Barometer Bali | Badung – Perubahan iklim, ketidakpastian musim, serta meningkatnya biaya produksi menjadi tantangan yang semakin nyata bagi sektor pertanian di Indonesia. Kondisi tersebut juga dirasakan oleh para petani asparagus di Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.
Sebagai salah satu sentra produksi asparagus berkualitas premium, desa ini memiliki potensi ekonomi yang besar. Namun, produktivitas tanaman masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengelolaan irigasi yang belum optimal, efisiensi penggunaan pupuk, hingga perubahan kondisi cuaca yang sulit diprediksi.
Menjawab tantangan tersebut, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK ORMAWA) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Udayana (BEM FT UNUD) menghadirkan Program AMERTA sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Program ini resmi dimulai melalui kegiatan Pembukaan dan Sosialisasi Program AMERTA yang diselenggarakan di Ruang Rapat Kantor Perbekel Desa Belok/Sidan pada Jumat, 12 Juni 2026. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal terjalinnya kolaborasi antara Universitas Udayana dan Pemerintah Desa Belok/Sidan dalam mengembangkan penerapan teknologi Smart Farming bagi petani asparagus.
Kegiatan sosialisasi dihadiri oleh Perbekel Desa Belok/Sidan beserta perangkat desa, Kelian Banjar Dinas, perwakilan kelompok tani asparagus, tokoh masyarakat, serta Tim Pelaksana PPK ORMAWA BEM FT Universitas Udayana.
Kehadiran berbagai pihak menunjukkan komitmen bersama untuk membangun sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menghadapi tantangan sektor pertanian melalui pendekatan berbasis inovasi.
Dalam sambutannya, I Gusti Bagus Eri Widura selaku Ketua Tim Pelaksana Program AMERTA menjelaskan bahwa program ini dirancang berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat.
“Selama proses observasi lapangan, tim menemukan bahwa petani masih menghadapi berbagai kendala dalam menjaga kelembaban tanah secara konsisten, menentukan waktu penyiraman yang tepat, serta mengoptimalkan penggunaan pupuk agar lebih efisien. Permasalahan tersebut berdampak pada produktivitas tanaman dan meningkatkan biaya operasional budidaya,” jelasnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Belok/Sidan, I Made Rumawan, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Program AMERTA. Menurutnya, inovasi yang dibawa mahasiswa Universitas Udayana menjadi peluang bagi petani untuk mulai mengenal teknologi pertanian modern yang dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya secara berlebihan.
“Sebagai simbol dimulainya kerja sama antara pemerintah desa dan Universitas Udayana, dilakukan prosesi pengalungan name tag kepada Ketua Tim Pelaksana oleh Perbekel Desa Belok/Sidan. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya kemitraan dalam pelaksanaan Program AMERTA selama beberapa bulan ke depan,” jelasnya.
Mengenal AmerTani, Inovasi Smart Farming untuk Petani Asparagus
Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan dalam Program AMERTA adalah AmerTani, sebuah sistem Smart Farming berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk membantu petani melakukan penyiraman dan pemupukan secara otomatis berdasarkan kondisi lahan. Berbeda dengan sistem konvensional yang masih mengandalkan pengamatan manual, AmerTani memanfaatkan mikrokontroler ESP32 yang terintegrasi dengan sensor kelembaban tanah (soil moisture sensor) serta sensor unsur hara (NPK).
Data yang diperoleh diproses secara otomatis sehingga sistem dapat menentukan kapan tanaman membutuhkan air maupun pupuk. Teknologi ini juga didukung oleh panel surya (solar panel) sebagai sumber energi utama sehingga operasional perangkat menjadi lebih hemat energi sekaligus ramah lingkungan.
Seluruh informasi mengenai kondisi lahan dapat dipantau secara real-time melalui telepon genggam, sehingga petani memiliki akses terhadap data penting kapan pun diperlukan. AmerTani memiliki dua fitur utama, yaitu Smart Irrigation dan Smart Fertilizer. Fitur Smart Irrigation memungkinkan sistem mengaktifkan penyiraman secara otomatis ketika kelembaban tanah berada di bawah batas optimal. Sementara itu, Smart Fertilizer membantu mengoptimalkan pemberian pupuk daun sesuai kebutuhan tanaman.
Dengan pendekatan berbasis data, penggunaan air dan pupuk menjadi lebih efisien sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi kualitas hasil panen.
Pengabdian Mahasiswa yang Berdampak
Program AMERTA merupakan bagian dari skema PPK ORMAWA yang bertujuan memperkuat kapasitas organisasi kemahasiswaan dalam memberdayakan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga belajar berkolaborasi dengan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan nyata di lapangan.
Program ini mengusung nilai-nilai Tri Hita Karana sebagai landasan dalam setiap kegiatan. Filosofi tersebut diwujudkan melalui hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, dan Tuhan, yang diterapkan dalam pengembangan sistem pertanian modern tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan maupun nilai-nilai lokal masyarakat.
Selain memperkenalkan teknologi, tim juga menyampaikan rencana pelaksanaan program yang meliputi instalasi perangkat, pelatihan penggunaan AmerTani, pendampingan operasional, monitoring berkala, hingga evaluasi bersama masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani dalam memanfaatkan teknologi secara mandiri setelah program berakhir.
Antusiasme Masyarakat terhadap Smart Farming
Sesi diskusi berlangsung secara interaktif. Para petani menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan mengenai cara kerja perangkat, ketahanan alat terhadap kondisi cuaca, proses perawatan, hingga peluang penerapan teknologi serupa pada komoditas pertanian lainnya.
Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, peserta mengikuti Pre-Test dan Post-Test untuk mengukur peningkatan pemahaman mengenai konsep Smart Farming. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta terhadap materi yang disampaikan, menandakan bahwa proses transfer pengetahuan telah berjalan dengan baik sejak tahap awal pelaksanaan program.
Menuju Pertanian Berkelanjutan
Melalui Program AMERTA, Tim PPK ORMAWA BEM FT Universitas Udayana menargetkan pemberdayaan 51 petani asparagus di Desa Belok/Sidan, termasuk pembentukan dua kelompok tani Smart Farming yang beranggotakan 42 petani di Dusun Selantang dan Dusun Sidan. Lebih dari sekadar menghadirkan sebuah perangkat teknologi, Program AMERTA membawa harapan baru bahwa transformasi digital di sektor pertanian dapat dimulai dari desa.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi bukti bahwa inovasi akan memberikan manfaat yang lebih besar ketika dikembangkan bersama dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Di tengah berbagai tantangan pertanian akibat perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya, pemanfaatan teknologi seperti AmerTani menjadi salah satu langkah strategis menuju sistem pertanian yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui semangat kolaborasi dan inovasi, mahasiswa tidak hanya belajar dari masyarakat, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun masa depan pertanian Indonesia. (red)











