Padukan Spiritualitas dan Pemasaran, AA Gede Putra Raih Doktor Cumlaude

Screenshot_20260829_192531_InCollage - Collage Maker
AA Gede Putra berhasil memperoleh gelar Doktor dengan predikat Cumlaude (Dengan Pujian) pada Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya, Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Sabtu (29/8/2026. (barometerbali/red)

Barometer Bali | Denpasar – Spiritualitas di era digital tidak lagi hanya berlangsung dalam ruang personal maupun ritual keagamaan. Media sosial telah membuka ruang baru tempat nilai-nilai spiritual diproduksi, dikemas, dipasarkan, dikonsumsi, hingga dimaknai kembali oleh masyarakat.

Fenomena inilah yang menjadi fokus penelitian Anak Agung Gede Putra dalam disertasinya berjudul “Media Sosial, Spiritualitas, dan Konsumerisme: Studi Kasus Pemasaran Pembelajaran Spiritual pada SOUL”.

Disertasi tersebut ditulis untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Agama dan Kebudayaan, Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya, Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Gagasan yang ditawarkan, terutama keberaniannya mempertemukan perspektif pemasaran dengan spiritualitas, turut mengantarkan AA Gede Putra meraih kelulusan dengan predikat Cumlaude (Dengan Pujian).

“Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa perkembangan media sosial telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk bagaimana spiritualitas dipahami, dipelajari, dikomunikasikan, bahkan dipasarkan. Saya mencoba melihat proses tersebut secara lebih utuh, bukan hanya dari sisi spiritualitas digital, tetapi juga bagaimana makna itu dikonstruksi dan dikonsumsi,” kata AA Gede Putra.

Penelitian AA Gede Putra melihat kajian mengenai spiritualitas digital selama ini umumnya berfokus pada praktik keagamaan daring serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana komunikasi spiritual.

Namun, menurutnya, masih terdapat ruang penelitian mengenai bagaimana makna spiritual dikonstruksi, dikomodifikasi dan dipasarkan dalam sebuah ekosistem digital.
<span;>Kesenjangan itulah yang mendorongnya meneliti SOUL (Spirit of Universal Life) dengan menggunakan kerangka The Maker–The Market–The Meaning (3M)

Kerangka tersebut digunakan untuk membedah bagaimana spiritualitas dikemas di media sosial, bagaimana proses komodifikasi makna berlangsung, serta implikasinya terhadap pembentukan subjektivitas spiritual audiens.

“Spiritualitas dan pemasaran sering ditempatkan seolah-olah berada pada dua kutub yang berlawanan. Temuan penelitian ini justru menunjukkan relasi yang jauh lebih kompleks. Komodifikasi makna tidak selalu berarti menghilangkan autentisitas spiritual,” ujarnya.

Berita Terkait:  Mahasiswa Unmas Denpasar Ajak Warga Manukaya Olah Sampah Organik Menjadi Eco-Enzyme

Tawarkan Konsep “Managed Spirituality”

Salah satu kebaruan yang ditawarkan AA Gede Putra adalah konsep managed spirituality atau spiritualitas yang dikelola melalui kurikulum dan teknologi diri.

Konsep tersebut menggambarkan praktik spiritual yang tidak semata muncul secara spontan sebagai pengalaman individual, tetapi dapat dikelola dan disusun melalui pembelajaran, metode, kurikulum hingga pemanfaatan teknologi.

Namun, praktik tersebut memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi dapat menjadi instrumen emansipatoris yang membantu seseorang membangun dan mengembangkan dirinya, tetapi di sisi lainnya juga berpotensi menciptakan batas-batas tertentu terhadap pengalaman spiritual.

“Managed spirituality saya tawarkan untuk menjelaskan bagaimana pengalaman dan pembelajaran spiritual dapat dikelola melalui kurikulum serta teknologi diri. Di dalamnya terdapat dua sisi, yakni kemampuan untuk memberdayakan individu, tetapi pada saat yang sama juga berpotensi membatasi,” jelasnya.

Temuan penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa dalam konteks ekonomi spiritual digital di Indonesia, komodifikasi makna tidak serta-merta bertentangan dengan spiritualitas autentik.

Ari Dwipayana: Karya Akademik yang Keren

Salah seorang penguji, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, memberikan apresiasi terhadap perspektif yang ditawarkan AA Gede Putra.

Ari Dwipayana yang pernah menjadi Koordinator Staf Khusus Presiden dan memimpin Tim Komunikasi Presiden menilai disertasi tersebut mampu melihat spiritualitas dalam lanskap yang lebih luas, terutama ketika berhadapan dengan media dan pasar.

“Di sini spiritualitas tidak sekadar dipahami sebagai pengalaman batin, tetapi sebagai sesuatu yang diproduksi, dimediasi, dipasarkan, dikonsumsi, sekaligus dimanfaatkan kembali oleh konsumennya. Jadi saya mengucapkan selamat atas karya akademik yang keren ini,” ujar Ari Dwipayana.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi digital telah menciptakan ekosistem baru bagi spiritualitas. Audiens tidak lagi hanya menjadi penerima pasif, tetapi ikut memberikan pemaknaan terhadap produk maupun pengalaman spiritual yang mereka konsumsi.

