Barometer Bali | Denpasar — Penggunaan teknologi rumpon pelindung terbukti efektif menekan risiko kematian bibit mangrove akibat hempasan sampah pesisir, sedimentasi, dan alga hijau. Inovasi sederhana ini menjadi kunci meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) bibit mangrove di kawasan pesisir Kelurahan Serangan, Kota Denpasar, Bali.
Implementasi teknologi ini telah berjalan sejak 1 Juni 2026 melalui kolaborasi Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa bersama pemuda lokal yang tergabung dalam Sekaa Teruna Teruni (STT) Satya Hredhaya Banjar Dukuh. Implementasi merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat.
Ketua Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan FPST Universitas Warmadewa, Ir. Ni Made Darmadi, M.Si., menegaskan pentingnya pendekatan teknis yang tepat sasaran dalam setiap aksi rehabilitasi pesisir. “Rehabilitasi mangrove tidak cukup sekadar menanam, tetapi harus memastikan bibit tersebut mampu bertahan dari gangguan lingkungan perairan sekitar. Kolaborasi dengan masyarakat lokal menjadi kunci agar pelestarian ekosistem pesisir dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujar Ni Made Darmadi saat dikonfirmasi, Senin (3/8/2026).
Kawasan pesisir Serangan selama ini menghadapi tantangan berat berupa tingginya akumulasi sampah laut, sedimentasi lumpur, alga hijau, hingga organisme penempel yang kerap menutupi fisik bibit muda. Faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama rendahnya keberhasilan penanaman mangrove dengan metode konvensional.
Pemasangan rumpon pelindung berfungsi sebagai pembatas mekanis yang melindungi struktur bibit dari benturan sampah kayu maupun lilitan alga. Hasil pemantauan berkala pada 2 Agustus 2026 menunjukkan bibit mangrove yang dilindungi rumpon tumbuh jauh lebih optimal dengan tingkat kelangsungan hidup mendekati 100 persen.
Selain penerapan rumpon, kerja sama ini juga membangun bedeng penyemaian mangrove secara mandiri di lokasi. Langkah ini mendorong STT Satya Hredhaya Banjar Dukuh memproduksi bibit propagul secara independen tanpa bergantung pada pasokan bibit dari luar kawasan.
Sebanyak 20 anggota pemuda Banjar Dukuh bersama 10 dosen dan mahasiswa terlibat langsung dalam proses seleksi propagul, pengisian media tanam, hingga perancangan rumpon di tapak rehabilitasi. Model pemberdayaan berbasis komunitas dan inovasi tepat guna ini diharapkan dapat direplikasi di kawasan pesisir lain di Bali.











