Barometer Bali | Jakarta – Gang Potlot di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, bukan sekadar gang kecil biasa. Awak media menelusuri jalan ini pada hari Sabtu 21 Maret 2026 dimana tempat ini menjadi saksi lahirnya salah satu band paling legendaris di Indonesia, Slank, dan menjadi pusat tumbuhnya berbagai musisi besar Tanah Air. Dari gang sederhana yang belum bernama, Potlot berkembang menjadi simpul kreativitas musik yang berpengaruh hingga kini.
Sejarah Gang Potlot dimulai dari kepindahan keluarga Sidharta M Soemarno dan Bunda Iffet dari Surabaya ke Jakarta. Langkah sederhana mereka membawa dampak besar, karena dari tempat ini, lahir semangat dan karya-karya besar yang mengubah wajah musik Indonesia. Gang Potlot tidak hanya menjadi rumah bagi Slank, tapi juga komunitas yang memunculkan banyak musisi hebat.
Banyak nama besar seperti Imanez, Bongky, Pay muncul dari lingkungan ini. Bahkan Anang Hermansyah, yang kini dikenal sebagai musisi dan produser papan atas, juga menapaki karier musiknya dari Potlot. Berikut sejarah gang Potlot jadi saksi bisu perjalanan penuh warna Slank.
Sidharta M Soemarno dan Bunda Iffet, orang tua dari Bimbim Slank, memutuskan untuk pindah dari Surabaya ke Jakarta demi masa depan yang lebih baik. Awalnya, mereka mengontrak rumah di Jalan Dempo 1, kawasan Kemayoran, dan menetap di sana selama kurang lebih tiga tahun.
Keluarga Sidharta kemudian memilih pindah ke sebuah gang kecil yang belum memiliki nama di daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan. Keputusan inilah yang menjadi awal dari lahirnya komunitas musik legendaris di Gang Potlot.
Di depan gang kecil yang mereka tinggali, berdiri sebuah pabrik potlot atau pensil yang menjadi penanda kawasan itu. Seiring waktu, pabrik tersebut mengalami kebangkrutan dan pemiliknya memutuskan untuk menjual tanahnya dalam bentuk kavling. Meski pabrik tersebut tutup, sang pemilik berjasa besar dengan mengaspal gang kecil tersebut sebelum menjual lahannya.
Keberadaan pabrik potlot di dekat gang membuat masyarakat sekitar akhirnya mulai menyebut kawasan itu sebagai Gang Potlot. Nama ini melekat seiring berkembangnya komunitas baru yang menempati kavling-kavling tersebut. Gang Potlot pun perlahan mulai dihuni oleh berbagai pendatang yang membawa warna baru ke lingkungan tersebut.
Rumah keluarga Bimbim di Gang Potlot kemudian menjadi tempat berkumpulnya para remaja yang memiliki kecintaan terhadap musik. Sejak tahun 1983, tempat ini menjadi saksi bagaimana anak-anak muda seperti Imanez dan Bongky menghabiskan waktu mereka untuk bermain musik bersama. Semangat berkarya mulai tumbuh kuat di lingkungan tersebut.
Melihat antusiasme anak-anak muda yang semakin besar, Bunda Iffet mengambil langkah penting dengan membangun sebuah studio musik sederhana di area rumah. Studio ini memberikan ruang bagi kreativitas anak-anak, termasuk Bimbim dan Massto. Keberadaan studio ini menjadi titik awal lahirnya komunitas musik yang kreatif di Potlot.
Studio sederhana di rumah keluarga Bimbim melahirkan berbagai band, seperti Band Lovina, yang digawangi oleh Massto dan Kaka, serta Lemon Tea yang dipimpin oleh Oppie dan Bimbim. Lovina dan Lemon Tea ini yang kemudian menjadi cikal bakal ekosistem musik kreatif Potlot.
Pada akhirnya, Bimbim mengajak Kaka untuk membentuk Slank pada akhir tahun 1990. Tepatnya menjelang peluncuran album perdana Slank. Awalnya, Kaka hanya berjanji bertahan dua tahun, namun perjalanan bersama Slank membawanya terus bertahan hingga hari ini.
Seiring bertambahnya popularitas, Slank memperluas kiprahnya ke dunia internasional dengan tampil di Amerika Serikat dan Jepang. Gang Potlot, yang dulunya hanya sebuah gang kecil, kini menjadi markas besar Slank dan simbol lahirnya berbagai talenta musik besar di Indonesia. Dari tempat inilah, semangat bermusik Slank terus menyala hingga hari ini. (redho)










