Barometer Bali | Jakarta – Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih asal Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, Bali, berhasil mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Kelompok ini dianugerahi penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup, Kalpataru 2026, untuk kategori Penyelamat Lingkungan (Kalpataru Lestari).
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat, dalam rangkaian acara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Pameran Teknologi Lingkungan Internasional (INVIROTECH 2026) yang berlangsung di Jakarta, Kamis (11/6).
Kurma Asih mencatatkan diri sebagai satu dari hanya lima penerima apresiasi di kategori Kalpataru Lestari dari seluruh Indonesia pada tahun ini. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan mutlak negara atas dedikasi, konsistensi, dan keberlanjutan aksi nyata Kurma Asih dalam menjaga ekosistem pesisir serta menyelamatkan populasi penyu yang kian terancam.
Istimewanya, penghargaan tertinggi ini diterima Kurma Asih tepat di hari ulang tahunnya yang ke-29, sejak didirikan pada 11 Juni 1997. Prestasi ini sekaligus melengkapi pencapaian mereka sebelumnya, di mana Kurma Asih pernah menerima penghargaan Kalpataru pada tahun 2017 yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Ketua Kelompok Kurma Asih, I Wayan Anom Astika Jaya, mengungkapkan bahwa gelar “Kalpataru Lestari” ini merupakan buah dari komitmen yang tidak pernah putus dalam menyelamatkan satwa dilindungi, khususnya penyu lekang.
“Kelanjutannya setelah Kalpataru (2017), ada Kalpataru Lestari. Kurma Asih dinilai layak mendapatkannya karena kami semakin eksis, berkomitmen, dan konsisten berjalan terus sampai hari ini dalam menyelamatkan penyu lekang yang dilindungi undang-undang,” ujar Wayan Anom usai menerima penghargaan di Jakarta.
Kelompok Kurma Asih dikenal luas karena memelopori gerakan konservasi penyu berbasis pemberdayaan masyarakat lokal. Berawal dari keprihatinan terhadap maraknya perburuan telur dan penyu ilegal di masa lalu, kelompok ini berhasil mengubah paradigma masyarakat pesisir Jembrana dari yang awalnya pemburu menjadi pelindung utama satwa purba ini.
Keberhasilan Kurma Asih meraih Kalpataru Lestari di ajang INVIROTECH 2026 menjadi momen krusial. Di tengah tantangan perubahan iklim global dan ancaman polusi sampah plastik di lautan, kehadiran kelompok seperti Kurma Asih menjadi secercah harapan bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati Indonesia.
Di akhir keterangannya, Wayan Anom memberikan pesan kuat dan ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk peduli pada keseimbangan alam dari hulu hingga hilir.
“Ayo selamatkan yang masih tersisa dan yang masih ada mumpung belum terlambat. Ini bukan lagi tanggung jawab individu per individu, tapi tanggung jawab kita bersama. Hubungan antara hulu dan pesisir tidak bisa dipisahkan, itu satu kesatuan ekosistem. Kita harus sadar bahwa lingkungan yang baik pasti akan menjamin kehidupan kita menjadi lebih baik,” pungkasnya. (pro/rah)










