Foto: Suasana rumah duka korban penganiayaan hingga meninggal dunia di Desa Pulukan Pekutatan, Jembrana, Sabtu (15/6/2024). (Sumber: barometerbali/dika)
Jembrana | barometerbali – Peristiwa tragis menimpa seorang nenek di Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali. Saudah ditemukan tewas mengenaskan di halaman rumahnya, Jumat (14/6/24).
Korban diduga dibunuh menggunakan benda tumpul oleh pelaku yang masih satu desa dengan korban.
Warga yang mengetahui aksi penganiayaan berujung korban meninggal dunia sempat melakukan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan. Usai menganiaya nenek Saudah, pelaku melarikan diri.
Polisi dari Polsek Pekutatan dan Polres Jembrana yang bergerak cepat berhasil menangkap pelaku pembunuhan dalam waktu singkat. Pelaku diketahui bernama AF diamankan Sabtu dini hari (15/06/24)
Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP Sang Ketut Arya Pinatih, saat dikonfirmasi awak media membenarkan peristiwa pembunuhan tersebut dan menyatakan bahwa AF (Agus Fendi) telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif.
“Pelaku sudah kita amankan dan saat ini masih diperiksa secara intensif,” ungkapnya.
Menurut AKP Arya Pinatih, motif penganiayaan adalah masalah ekonomi. Pelaku melihat Saudah membawa makanan dan berusaha merampasnya, namun Saudah berusaha mempertahankan diri. Pelaku kemudian memukul Saudah dengan benda tumpul hingga tewas.
“Dugaan sementara motif ekonomi, pelaku berusaha mengambil barang korban, lalu melakukan penganiyaan hingga korban meninggal dunia, semua masih kita dalami,” jelasnya.
Kasus penganiayaan tersebut mendapat perhatian Kapolres Jembrana AKBP Endang Tri Purwanto. Kapolres bersama jajaran pejabat utama Polres Jembrana melayat ke rumah duka dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Kapolres Jembrana AKBP Endang Tri Purwanto menyatakan keprihatinannya atas kejadian tragis ini dan berharap keluarga korban diberi kekuatan serta ketabahan.
“Kami hadir di sini untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga dan masyarakat. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa depan,” pungkas AKBP Endang.
Reporter: Dika
Editor: Ngurah Dibia











