Barometer Bali | Bandung – Gubernur Bali Wayan Koster mendapat sambutan hangat saat tampil sebagai keynote speaker dalam 5th International Conference on Digital Humanities 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (18/7/2026). Kehadiran Koster menjadi sorotan dalam forum ilmiah internasional yang diikuti peserta dari 13 negara tersebut.
Mengusung tema “AI, Digital Ethics, and the Future of Geotourism”, konferensi ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk membahas perkembangan kecerdasan buatan, etika digital, serta masa depan geowisata. Selain Gubernur Koster, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman juga hadir sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, Koster memaparkan strategi pembangunan Bali yang bertumpu pada pelestarian budaya, kearifan lokal, dan keberlanjutan sebagai fondasi menghadapi era transformasi digital. Konsep tersebut dinilai relevan dengan perkembangan digital humanities yang mengedepankan harmoni antara teknologi dan nilai-nilai budaya.
Dekan Sekolah Pascasarjana Interdisiplin Manajemen dan Teknologi (SPIMT) ITB, Prof. Ir. Wahyu Srigutomo, S.Si., M.Si., Ph.D., mengatakan kehadiran Gubernur Bali dan Sekda Jawa Barat mencerminkan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Kehadiran Bapak Gubernur Bali dan Bapak Sekda Jawa Barat pada forum ini merupakan simbol bahwa perkembangan Artificial Intelligence, Digital Humanities, dan Geotourism memerlukan sinergi yang erat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Kita berharap kolaborasi ini semakin berkembang,” ujar Wahyu.
Ia menjelaskan, konferensi tahun ini terintegrasi dengan program perdana Tech Culture Summer Course yang mengombinasikan pembelajaran teori dan praktik mengenai artificial intelligence, digital humanities, digital ethics, hingga geowisata. Program tersebut mendapat respons tinggi dengan lebih dari 440 pendaftar dari 46 negara, sebelum akhirnya terpilih peserta dari 20 negara.
Setiap peserta diwajibkan menyusun karya ilmiah yang dipresentasikan dalam konferensi. Salah satu penelitian yang menarik perhatian berasal dari peserta asal Kolombia yang mengangkat studi komparatif mengenai pengembangan geowisata di Bali dan Peru.
Menurut Wahyu, kajian tersebut menunjukkan bahwa digital humanities mampu menjadi jembatan untuk menghubungkan berbagai karakter budaya dan geografis dari berbagai belahan dunia.
Bagi Koster, kehadiran di kampus Ganesha juga menjadi momen emosional. Gubernur Bali dua periode itu merupakan alumni ITB angkatan 1981 dari Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta kini menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Alumni ITB Bali.
“Saya menyelesaikan kuliah secara efektif dalam waktu lima tahun, lulus ujian tesis pada Desember 1986, dan diwisuda pada April 1987,” kenang Koster.
Ia mengaku bangga dapat kembali ke almamater, bukan hanya sebagai alumni, tetapi juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam forum internasional.
“Tentu saja saya sangat bangga mendapat kehormatan hadir sebagai pembicara hari ini, karena yang mengundang adalah kampus yang sangat saya banggakan,” ungkap Koster.
Partisipasi Koster dalam forum tersebut mempertegas pengakuan terhadap model pembangunan Bali berbasis kebudayaan yang memadukan kemajuan teknologi, pelestarian budaya, dan keberlanjutan. Pendekatan itu kini semakin mendapat perhatian sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan geowisata dan digital humanities di tingkat nasional maupun internasional. (rah)











