Permintaan Melemah, Harga Properti Komersial Bali Terkoreksi pada Triwulan I 2026

InCollage_20260520_094602792_ErRhKoVp9O
Foto: Siaran pers Bank Indonesia Provinsi Bali. (barometerbali/rah)

Barometer Bali | Denpasar – Harga properti komersial di Bali pada triwulan I 2026 mengalami koreksi seiring melemahnya permintaan di sejumlah sektor. Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Harga Properti Komersial Provinsi Bali yang tercatat turun sebesar 5,85 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 6,81 persen secara triwulanan (quarter to quarter/qtq).

Berdasarkan siaran pers Bank Indonesia Provinsi Bali, penurunan harga terutama dipengaruhi koreksi pada segmen hotel sebesar 6,27 persen (yoy) serta ritel sewa sebesar 0,17 persen (yoy). Sementara itu, harga apartemen sewa dan perkantoran sewa justru masih mengalami peningkatan masing-masing sebesar 20,27 persen (yoy) dan 1,46 persen (yoy).

Berita Terkait:  Ekonomi Bali Tumbuh 5,58 Persen di Triwulan I 2026

Koreksi harga properti komersial paling besar terjadi pada sektor perhotelan. Hal ini dipicu meningkatnya tekanan kompetisi dan tingginya sensitivitas harga dari wisatawan domestik.

Selain faktor penyesuaian harga, pelemahan permintaan juga dipengaruhi faktor musiman. Indeks Permintaan Properti Komersial Bali pada triwulan I 2026 tercatat terkontraksi sebesar 9,27 persen (yoy). Penurunan permintaan terjadi pada segmen perkantoran sewa sebesar 14,91 persen (yoy), apartemen sewa 5,99 persen, dan hotel 15,02 persen (yoy).

Pada sektor perkantoran, penurunan terjadi akibat perubahan preferensi penyewa yang kini lebih memilih ruang kerja fleksibel dengan biaya lebih efisien. Sementara pada apartemen sewa, konsumen cenderung memilih masa tinggal yang lebih singkat, yakni satu hingga dua bulan, karena banyaknya alternatif akomodasi seperti vila dan resort.

Berita Terkait:  Dorong Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Bali, Bank Indonesia Gelar Baligivation 2026

Di sektor hotel, penurunan permintaan dipengaruhi berkurangnya wisatawan domestik dari sektor pemerintahan serta menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara akibat konflik geopolitik global.

Meski demikian, segmen ritel sewa justru menunjukkan pertumbuhan permintaan sebesar 13,49 persen (yoy). Kenaikan ini didorong masuknya sejumlah gerai franchise internasional, khususnya di bidang food and beverages (F&B) serta collectible and hobbies.

Di sisi lain, pasokan properti komersial Bali masih menunjukkan kondisi solid. Indeks Pasokan Properti Komersial pada triwulan I 2026 meningkat sebesar 4,48 persen (yoy), didorong kenaikan pasokan pada segmen ritel sewa sebesar 10,74 persen (yoy) dan hotel sebesar 2,35 persen (yoy).

Berita Terkait:  Liga Kampung Soekarno Cup III Tahun 2026 Provinsi Bali Resmi Bergulir, Wadah Menumbuhkan Nasionalisme dan Sportivitas Generasi Muda Bali

Bank Indonesia Provinsi Bali menyebut peningkatan pasokan ritel terjadi akibat ekspansi usaha yang menyasar segmen ekonomi kelas atas. Sedangkan pada sektor hotel, sejumlah hotel berbintang tetap menambah kapasitas kamar sebagai strategi jangka panjang untuk mengantisipasi prospek kunjungan wisatawan ke depan.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus mendorong pembiayaan perbankan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan properti komersial demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (rah)

BERITA TERKINI

Barometer Bali merupakan portal berita aktual masyarakat Bali. Hadir dengan semangat memberikan pedoman informasi terkini seputar sosial, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, pemerintahan, pariwisata, budaya dan gaya hidup. Visi kami sebagai barometer informasi terbaru masyarakat Bali. Misi kami menyuarakan kebenaran dan menyajikan berita independen, berimbang dan bermanfaat.

Member of:

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI

smsi

Member of:

smsi

SERIKAT MEDIA SIBER INDONESIA (SMSI) PROVINSI BALI