Dinkes Bali Tegaskan Belum Ada Kasus Zika Terkonfirmasi, Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Screenshot_20260824_133242_ChatGPT
Kadis Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., mengatakan berdasarkan hasil pemantauan melalui sistem surveilans kesehatan, belum terdapat laporan kasus Zika yang terkonfirmasi di Bali. (barometerbali/detik/ilustrasi)

Barometer Bali | Denpasar – Dinas Kesehatan Provinsi Bali menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus terkonfirmasi virus Zika di Pulau Dewata. Penegasan tersebut disampaikan menyusul pemberitaan mengenai Travel Health Notice Level 2 dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat terkait kewaspadaan terhadap Zika di Bali.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., mengatakan berdasarkan hasil pemantauan melalui sistem surveilans kesehatan, belum terdapat laporan kasus Zika yang terkonfirmasi di Bali.

“Berdasarkan data surveilans rutin yang kami terima dari Dinas Kesehatan kabupaten/kota serta rumah sakit se-Bali, sampai saat ini belum ditemukan adanya kasus terkonfirmasi Zika di Provinsi Bali,” kata Anom, Senin (24/8/2026).

Meski demikian, pihaknya tidak mengabaikan informasi dan peringatan kesehatan yang dikeluarkan secara global. Dinas Kesehatan Provinsi Bali bersama Kementerian Kesehatan RI tetap meningkatkan kewaspadaan sebagai langkah antisipasi.

Berita Terkait:  Tumpek Krulut, Koster Instruksikan Layanan Kesehatan Gratis Digelar Serentak di Bali

“Kami mengapresiasi sistem peringatan dini global. Informasi tersebut tentu menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan kewaspadaan dan deteksi dini, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus terkonfirmasi Zika di Bali,” ujarnya.

Anom menjelaskan, virus Zika umumnya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut juga menjadi vektor penular berbagai penyakit arbovirus lainnya, termasuk Demam Berdarah Dengue (DBD).

Infeksi Zika umumnya menimbulkan gejala yang relatif ringan, antara lain ruam, demam, mata merah, nyeri otot, nyeri sendi, tubuh terasa lemah, dan sakit kepala. Gejala biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 3 hingga 14 hari dan dapat berlangsung selama 4 sampai 7 hari.

Karena itu, Dinas Kesehatan Bali mengimbau masyarakat serta wisatawan domestik dan mancanegara yang berada maupun berkunjung ke Bali untuk tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.

Berita Terkait:  NADI JKN, Solusi Menjaga Keaktifan Peserta JKN

“Pencegahan menjadi hal penting. Kami mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk melaksanakan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan langkah tambahan untuk mencegah gigitan nyamuk,” jelas Anom.

Langkah tambahan tersebut antara lain menggunakan losion antinyamuk, kelambu maupun sarana perlindungan lainnya guna mengurangi risiko gigitan Aedes aegypti.
Dinkes Bali juga meminta masyarakat tidak mengabaikan apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Zika.

“Apabila mengalami gejala seperti demam, ruam, mata merah, nyeri otot atau persendian dan gejala lainnya, kami menganjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar dapat dilakukan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang tepat,” imbuhnya.

Sebagai langkah proaktif, Kementerian Kesehatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Bali juga tengah memperkuat sistem deteksi dini di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Berita Terkait:  NADI JKN, Solusi Menjaga Keaktifan Peserta JKN

Penguatan dilakukan melalui peningkatan kapasitas laboratorium dan jejaring surveilans atau Surveilabs untuk virus Zika serta arbovirus lainnya. Upaya tersebut mencakup peningkatan kemampuan pemeriksaan PCR dan serologi pada laboratorium daerah maupun laboratorium rujukan nasional untuk mendukung diagnosis secara cepat dan akurat.

Kewaspadaan juga ditingkatkan di pintu masuk negara, termasuk bandara dan pelabuhan melalui sistem kekarantinaan kesehatan. Sementara di tingkat fasilitas kesehatan, pemantauan terhadap gejala seperti demam, ruam dan nyeri sendi di puskesmas maupun rumah sakit terus diintensifkan.

Anom menekankan masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan upaya pencegahan terhadap perkembangbiakan nyamuk.

“Yang terpenting adalah tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Pemerintah bersama seluruh fasilitas kesehatan terus melakukan pemantauan dan memperkuat deteksi dini,” pungkas Nyoman Gede Anom. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI