“Masimakrama” Tradisi Jumpa Keluarga di Manis Galungan

BB APRIL F 32
Hari Raya Galungan merupakan hari merayakan kemenangan kebaikan (Dharma) melawan kejahatan (Adharma). (Barometerbali/net)

Barometerbali.com | Denpasar – Pada hari Rabu, 23 April 2025 ini, umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Galungan atau Hari Suci Galungan. Sehari setelah Hari Raya Galungan adalah Hari Manis Galungan di mana krama (masyarakat) memiliki tradisi saling berkunjung antarkeluarga yang disebut Simakrama.

Dalam kalender Bali, Hari Suci Galungan jatuh pada Rabu Kliwon Wuku Dungulan yang terjadi setiap enam bulan sekali.

Secara garis besar, umat Hindu menghaturkan syukur dan ucapan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi pada momen tersebut.

“Hari Raya Galungan diperingati oleh umat Hindu Dharma Indonesia untuk menyatukan kekuatan rohani sehingga mendapatkan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang benar, serta memiliki pendirian yang tenang dan bijaksana,” jelas Ketua Parisadha Hindu Indonesia (PHDI) Provinsi Banten, Ida Bagus Alit Wiratmaja, Selasa (22/4/2025).

Hari Suci Galungan melibatkan berbagai rangkaian kegiatan, bahkan sejak 25 hari sebelumnya.

Setiap kegiatan tersebut mengandung makna tersendiri, berikut rangkaian Hari Suci Galungan dan maknanya.

Rangkaian acara Hari Raya Galungan:

1. Tumpek Wariga

Dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Buleleng, Tumpek Wariga dikenal pula sebagai Tumpek Bubuh, Tumpek Pengatag, atau Tumpek Pengarah.

Berita Terkait:  Peringati HUT Satpam ke-45, Polres Gresik Gelar Donor Darah untuk Kemanusiaan

Kegiatan ini diperingati 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.

Pada hari ini, umat Hindu di Indonesia memuja Sang Hyang Sangkara sebagai Dewa Kemakmuran dan Keselamatan Tumbuh-tumbuhan.

Tumpek Wariga menjadi wujud cinta kasih manusia terhadap alam, utamanya tumbuh-tumbuhan.

2. Sugihan Jawa

Sugihan Jawa dirayakan seminggu sebelum Hari Suci Galungan, tepatnya Kamis Wage Wuku Sungsang.

Pada hari ini, umat Hindu di Indonesia biasanya membersihkan merajan (tempat suci keluarga) dan rumah.

Mengutip dari laman Pemerintah Kabupaten Buleleng, kata “sugihan” berarti suci atau bersih, sedangkan kata “jawa” berasal dari kata “jaba” yang berarti luar.

Artinya, Sugihan Jawa adalah hari untuk membersihkan segala hal di luar diri manusia.

3. Sugihan Bali

Sugihan Bali jatuh setiap Jumat Kliwon Wuku Sungsang. 

Dilansir dari laman Pemerintah Kabupaten Buleleng, Sugihan Bali bermakna penyucian diri manusia menjelang Hari Suci Galungan.

Selain membersihkan diri secara fisik, umat Hindu di Indonesia biasanya memohon tirta gocara dari sulinggih (pemuka agama Hindu) sebagai simbol penyucian jiwa dan raga.

4. Hari Penyekaban

Berita Terkait:  Natal Ita Esa Bali, Merajut Iman dan Kebersamaan di Pulau Dewata

Hari Penyekeban jatuh setiap Minggu Pahing Wuku Dungulan, dan bermakna pengendalian diri dari melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Buleleng.

Momen ini menjadi waktu refleksi bagi umat Hindu di Indonesia untuk menjaga perilaku sebelum menyambut hari-hari suci berikutnya.

5. Hari Penyajan

Rangkaian kegiatan selanjutnya ada Hari Penyajan setiap Senin Pon Wuku Dungulan. Hari ini bermakna memantapkan diri dalam menyambut Hari Suci Galungan. 

Dilansir dari laman Pemerintah Kabupaten Buleleng, secara spiritual, umat Hindu di Indonesia dipercaya akan diuji pengendalian dirinya dan kesiapannya oleh Sang Bhuta Dungulan pada hari ini.

6. Hari Penampahan

Hari Penampahan pada Selasa Wage Wuku Dungulan dirayakan sehari sebelum Hari Suci Galungan.

Umat Hindu di Indonesia biasanya sibuk membuat penjor yang nantinya akan dipasang di depan rumah.

Ida Bagus menuturkan, tiang penjor dari bambu akan dihias dengan janur serta hiasan berwarna-warni.

Penjor melambangkan hubungan antara bumi dan langit.

“Penjor juga menggambarkan keindahan alam semesta dan kemakmuran, menjadi simbol penting dalam merayakan keseimbangan dan harmoni kehidupan,” tutur Ida Bagus.

7. Hari Suci Galungan

Hari Suci Galungan merupakan puncak dari rangkaian acara pada hari-hari sebelumnya.

Berita Terkait:  Hentikan Tragedi Bunuh Diri, Upacara Parisudha Jagat Digelar di Jembatan Tukad Bangkung

Secara garis besar, pada hari ini, umat Hindu di Indonesia menghaturkan banten atau sesajen yang terbuat dari hasil bumi, kue, dan air suci.

Mereka juga bersembahyang di pura, dengan mengenakan pakaian tradisional dan membawa sesajen dari tempat suci di rumah masing-masing, “Pada Hari Raya Galungan, masyarakat Bali akan memadati tempat suci pura dengan mengenakan pakaian tradisional dan membawa persembahan. Selain itu, mereka juga melakukan persembahyangan di tempat suci rumah masing-masing,” jelas Ida Bagus.

8. Hari Umanis Galungan

Selain melakukan persembahyangan di pura, ucap Ida Bagus, tradisi saling berkunjung antar keluarga yang disebut Simakrama atau Umanis Galungan pun menjadi momen penting.

Biasanya tradisi ini dilakukan satu hari setelah Hari Suci Galungan.

“Untuk Simakrama, ada waktu 11 hari sebelum perayaan Hari Raya Kuningan, dan umat Hindu bebas memilih waktu untuk melakukannya, namun umumnya dilakukan sehari setelah Hari Raya Galungan,” pungkas Ida Bagus Alit Wiratmaja. (ari)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI