Barometer Bali | Denpasar — Di tengah tren meningkatnya permintaan paket wisata yang berkesadaran, bermakna, berkelanjutan, dan rendah emisi, pelaku industri pariwisata Indonesia memperkuat kolaborasi melalui forum strategis IINTOA 2nd Table Top 2026 bertajuk “Bali Meets the World” yang digelar DPD Indonesia Inbound Tour Operator Association (IINTOA) Bali di Trans Resort, Seminyak, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan business matching ini melibatkan 60 seller dan 60 buyer yang terdiri dari DMC, tour operator, penyedia aktivitas wisata, restoran, hingga hotel. Forum tersebut menjadi ruang pertemuan langsung antara pelaku industri pariwisata dengan buyer potensial guna memperluas jejaring kerja sama sekaligus meningkatkan peluang transaksi wisata inbound ke Indonesia.
Ketua DPD IINTOA Bali, Made Sabda Dwipayana, A.Md.Par., S.M., menjelaskan bahwa Table Top merupakan agenda strategis organisasi dalam memperkuat konektivitas industri pariwisata.
“DPD IINTOA Bali menargetkan penyelenggaraan dua kali kegiatan Table Top di Bali dan satu kali kegiatan beyond Bali setiap tahun sebagai ruang temu bisnis anggota dengan buyer potensial global,” jelasnya didampingi Norberto Rodriguez selaku CEO come2indonesia.
Menurutnya, forum tatap muka seperti Table Top tetap menjadi instrumen efektif dalam meningkatkan efisiensi promosi destinasi sekaligus mempercepat realisasi kerja sama paket wisata lintas negara.
“IINTOA adalah organisasi tour operator yang memang mengkhususnya core business-nya inbound. Kami mengorganize ini memilih seller dan buyer yang benar-benar menyediakan produknya untuk konsumsi pariwisata internasional. Ke depannya kami akan menggelar acara ini lebih baik dan lebih besar lagi. Kali ini saja jumlah seller dan buyernya membludak,” tandas Sabda.
Pemprov Bali Dorong TableTop Jadi Agenda Tahunan Pariwisata
Pemerintah Provinsi Bali melalui Kabid Industri Pariwisata dan Ekraf Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ketut Yadnya, menyambut positif penyelenggaraan IINTOA Table Top 2026 dan mendorong agar kegiatan ini dapat digelar secara rutin setiap tahun sebagai bagian dari strategi promosi pariwisata Bali berbasis kemitraan industri.
“Ini salah satu cara kita mempromosikan Bali melalui business to business dan untuk memperoleh informasi terbaru dari partner-partner dan klien-klien, seller dan buyer. Event ini agar dibuat lebih besar dan menjadi identitas Bali,” harap Yadnya.
Menurutnya, forum seperti Table Top memiliki nilai strategis karena mempertemukan langsung pelaku industri pariwisata dalam satu ekosistem kolaboratif yang memperkuat promosi destinasi secara efektif.
Seller dan Buyer Nilai TableTop Dorong Produktivitas dan Koneksi Industri
Salah satu seller, Henita dari The ONE Legian, menyatakan kegiatan IINTOA Table Top 2026 memberikan dampak positif bagi pelaku industri perhotelan dalam memperluas peluang kerja sama bisnis.
“Cukup menginspirasi, kita bisa bertemu dengan beberapa buyer dan berharap bisa membawa energi positif kepada produktivitas bookingan,” tandas Henita.
Hal senada disampaikan Joshua, buyer dari A&T Holidays Lombok, yang menilai kegiatan Table Top memiliki manfaat strategis dalam menjaga konektivitas antar pelaku industri pariwisata nasional.
“Pertama, kita sebagai pelaku pariwisata harus senantiasa secara berkala meregistrasi, merestorasi, dan menyegarkan koneksi-koneksi kita dari berbagai daerah. Dengan hostingnya di Bali, ada agent-agent dari Balikpapan, Jogja, saya sendiri dari Lombok, dan Jakarta, itu perlu supaya kita tetap update siapa pelaku pariwisata yang masih relevan, bertemu orang-orang baru juga. Table Top ini sebagai bentuk koneksi yang solid dalam industri ini. Kita saling bertukar ide dan informasi,” papar pria yang akrab disapa Jo tersebut.
Forum Strategis Penghubung Buyer Global dan Pelaku Wisata Indonesia
Sebagai stakeholder penghubung buyer global dengan produsen pariwisata inbound Indonesia, kegiatan B2B maupun B2C menjadi sarana penting mempertemukan agen perjalanan dengan vendor secara langsung.
Selain memperkuat networking, Table Top juga membuka peluang kolaborasi antar pelaku industri untuk menyusun paket wisata yang lebih kompetitif dan adaptif terhadap kebutuhan wisatawan modern berbasis pengalaman (experience-based tourism).
Dalam beberapa tahun terakhir, industri perjalanan juga mengalami perubahan signifikan akibat percepatan digitalisasi serta pergeseran preferensi wisatawan menuju pengalaman yang lebih personal dan berkelanjutan. Namun di sisi lain, banyak pelaku usaha travel, khususnya skala kecil dan menengah, masih menghadapi kendala promosi, digitalisasi layanan, hingga akses informasi pasar internasional.
Karena itu, forum seperti Table Top dinilai menjadi wadah strategis untuk:
mempertemukan travel agent dan operator wisata, memperkenalkan destinasi baru
membuka peluang kerja sama lintas pasar
memperkuat kapasitas layanan pelaku usaha lokal.
IINTOA: TableTop Perkuat Kontribusi Pariwisata sebagai Penyumbang Devisa Negara
Ketua Umum IINTOA, Dr. Paul Edmundus Tallo, M.Par, menegaskan bahwa kegiatan Table Top menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi travel inbound sebagai penggerak utama arus wisatawan mancanegara ke Indonesia.
“IINTOA Table Top bukan sekadar forum pertemuan bisnis, tetapi platform strategis untuk memperkuat kolaborasi global dan meningkatkan daya saing pelaku inbound Indonesia. Kami berharap kegiatan ini mampu membuka akses pasar baru, memperluas kemitraan internasional, serta memperkuat kontribusi sektor pariwisata sebagai penyumbang devisa negara,” tuturnya.
Ia juga berharap forum ini mampu meningkatkan kesiapan pelaku industri dalam menjawab tren wisata masa depan yang semakin menekankan kualitas pengalaman wisatawan.
“Kami ingin anggota IINTOA semakin adaptif terhadap perubahan tren wisata berbasis pengalaman, berkelanjutan, dan digital. Table Top menjadi momentum penting agar travel lokal naik kelas dan semakin percaya diri bersaing di pasar global,” pungkas Paul. (rah)