Putu Suasta Soroti Model Pemasaran Baru

Berita Terkait:  Nutur Hukum Adat Bali, FH Unmas Denpasar Perkuat Kompetensi Dosen melalui Dialog Bersama Guru Besar

Apresiasi juga datang dari budayawan dan pengelana global Putu Suasta. Ia melihat kekuatan penelitian AA Gede Putra terletak pada keberaniannya menggabungkan disiplin pemasaran dengan spiritualitas.

Menurut Putu Suasta, pemasaran dalam konteks penelitian tersebut tidak berhenti pada persoalan menjual produk. Di dalamnya terdapat pemaknaan, nilai sakral, kepercayaan hingga proses transformasi manusia.

“Ini menawarkan suatu kebaruan. Pemasaran dipertemukan dengan spiritualitas, dengan pemaknaan, nilai sakral dan transformasi. Model seperti ini tidak hanya relevan bagi komunitas spiritual, tetapi bisa dikembangkan dalam pengelolaan berbagai lembaga,” tandas Putu Suasta.

Ia melihat pendekatan tersebut berpotensi diaplikasikan pada universitas, rumah sakit, organisasi keagamaan maupun lembaga lainnya yang menjadikan nilai dan kepercayaan sebagai bagian penting dari identitas organisasi.

Putu Suasta bahkan menyinggung perkembangan organisasi seperti Muhammadiyah sebagai salah satu contoh bagaimana tata kelola dan kepercayaan dapat membentuk integritas yang kemudian menjadi aset penting bagi perkembangan organisasi.

“Ketika nilai, kepercayaan dan tata kelola bertemu, integritas bisa menjadi kekuatan organisasi. Dalam perspektif itu, gagasan yang ditawarkan melalui penelitian ini memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan,” ujarnya.

Arsawan: Relevan dengan Perubahan Relasi Sosial

Sementara itu, pemerhati kebijakan publik dan penggiat UKM I Gusti Made Arsawan menilai penelitian AA Gede Putra relevan dengan realitas masyarakat kontemporer.

Perubahan teknologi, menurutnya, tidak hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga memengaruhi relasi sosial, aktivitas ekonomi hingga cara masyarakat menjalani kehidupan keagamaan dan spiritualitas.

“Realitas hari ini menunjukkan adanya perubahan pada relasi sosial, ekonomi, bahkan keagamaan. Karena itu, melihat spiritualitas dalam hubungannya dengan praktik ekonomi dan relasi sosial memiliki dasar konseptual yang masuk akal dalam kajian akademik,” papar Arsawan.

Menurutnya, penelitian tersebut menarik karena tidak terjebak pada dikotomi bahwa aktivitas ekonomi selalu berseberangan dengan nilai spiritual. Sebaliknya, keduanya dapat saling berinteraksi dalam kehidupan masyarakat modern.

Berita Terkait:  Koster Apresiasi SMKN 1 Amlapura Tembus Final LCC Empat Pilar MPR RI

Latar Profesional Perkuat Perspektif Pemasaran

Ketertarikan AA Gede Putra mempertemukan spiritualitas dan pemasaran juga tidak terlepas dari perjalanan akademik dan profesionalnya.

Pria kelahiran Gianyar, 11 Maret 1966 itu memiliki latar pendidikan lintas disiplin. Ia menyelesaikan pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada pada 1993, kemudian menempuh Magister Manajemen di Universitas Airlangga dan lulus pada 2002.

Kompetensi manajerialnya juga diperkuat sejumlah sertifikasi profesional, antara lain Sertifikasi Kompetensi Manajemen Risiko Level 4, Certified Wealth Management–MM UGM, 4 Disciplines of Execution, serta Certified Liquidator Indonesia.

Rekam jejak tersebut memberikan warna tersendiri terhadap perspektif yang dibangun dalam disertasinya. Pengalaman dalam dunia manajemen dan pemasaran dipertemukan dengan kajian agama dan kebudayaan sehingga melahirkan pendekatan interdisipliner.

AA Gede Putra juga memiliki sejumlah catatan prestasi profesional. Di antaranya, Best of The Best Region for Consumer Banking 2015, Best Region for Emerald Segment 2014, Best Region for Credit Card & Merchant 2014, serta Best Region for Asset Quality 2014.

“Latar belakang manajemen tentu memengaruhi cara saya melihat fenomena ini. Tetapi ketika masuk ke kajian agama dan kebudayaan, pemasaran tidak cukup dipahami hanya sebagai transaksi ekonomi. Ada makna, identitas, kepercayaan dan proses transformasi yang juga bekerja di dalamnya,” jelas AA Gede Putra.

Melalui disertasinya, AA Gede Putra pada akhirnya membawa diskursus spiritualitas keluar dari batas konvensionalnya. Spiritualitas ditempatkan dalam realitas masyarakat digital, ketika makna, media, pasar dan manusia bertemu dalam satu ekosistem baru.

Konsep managed spirituality dan kerangka The Maker–The Market–The Meaning (3M) yang ditawarkannya sekaligus membuka ruang penelitian lanjutan mengenai bagaimana spiritualitas berkembang di tengah semakin kuatnya penetrasi media sosial, teknologi dan ekonomi digital di Indonesia. (red)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI