Barometer Bali | Denpasar – Transformasi fungsi pemasyarakatan terus diarahkan pada penguatan keterampilan produktif warga binaan sebagai bekal reintegrasi ke masyarakat. Langkah ini sejalan dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026, khususnya pada poin optimalisasi pemasaran produk hasil karya warga binaan melalui sinergi ekonomi.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Lapas Kelas IIA Kerobokan menggelar asesmen khusus bagi warga binaan di area bimbingan kerja, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini difokuskan untuk menjaring peserta yang memiliki minat dan bakat di bidang garmen guna dipersiapkan mengikuti pelatihan lanjutan.
Melalui proses seleksi yang objektif, pihak lapas melakukan pemetaan kompetensi dasar warga binaan agar program pembinaan dapat berjalan tepat sasaran. Harapannya, hasil pelatihan mampu menghasilkan produk sandang berkualitas tinggi yang memiliki daya saing di pasar.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Bali, Decky Nurmansyah, mengapresiasi inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa asesmen menjadi fondasi penting dalam menjaga mutu program pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas.
“Kami ingin memastikan setiap warga binaan memiliki bekal konkret. Asesmen garmen ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pintu bagi mereka untuk merajut kembali harapan dan masa depan yang lebih bermartabat,” ujarnya.
Melalui program ini, Lapas Kerobokan berupaya mencetak tenaga kerja terampil yang siap bersaing di industri kreatif. Di balik keterbatasan ruang, proses pembinaan terus berjalan, menunjukkan bahwa keterampilan dan kreativitas dapat menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih baik. (red)










