Menatap Tragedi Juwuk Legi dengan Kepala Dingin: Asubha Karma Akan Menghasilkan Penderitaan

IMG-20260727-WA0018
Foto: Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (DPK PERADAH) Tabanan, Gede Made Bayu Mertha Putra. (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Tabanan – Duka mendalam menyelimuti Bali pasca-insiden berdarah yang terjadi di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan pada Jumat (24/7/2026) dini hari. Tragedi yang berakar dari dugaan aksi pencurian ayam tersebut berujung maut dan merenggut satu nyawa.

Menanggapi peristiwa memprihatinkan ini, Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (DPK PERADAH) Tabanan, Gede Made Bayu Mertha Putra, menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam, sekaligus mengajak masyarakat untuk merenungi dampak sosial dari tragedi tersebut secara lebih jernih dan teduh.

Dua Sisi Realita yang Menjepit

Berita Terkait:  Perkuat Disiplin dan Karakter ASN, Bupati Sanjaya Buka Diklat Bela Negara Angkatan I Tabanan 2026

Dalam keterangannya, Made Bayu Mertha Putra menggaris bawahi kompleksitas masalah yang melatarbelakangi peristiwa ini. Menurutnya, ada dua sudut pandang manusiawi yang saling berbenturan dan sama-sama berada dalam kondisi tertekan:

  • Sisi Peternak: Rasa keresahan dan kejengkelan yang menumpuk akibat kerugian materiil karena ternak yang terus-menerus hilang.
  • Sisi Pelaku: Tekanan ekonomi dan himpitan hidup yang memicu tindakan nekat demi menyambung hidup keluarga. “Di satu pihak ada kegelisahan peternak ayam yang merugi karena ternaknya sering hilang. Di pihak lain, ada orang yang hidupnya terjepit hingga terdorong mencuri demi bertahan hidup,” ujar Bayu Mertha Putra.
Berita Terkait:  Dinkes Tabanan Luncurkan "SIBER TABANAN", Sistem Kerja Terintegrasi dan Transparan Berbasis Data Real-Time

Ia menyoroti betapa tragisnya ketika konflik atas nilai materiil yang tidak seberapa justru berujung pada hilangnya nyawa dan menyisakan luka mendalam bagi kedua belah pihak.

“Siapa yang dirugikan? Semua pihak. Pihak terduga pelaku kehilangan nyawa, sedangkan pihak peternak mengalami kerugian materiil. Namun yang paling krusial dari semua ini adalah merosotnya nilai moral, tergerusnya cinta kasih, serta memudarnya pemahaman akan nilai Tri Hita Karana di tengah masyarakat,” lanjutnya.

Menjaga Hati, Mengembalikan Nurani

Berita Terkait:  Dukung UMKM Karangasem dan Perkuat Sinergi PKK se-Bali, Bunda Rai Hadir di Pasar Rakyat PKK Provinsi Bali

Melalui pernyataan resminya, Peradah DPK Tabanan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak larut dalam amarah maupun penghakiman yang memperkeruh suasana. Tragedi ini hendaknya dijadikan bahan evaluasi dan introspeksi bersama, bukan untuk saling menuding.

“Tindakan Asubha Karma sudah pasti menghasilkan penderitaan, maka dari itu mari kita bersama-sama memupuk kesadaran bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah,” pungkas Made Bayu Mertha Putra.

Di tengah duka yang ada, harapan besar disematkan agar kedamaian, rasa saling peduli, dan nilai-nilai keharmonisan dapat kembali bersemi di tengah-tengah kehidupan masyarakat Tabanan. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI