
Ketertarikan tiga investor internasional serta penjajakan kerja sama dengan PepsiCo menjadi peluang bagi BWC untuk memperkuat posisi bisnisnya. Namun, realisasi ekspansi tetap membutuhkan kesiapan produksi, kepastian pasokan material, permintaan pasar, dan model usaha yang layak secara komersial.
PepsiCo Dorong Startup Menuju Skala Komersial
PepsiCo Greenhouse Program APAC 2026: The IMPACT Edition merupakan program berdurasi tujuh bulan yang dirancang membantu startup mengembangkan proyek percontohan menuju kesiapan komersial.
Program ini melibatkan lima startup alumni Greenhouse Program, yakni Adiona dari Australia yang mengembangkan optimasi rute berbasis kecerdasan buatan (AI) dan efisiensi armada; Bali Waste Cycle (BWC) dari Indonesia yang bergerak di bidang pengumpulan dan daur ulang kemasan fleksibel; Beijing AIForce Tech dari China yang mengembangkan mesin pertanian bertenaga listrik; Takachar dari Thailand yang mengembangkan teknologi portabel untuk mengubah residu pertanian menjadi biochar; serta X-Centric Sciences dari Australia yang bergerak di bidang teknologi kecerdasan tanah.
Melalui kerangka IMPACT, para pendiri startup memperoleh pendampingan dari tim lintas fungsi PepsiCo, mulai dari keberlanjutan, rantai pasok, pengadaan, riset dan pengembangan, operasional, keuangan, hingga hukum.
Pendampingan tersebut membantu startup mengevaluasi kesiapan teknis, operasional, komersial, dan kepatuhan sebelum solusi dikembangkan dalam skala lebih luas.
Sejak diluncurkan pada 2023, PepsiCo Greenhouse Program APAC telah melibatkan 30 startup dan mendukung 22 proyek percontohan di bidang ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, dan solusi iklim.
Bagi BWC, peluang menarik investor internasional dan memperluas kemitraan menjadi momentum untuk membuktikan bahwa pengelolaan sampah plastik tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga berpotensi membangun bisnis berkelanjutan yang menghasilkan nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat. (red)










